October 14, 2016

Konsep Imam Tari Saman

Tari Saman merefleksikan kebudayaan Gayo dan Aceh. Pelajaran penting lainnya dari Tari Saman.....?

gambar tari saman gayo lues aceh
TARI Saman dan masyarakat Gayo Lues, Aceh seperti dua sisi dari sekeping mata uang. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Bagi masyarakat yang tinggal di gugusan pegunungan Bukit Barisan ini, menari Saman tak ubahnya seperti berjalan atau berlari.

Tak heran, seperti pernah dikatakan budayawan Jauhari Samalanga kepada The Atjeh Post, jika hampir semua kalangan bisa menarikan hasil karya Syekh Saman ini. Ulama besar ini, sekitar abad ke-13 memodifikasi permainan rakyat Pok Ane menjadi media dakwah bernama Tari Saman.


Karenanya disisipkanlah syair-syair berbahasa Arab juga Gayo yang berisi nasihat, petuah dan sejenisnya ke dalam permainan rakyat itu. Hasilnya adalah sebuah bentuk tarian yang didominasi oleh gerakan-gerakan tepuk dada dan tepuk tangan.

Karena kekhasannya itulah Tari Saman hanya boleh dimainkan atau ditarikan oleh para sebujang alias kaum Adam. Sebabnya agak kurang elok rasanya jika tarian yang terkesan sangat gagah dan dinamis ini dibawakan oleh kaum Hawa atau para seberu.

Tari Saman mulai dikenal publik nasional ketika dipentaskan pada acara pembukaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada tahun 1975. Waktu itu penggagas TMII, Raden Ayu Siti Hartinah atau Tien Soeharto, minta ditampilkan sebuah tarian daerah yang sangat unik.

Rupanya Saman memenuhi kriteria itu. Ibu Negara Republik Indonesia itu bahkan sangat terpesona. Sampai-sampai ia menyebut tarian ini sebagai Tari Tangan Seribu. Menonton pertunjukan Tari Saman memang seperti menyaksikan gerak lincah dan cepat tangan-tangan para sebujang.


Dalam gerak tangan itu tersirat makna kesabaran, kekompakan, kebersamaan, dan taat aturan. Nilai-nilai itu juga dipatuhi sewaktu para penari Saman menembangkan rengum, dering, redet, syekh dan saur. Jika tidak, minimal benturan tangan pasti terjadi. Irama nyanyian pun tidak harmonis.

Seperti tari Aceh lainnya, Tari Saman dimainkan secara berjamaah. Tari Likok Pulok misalnya ditarikan delapan sampai dua belas orang. Kemudian Tari Ranub Lampuan dimainkan oleh enam atau delapan orang. Saman sendiri bisa dimainkan oleh 10 penari, bahkan pernah ditarikan oleh ribuan orang.

Karena jumlah penari yang banyak itulah, peran pemimpin dalam setiap tarian Aceh menjadi vital. Kehadiran syekh (pemimpin) atau aneuk syekh (asisten syekh) dalam Tari Saman misalnya, mengingatkan pada konsep imam dalam ritual keagamaan atau ulama dan umara dalam kehidupan sehari-hari.

Sesuai konsep itu maka setiap makmum mestilah mengikuti imam. Setiap rakyat haruslah taat pada ulama dan umara. Kata Margaret Kartomi dalam Some Implications of Local Concepts of Space in The Dance, Music, and Visual Arts of Aceh, inilah yang disebut  “…the central point-in-a-circle concept of space…”

Konsep besar yang merujuk pada syariat Islam itu juga terpersonifikasi pada peran syekh dan aneuk syekh. Jika tidak Tari Saman yang diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia akan kehilangan identitasnya. (Y. Ahdiat; foto dari Atjehpost)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment