October 10, 2016

Harga Diri Tikar Bidai

Fungsi asali Tikar Bidai tak jauh-jauh dari urusan alas. Dalam konteks budaya Titikar Bidai bisa menjadi harga diri.....

gambar tikar bidai dayak
DI mana saja fungsi tikar itu, termasuk tikar bidai, tak jauh-jauh dari urusan alas: bisa untuk duduk, tidur, atau menyebarkan sesuatu di atasnya. Kalaupun ada bedanya, pastilah tipis saja.

Bahannya juga tak jauh-jauh dari anyaman daun pandan, rotan, eceng gondok, atau kulit kayu. Yang modern paling-paling berbahan kain, karet atau plastik. Walaupun ada bedanya, pastilah sedikit saja.

Tetapi, ketika ‘tikar’ berkawin dengan kata lain, jadi beda juga ceritanya. ‘Gulung tikar’ misalnya, bukan berarti menggulung tikar sungguhan. Istilah itu sebenarnya menggambarkan kehabisan modal atau kebangkrutan yang dialami seseorang.


Pun kalimat ‘lepas bantal berganti tikar’, sama sekali bukan bermakna menukar bantal dengan tikar. Maksud dari peribahasa itu adalah menikahi istri atau suami kakak atau adik yang sudah meninggal.

Dalam konteks budaya yang lain seperti tradisi, ritual, atau upacara adat, makna tikar bahkan jauh lebih kompleks. Ketika orang Dayak menggelar prosesi Ngampar Bidai dan Gulung Bidai contohnya, secara kasat mata kegiatannya memang menghamparkan (ngampar) tikar bidai dan menggulung tikar.

Cuma prosesi yang dilakukan di Rumah Betang menjelang digelarnya gawai atau hajatan besar adat Dayak itu juga punya dimensi spiritual. Ngampar Bidai sesungguhnya adalah ritual meminta (bepinta) sekaligus memberi tahu (bepadah) kepada Jubata atau Tuhan supaya pesta adat mereka mendapatkan kemudahan.

Acara gelar tikar bidai itu diawali dengan doa bersama (nyangahatn manta atau bapipis), lalu meminta perlindungan pada penjaga Rumah Betang (bapadah kapanyuku atau pantak pantulak), dan diakhiri dengan doa puncak (nyangahatn masak).


Bentuk tikar bidai baik dalam Ngampar Bidai maupun Gulung Bidai atau upacara sesudah berlangsungnya sebuah pesta adat, tak lain adalah sejenis tikar pada umumnya. Bahan dasar seni kriya orang Dayak Bekati ini adalah rotan dan kulit kayu kapoa yang dianyam sedemikian rupa hingga berbentuk lembaran.

Ada bidai yang polos, tapi ada juga bidai yang kaya motif hias dan berwarna pula. Soal ini tergantung selera saja tampaknya. Apapun jenisnya, proses pembuatan tikar bidai tak bisa dibilang gampang. Batang rotan terlebih dahulu mesti dibelah-belah, diraut tipis, sekalian dihaluskan.

Sesudahnya, jika mau diberi warna hitam misalnya, sehari penuh bilah-bilah tipis batang rotan itu harus direbus bersama daun jengkol, kulit dan daun rambutan, serta serbuk kayu. Supaya warnanya makin pekat, kemudian direndam dalam lumpur selama sepekan.

Proses pemilihan dan pengolahan kulit kayu kapoa juga sama rumitnya. Dalam hal ini orang Dayak menebang kayu berdiameter 10-15 centimeter dan tingginya sekitar 5-7 meter ini pada pangkalnya, sehingga bisa tumbuh tunas baru dan bisa ditebang lagi pada 1-2 tahun kemudian.

Sebelum digunakan, kulit kayu kapoa terutama bagian dalamnya harus dijemur dan dihaluskan dengan cara memukul-mukulnya menggunakan palu kayu. Hasil olahan rotan dan kayu kapoa ini kemudian dianyam dan dijemur supaya tambah mengkilat.

Setelah itu bidai baru bisa dipakai. Bisa untuk menjemur padi atau sekadar alas duduk saja, sesuai dengan fungsi asalinya. Tetapi ketika ditempatkan dalam konteks budaya, fungsi tikar bidai itu bisa meluas menjadi identitas, karakter, bisa juga harga diri.

Maka jangan coba-coba mengaku-ngaku apalagi merampas tikar bidai dari kebudayaan Dayak, khususnya suku Bekati. (Y. Ahdiat; foto dari Bumikalimantan)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment