October 14, 2016

Seni Perang Sultan Ternate

Tari Soya Soya melukiskan heroisme. Inilah seni perang ciptaan Sultan Baabullah dari Ternate.....

gambar tari soya soya dari ternate
GUBERNUR Portugal Lopez de Mesquita ibarat serigala berbulu domba. Ia seperti bermuka dua. Lain di bibir, lain di hati. Karena kelicikannya, Sultan Baabullah (1570-1583) dari Kesultanan Ternate mengobarkan Perang Soya Soya.

Karena keculasannya itu seluruh rakyat dari Kerajaan Gapi mengusir Portugal dan antek-anteknya. Peristiwa sejarah ini terekam dalam Tari Soya Soya.


Lopes de Mesquita memang pernah kehabisan cara menghadapi Sultan Khairun (1534-1570) yang menolak keras Ternate berubah menjadi Kerajaan Kristen dan menjadi jajahan Portugal. Lalu diundanglah Sultan Khairun ke Benteng Nostra Senora del Rosario untuk berdamai.

Atas perintah de Mesquita, Sultan Ternate ke-23 itu malah dibunuh. Tragedi ini tentu saja makin memantik kebencian Kesultanan Ternate dan rakyatnya pada Portugal. Berkat dukungan raja-raja dan kepala suku dari wilayah Maluku lainnya, Papua, juga Sulawesi, Sultan Baabullah memaklumkan jihad.

Dibantu oleh para panglima istimewa seperti Kapita Kapalaya, Kapita Kalakinka dan Kapita Rubuhongi, segala senjata dan amunisi disiapkan. Pengganti Sultan Khairun ini sedikitnya mengerahkan dua ribu kora-kora dan 120 ribu prajurit.

Satu per satu benteng-benteng pertahanan Portugal seperti Tolucco, Santo Lucia dan Santo Pedro diduduki. Tapi meski dibakar dendam, Sultan Baabullah tak membabi-buta. Tarikan nafas Lopez de Mesquita dan orang-orangnya tak disudahi begitu saja.


Sultan Ternate ke-24 itu hanya mengurungnya di balik tembok benteng dan memutus hubungan mereka dengan dunia luar hampir lima tahun lamanya. Saking sengitnya perlawanan, pada 15 Juli 1575 Portugal akhirnya menyerah kalah.

Dan di bawah pemerintahaan Sultan Baabullah, Kesultanan Ternate mencapai puncak kejayaannya sekaligus menjadi salah satu Kerajaan Islam yang disegani. Wilayah kekuasannya meliputi 72 pulau berpenghuni yang tersebar di wilayah timur Nusantara, selatan Mindanao dan Kepulauan Marshall.

Selain adil dan bijaksana, ia juga dikenal sebagai pencipta Tari Soya Soya yang menggambarkan peperangan antara Kesultanan Tertane dan Portugal pada abad ke-16 itu. Tarian ini dimaknai sebagai tarian perang pembebasan rakyat Tertane dari cengkeraman penjajah.

Karena itulah di dalamnya banyak ditemukan gerakan-gerakan menyerang, mengelak dan menangkis. Para penarinya yang bisa mencapai ribuan orang dengan kostum warna putih dan kain sambungan serupa rok, juga mengenakan taqoa atau ikat kepala kuning sebagai simbol prajurit perang.

Perlengkapan Tari Soya Soya juga makin menegaskan bahwa tarian ini memang melukiskan patriotisme pantang menyerah. Ngana-ngana (pedang) dan salawaku (perisai) misalnya, sudah cukup menjadi bukti bahwa tarian ini memang sangat heroik.

Inilah tarian yang biasa diiringi tifa (gendang), saragai (gong) dan tawa-tawa (gong kecil). Inilah seni perang Sultan Ternate alias Tari Soya Soya. (Y. Ahdiat; foto dari Rishbadjiser)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment