October 13, 2016

Syiar Wayang Sasak

Wayang Sasak Lombok banyak mengajarkan pesan kehidupan. Apa saja kekhususan Wayang Sasak Lombok.....?

gambar wayang sasak lombok
SUDAH tujuh tahun kemarau panjang menghantam bumi Sasak. Air sungai mengering, tanah memecah, pepohonan meranggas. Yang kelaparan tidak terhitung, yang penyakitan tidak terbilang. Banyak doa sudah dirapalkan, banyak upacara telah dilaksanakan.

Tetapi pemula kisah Wayang Sasak Lombok pada sekitar abad ke-16 itu tak kunjung sudah. Maka para raja dan pembesar di seantero Lombok kemudian bermusyawarah mencari jalan keluarnya. Lalu dititahlah Datu Perigi untuk memohon petunjuk dari para dewa yang bersemayam di Gunung Rinjani.


Sewaktu bersemedi, ia melihat sesosok pria berjubah putih mewujud tepat di hadapannya. Asal permintaannya dipenuhi, tamu misterius ini berjanji akan menghentikan segala bencana tersebut. Apakah Wayang Sasak syarat yang dimaksud?

Pria yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Sangupati itu tidak meminta Wayang Sasak. “Setiap orang yang diberikan obat penawar penyakit, terlebih dulu harus mengucapkan dua kalimat syahadat dan menerima Islam sebagai agama mereka yang baru,” katanya.

Tanpa berpikir dua kali, Datu Perigi langsung menyanggupi permintaan tersebut. “Setuju,” jawabnya, singkat. Ia lalu tersadar setelah menerima obat penawar penyakit. Kemudian Datu Perigi membagikan obat itu kepada yang membutuhkan.

Singkat kata, setelah minum obat itu  kesehatan penduduk berangsur-angsur pulih. H\hujan juga mulai membasahi tanah. Tentu saja seluruh penduduk bersukacita. Sebagai tanda syukur, maka digelarlah Gawe Mangajengan untuk merayakan perubahan identitas baru mereka sebagai muslim.

Acara ini dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit yang kelak disebut Wayang Sasak dengan Sangu Urip Pati Atu sebagai dalangnya. Sekilas Wayang Sasak mengingatkan pada wayang kulit seperti dikenal di Jawa. Karenanya mungkin saja wayang kulit Sasak memang dibawa oleh para wali asal Jawa.


Sekadar informasi, bahwa Pangeran Sangupati sejatinya adalah murid Sunan Kalijaga. Dan tokoh yang disebut terakhir itu dikenal sebagai sunan yang kerap menggunakan beragam bentuk kesenian termasuk wayang ketika menyebarluaskan ajaran agama Islam.

Tampaknya Wayang Sasak juga menjadi media dakwah yang sangat efektif. Lakon yang dibawakan dalam pertunjukan wayang ini, mengutip Emiliana Mariah dalam Wayang Menak Sasak, bahkan merujuk pada kitab bernuansa Islam, Qissa I Emr Hamza.

Di tanah Melayu, karya sastra Persia pada era Pemerintahan Sultan Harun Ar-Rasyid (766-809 M) itu dikenal sebagai Hikayat Amir Hamzah. Sementara transliterasinya dalam bahasa Jawa disebut dengan Serat Menak.

Jadi Wayang Sasak tak bercerita tentang kisah Ramayana atau Mahabarata. Tapi ihwal peri kehidupan Amir Hamzah, paman Nabi Muhammad SAW, yang memperjuangkan syiar Islam pada masanya.

Itulah tokoh bernama Wong Agung Menak Jayengrana seperti ditulis Serat Menak. Sebutan lain untuk Amir Hamzah dalam pewayangan di antaranya adalah Wong Agung, Jayeng Rana, Wong Menak, Ambiyah, dan Sang Menak Jayeng Murti.

Kitab sastra islami seperti Serat Menak itu, menurut HJ de Graaf, disebarkan melalui Gresik dan Surabaya sebagai pusat ekonomi dan syiar Islam di Jawa. Lalu, kata peneliti Belanda itu, melalui kontak dagang dan penyebaran Islam, karya sastra itu menyebar ke berbagai penjuru Nusantara termasuk Lombok.

Dari sinilah, mungkin, Wayang Sasak Lombok memulai jejaknya hingga sekarang. (Y. Ahdiat; foto dari Vivanews)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment