October 10, 2016

Kesumat Ronggeng Gunung

Tari Ronggeng Gunung berkembang di Ciamis Jawa Barat. Hubungan Tari Ronggeng Gunung dengan dendam Dewi Samboja.....?

gambar tari ronggeng gunung
DEWI Siti Samboja layak disebut istri luar biasa. Ia benar-benar menjaga harga diri serta menjunjung tinggi marwah pasangan hidupnya. Ketika Raden Anggalarang tewas di tangan begundal pimpinan Kalasamudra, ia berang bukan kepalang.

Segala cara dilakukan, segala usaha dikerjakan demi menebus kematian suaminya itu. Asal tunai maksudnya, jadi peronggeng Tari Ronggeng Gunung pun dilakoninya.


Dewi Siti Samboja memang bukan orang kebanyakan. Ia adalah seorang ningrat dari Keraton Galuh Pakuan Padjajaran. Mengutip tesis Yanti Heriyawati yang bertajuk Doger dan Ronggeng, Dua Wajah Tari Perempuan di Jawa Barat, Dewi Samboja adalah putri ke-38 dari Prabu Siliwangi.

Sesuai wangsit dari ayahnya ia mengubah namanya menjadi Dewi Rengganis. Lalu ia menyaru sebagai waranggana Tari Ronggeng Gunung.

Bersama rombongan Tari Ronggeng Gunung yang terdiri dari pengibing, penyintren dan penabuh gamelan, ia mendatangi sejumlah kampung. Ia juga mendaki sejumlah bukit dan gunung. Pada sebuah kesempatan, akhirnya ia bisa bertemu dengan Kalasamudra.

Bukan cuma itu, preman kakap pada masa itu juga ikut nimbrung menari ronggeng. Di bantu para pengibing yang sudah dipersenjatai, Dewi Samboja akhirnya berhasil membalaskan dendamnya.

Legenda itu diperkuat oleh reruntuhan Candi Pamarican, di Ciamis yang ditemukan pada 1977. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai Candi Ronggeng dan meyakini ada kaitannya dengan Tari Ronggeng Gunung.

Soalnya, di sekitarnya ditemukan pula arca nandi dan batu berbentuk kenong (gong kecil). Menurut kabar, pada hari-hari tertentu di lokasi candi ini sering kali terdengar bunyi gamelan pengiring pertunjukan ronggeng.


Format pertunjukan Tari Ronggeng Gunung di Ciamis memang dianggap serupa dengan kejadian ketika Dewi Samboja bersama rombongan meronggeng di depan para begundal kelompok Kalasamudra.

Dewi Samboja yang berselendang panjang sebagai penari utamanya, dikelilingi para pengibing pria yang menutupi kepalanya dengan kain sarung, sehingga cuma bola matanya yang terlihat. Beragam senjata tajam diselipkan di balik sarung itu.

Tapi meski formatnya sama, masyarakat Ciamis menggunakan tarian ini sebagai bagian dari upacara adat. Versi mitologi Sunda, Dewi Samboja atau Dewi Rengganis itu tidak lain adalah Nyai Pohaci Sanghyang Asri sebagai dewi kesuburan, dewi padi, atau dewi sawah.

Karenanya pertunjukan Tari Ronggeng Gunung dianggap sebagai simbol kegiatan Sang Dewi sewaktu bersawah. Mulai dari ngaseuk, sapangjadian pare, mapag pare beukah, sawenan, sampai mipit.

Karenanya meski berlatar dendam pentas Tari Ronggeng Gunung yang pernah populer sampai akhir tahun 1980-an ini bebas dari unsur kekerasan. Kesenian ini cuma salah satu bentuk rasa syukur masyarakat Sunda atas keberkahan dan kemakmuran yang mereka rasakan.

Itulah sebabnya, tari ini juga kerap ditanggap pada perhelatan lain seperti pesta pernikahan, acara sunatan, atau seremoni bernuansa kenegaraan.

Jadi, alih-alih sebagai tarian peragaan pembunuhan, Ronggeng Gunung saat ini malah terlihat sedang “dibunuh” pelan-pelan.

Hingar-bingar jaman, seperti menyarungi keindahan gerak dan amanat budaya yang disampaikannya. Mudah-mudahan Tari Ronggeng Gunung tidak benar-benar turun gunung.(Y. Ahdiat, foto dari Jejak2wisata)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment