October 1, 2016

Tari Rego Suku Kulawi

Tari Rego ditampilkan dalam upacara-upacara adat. Tingkah polah rusa hutan jadi inspirasi gerakannya.....

foto tari rego dari kulawi
LANGKAH kaki petani yang sedang berburu itu terhenti begitu saja, ketika ia dikejutkan oleh kegaduhan yang terjadi di tengah rimba belantara yang biasanya diam. Meski sedikit takut, rasa penasarannya tak mampu dihentikannya.

Maka sambil mengendap-ngendap, didekatinya sumber keriuhan itu. Dari balik semak-semak, pandangannya tertuju pada sekawanan rusa yang sedang bertingkah. Beberapa rusa melenguh keras-keras bersahut-sahutan. Yang lainnya berjingkrak-jingkrak, menghentak-hentakkan kakinya ke tanah.


Sekilas gerombolan rusa itu seperti sedang menembangkan nyanyian alam nan melodius sambil bergerak lincah nan ritmis. Sejak menonton pentas tarian itu, ketakutan paman petani pelan-pelan mulai reda. Diam-diam ia malah sangat menikmatinya.

Sesudahnya ia bahkan mencontohnya menjadi sebuah permainan khas masyarakat suku Kulawi di Sulawesi Tengah. Tak diketahui pasti siapa gerangan nama petani itu. Tetapi, cerita rakyat setempat menyebutkan, memang begitulah asal mula kisah Tari Rego yang dikenal sampai sekarang.

Tarian tanpa musik pengiring ini dimainkan oleh berpasang-pasang pria-wanita yang membentuk formasi lingkaran. Tarian akan dimulai setelah totua ngata mencabut guma dari pinggangnya. Sambil merapalkan doa, tetua adat lalu menempelkan parang itu ke atas kepala salah satu penari.

Tangan-tangan para penari, selanjutnya saling bertautan sedemikian rupa. Seterusnya, perlahan-lahan kaki-kaki mereka mulai bergerak: maju dan mundur. Gerakan itu makin bertenaga seiring para penari itu melagukan syair-syair pujian sambung-menyambung.


Pada bagian tertentu, sementara penari wanita menekuk lutunya, para penari pria begitu semangatnya menghentak-hentakkan kaki mereka ke bumi. Selain untuk membangunkan benih-benih tanaman, gerakan ini adalah simbol permohonan kepada tupu tana kiranya melimpahkan keberkahan berupa kesuburan dan hasil tanam yang melimpah-ruah.

Tari Rego memang menjadi bagian penting dalam upacara adat menjelang dan sesudah musim panen (vunja ada mpae). Di luar itu juga kerap dimainkan saat berlangsungnya seremoni pernikahan (halia todea), upacara kematian (powutu), ritual tolak bala (potapahi tana), juga pesta peresmian rumah adat (pompede lobo).

Tarian yang sudah berkembang jauh sebelum agama Islam dan Kristen masuk dan menyebar di Kulawi ini tampaknya tergolong sakral. Tak heran bila Tari Rego hanya dimainkan pada acara-acara tertentu. Tetapi karena alasan tertentu, beberapa saat tarian ini sempat dipersoalkan dan kehilangan pamor.

Beruntung beberapa tokoh adat dan pemuka agama akhirnya menemukan kata sepakat. Demi menjaga dan melestarikan warisan leluhur, mulai 1952 Tari Rego boleh dimainkan lagi. (Y. Ahdiat; foto dari Bacanisa)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment