October 11, 2016

Ruang Ekspresi Kabhanti

Kabhanti merupakan bentuk sastra lisan orang Muna. Kabhanti punya banyak jenis sesuai kegiatannya.....

gambar tradisi kabhanti muna
SEBUAH bukit karang berdiri gagah di selatan jazirah Sulawesi Tenggara. Karena bentuknya serupa bunga, penduduk sekitar menyebutnya sebagai wuna.

Menurut peneliti asal Belanda bernama Jules Couvreur, kata wuna dalam bahasa Muna memang searti dengan bunga. Karena itulah daerah di sekitarnya disebut Tanah Wuna atau Pulau Muna. Dan di tempat inilah suku Muna mengembangkan sastra lisan berupa tradisi kabhanti.


Banyak ahli yang mencoba merumuskan pengertian karya sastra orang Muna itu. La Niampe dalam Kabhanti Bula Malino: Kajian Filologi Sastra Wolio Klasik, mengatakan bahwa kabhanti merupakan kata bentukan dari morfem pembentuk kata benda ka dan kata dasar bhanti.

Merujuk pada proses pembentukan kata itulah, ahli filologi ini mengatakan bahwa sastra lisan kabhanti yang berkembang di Tanah Wanua itu bentuknya seperti puisi.

Pengertian senada juga disampaikan oleh J.C. Anceaux. Dalam The Wolio Language: Outline of Grammatical Deskription and Texts, selain mengartikannya sebagai puisi Anceaux menyebutkan makna lainnya yaitu sajak atau nyanyian.

Sementara itu pemerhati kebudayaan Muna La Mokui dalam Kabhanti Wuna, menegaskan bahwa arti kabhanti bisa juga sastra lisan berbentuk pantun. Masih menurut La Mokui, seperti dikutip oleh Hadirman dalam Fungsi dan Penyusutan Pertunjukan Kabhanti Muna, fungsinya ada tiga macam:

Pertama, sindiran bersifat kritik terhadap keadaan, pandangan, sifat, atau sikap seseorang atau segolongan manusia. Kedua, ungkapan isi hati atau perasaan yang mengandung permohonan atau penolakan suatu permohonan. Ketiga, balasan terhadap sindiran.


Sesuai kegiatan yang terjadi di belakangnya, sejauh ini dikenal empat jenis pantun khas orang Muna ini. Pertama adalah kabhanti kantola yang ditemukan pada saat permainan kantola. Jenis ini dimainkan oleh pria dan wanita yang saling berhadapan. Biasanya dihelat malam hari selepas panen ubi kayu atau ubi jalar.

Selanjutnya adalah kabhanti watulea yang berkembang di kampung Watulea di Muna bagian selatan. Jenis yang kedua ini menjadi kegiatan selingan sekadar untuk melepas penat, atau untuk mengusir sepi pada waktu kegiatan menebas hutan atau berkebun.

Jenis lainnya adalah kabhanti gambusu, yakni pantun yang dinyanyikan sambil diiringi oleh petikan dawai alat musik gambus. Dan yang terakhir adalah kabhanti modero, yakni berpantun saat menari modero dalam sebuah formasi berbentuk lingkaran.

Mengutip La Mokui, tradisi kabhanti bisa mendekatkan hubungan masyarakat; mewariskan kearifan bahasa dan ekologi; memberikan informasi pembangunan, agama, atau nasihat; juga untuk memperluas pergaulan khususnya bagi kaum muda.

Kabhanti memang menjadi ruang ekspresi sangat penting bagi masyarakat di Tanah Wuna. (Y. Ahdiat; foto dari Greatbuton)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment