October 14, 2016

Sopi Mati Tari Seka

Tari Seka atau Ehe Lawn adalah tarian menjelang perang. Tari Seka berkembang di Pulau Masela.....

gambar tari seka besar dari masela
KOWJER Penaonde cuma orang kebanyakan. Sehari-harinya penduduk kampung Kalewn ini cuma mengangon kambing di sekitar hutan, tak jauh dari rumahnya. Satu ketika, karena suka bertingkah aneh, ia disangka kemasukan setan. Ia bahkan pernah dianggap neploa.

Belakangan anggapan itu terbantahkan, sebab Kowjer ketika itu sebenarnya sedang menirukan gerakan-gerakan segerombolan kambing. Kelak tingkah Kowjer ini rupanya menjadi cikal-bakal gerakan-gerakan tarian yang dikenal sebagai Tari Seka. Bagaimana bisa?


Sewaktu mencari hewan peliharaannya yang hilang, pandangan Kowjer terhenti pada sebuah pipnukra di bawah pohon beringin yang rindang. Di tempat ini ia melihat sekelompok kambing tengah melompat, menyepak, menyeruduk dan menanduk. Kambing-kambing ini juga seperti menyanyikan sebuah lagu.

Sejak menyaksikan kejadian itulah perilaku Kowjer jadi berubah. Sambil bernyanyi ia sering terlihat melompat, menyepak, menyeruduk juga menanduk seperti menirukan gerakan kambing. Selidik punya selidik ia rupanya sedang menciptakan sebuah tarian dan lagu.

Tarian kreasinya itu dinamai Tari Seka atau Ehe Lawn. Secara bahasa 'seka' atau 'ehe' berarti sepak, gerak, atau tari. Sementara 'lawn' berarti besar. Lagu karya Kowjer sendiri diberi judul Pipyo Mkyalimyese Wullyo atau Lihatlah Betapa Indahnya Buluh Kambing Itu.

Pola dasar gerakan tarian yang diiringi alat musik praya iw lora atau Tifa ini terletak pada kelincahan kaki-kaki para penarinya.


Seiring waktu Tari Seka berkembang menjadi bagian penting dan dianggap sakral oleh masyarakat etnik Masela di kampung Babyotan, Telalora dan Iblatmumtah, Maluku Barat Daya. Tarian ini menjadi penyemangat bagi para pejuang yang hendak perang.

Sebelum para prajurit itu berperang terlebih dulu diadakan upacara Sopi Mati. Upacara adat yang digelar malam hari ini berintikan sumpah setia para pejuang untuk bertarung sampai titik darah penghabisan dan bersatu-padu dalam menghadapi serangan musuh.

Esok harinya praya iw lora ditabuh berulang-ulang di tengah-tengah kampung. Para para prajurit dan masyarakat bergegas datang sebelum mengelilingi Tifa besar itu. Sambil menghadap ke timur, kemudian tetua adat  memanjatkan doa-doa. Ia juga mengedarkan sopi (tuak) untuk diminum oleh para pejuang.

Selepas itu nyanyian kebesaran adat (tyarka) ditembangkan. Tari Seka terus dimainkan mengiringi keberangkatan para prajurit kampung. Setelah perang, para pejuang ini juga akan disambut dengan upacara minum sopi dan prosesi lain yang hampir serupa.

Saat ini prosesi adat menjelang perang sungguhan itu memang sudah ditinggalkan. Meski begitu Ehe Lawn yang diciptakan oleh Kowjer Penaonde tetap menjadi salah satu identitas khas penduduk Babyotan, Telalora dan Iblatmumtah.

Semangat, kekuatan dan kekompakan yang tersirat dalam gerak Tari Seka tetap dijunjung tinggi oleh masyarakat etnik Masela. (Y. Ahdiat; foto dari Kebudayaan)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment