October 12, 2016

Wejangan Wayang Wong

Wayang Wong Bali mengangkat lakon Ramayana. Selain jadi tontonan juga mengajarkan banyak tuntunan.....

gambar wayang wong bali
SENDRATARI cuma akronim dari ‘seni’, ‘drama’ dan ‘tari’ yang dipopulerkan tokoh seni pentas, sastra dan film bernama Anjas Asmara. Dalam konteks berkesenian, sendratari adalah sebuah pertunjukan yang digagas GPH Djatikoesoemo dari Yogyakarta.

Di Bali, I Wayan Beratha mesti ditempatkan sebagai kreatornya, karena mengintrodusir kesenian baru bernama Sendratari Wayang Wong Bali. I Wayan Beratha pernah mengangkat legenda Buleleng, Jayaprana, sebagai lakonnya.


Beberapa tahun kemudian, munculah sendratari lain yang mengangkat kisah babad dan sejarah Bali serta cerita-cerita rakyat dari luar Bali. Dan respon masyarakat sangat positif. Karenanya pada 1965, Beratha menciptakan Sendratari Wayang Wong Bali berikutnya dengan kisah Ramayana.

Cerita pewayangan lain yang jadi lakon sendratari adalah Mahabrata. Drama tari yang memainkan cerita ini dikenal dengan Sendratari Wayang Wong Parwa. Jadi meski sama-sama diiringi gamelan batel wayang, pengertian Sendratari Wayang Wong Bali merujuk pada drama tari yang memainkan kisah Ramayana.

Para pemain Sendratari Wayang Wong Bali juga memakai topeng dan berdialog dengan bahasa yang berbeda. Penari utamanya menggunakan bahasa Kawi, sementara para punakawan memakai bahasa Bali. Pada beberapa adegan, para penari juga menembangkan bait-bait penting dari Kakawin.


Berdasarkan jumlah penarinya, secara umum pertunjukan Wayang Wong dapat dibedakan menjadi dua jenis: sendratari berukuran kecil dan sendratari berskala besar. Sendratari mini biasanya dibawakan oleh sekitar 10 sampai 25 orang penari. Sedangkan sendratari kolosal melibatkan antara 50 sampai 150 orang penari.

Sejauh ini tak ada ketentuan pasti berapa jumlah penari dalam Sendratari Wayang Wong Bali. Pilihan atas jumlah penari itu disesuaikan dengan kebutuhan saja. Yang pasti semakin banyak penarinya, bisa diduga bakal semakin meriah jugalah atraksinya.

Baik yang mini maupun yang kolosal, tontonan Wayang Wong Bali tetap sarat wejangan atau tuntunan. Kesenian ini tidak hanya mampu menghibur hati, tetapi juga memberi pedoman hidup tentang benar dan salah misalnya. Juga bisa menyambungkan nalar dan rasa, menghubungkan alam sekala dan niskala.

Sesuai jaman Sendratari Wayang Wong Bali memang tak lagi seperti aslinya. Misalnya, baik pada lakon Jayaprana maupun Ramayana, I Wayan Beratha memberi porsi lebih besar pada para penari dalam keseluruhan bangunan cerita. Sementara dalang hanya menuturkan narasi-narasi aksentuatif.

Belakangan peran dalang itu tampaknya makin dominan. Dalang bukan lagi jadi pelengkap, tapi menggerakkan seluruh penari juga jalan ceritanya. Kreativitas dan inovasi dalam berkesenian memang tak berbatas.

Meski begitu banyak pihak mengingatkan, kebebasan berimprovisasi tetap saja ada toleransinya. Dan untungnya wajah baru Sendratari Wayang Wong Bali masih dalam koridor itu. (Y. Ahdiat; foto dari Sibw)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment