October 3, 2016

Musim Tari Maengket

Tari Maengket adalah kegiatan selingan saat mapalus. Tari Maengket bisa mengundang roh leluhur....

gambar tari maengket
DULU namanya Malesung. Karena seketuruan dari Toar Lumimuut, maka terjadilah (mina) persatuan (esa). Sehingga nihillah perbedaan di antara subetnik Tontemboan, Tombulu, Tonsea, Tondano, Tonsawang, Ponosakan, Pasan, dan Bantik.

Menyusul proses itu, sebutan Malesung lalu berganti menjadi Minaesa. Seterusnya, karena proses bahasa, Minaesa berubah lagi menjadi Minahasa. Inilah suku terbesar di Sulawesi Utara yang menggantungkan kehidupannya dari bercocok tanam, di ladang atau di sawah.


Demi meringankan beban pekerjaan sesamanya, mereka mengembangkan sistem kerjasama yang berpijak pada prinsip ringan sama dijinjing berat sama dipikul. Tradisi mapalus ini sebetulnya bisa dilakukan dalam segala kegiatan. Cuma gotong royong ala Minahasa lahir dari aktivitas bertani atau berkebun.

Bunyi tambur, tetengkoran, dan gong lazimnya menjadi penanda akan dimulainya mapalus. Para warga yang mendengarnya, bergegas menuju ke tempat yang telah ditentukan. Sewaktu bekerja, sekadar mengusir penat, beberapa di antara mereka bernyanyi riang berbalas-balasan.

Sambil bepegangan tangan dalam formasi tertentu, beberapa yang lainnya bergerak lincah ke kiri ke kanan, ke depan juga ke belakang. Lagaknya bak penari sungguhan saja. Kegiatan selingan saat mapalus ini ternyata merupakan cikal-bakal Tari Maengket yang dikenal sekarang.

Seperti sebutannya, gerak dasar tarian ini adalah mengangkat tumit naik turun (engket). Tetapi tari maengket bukan cuma seni gerak, sebab di dalamnya juga terdapat unsur seni suara. Perpaduan keduanya bukan hanya indah secara artistik, tapi juga kontemplatif secara spiritual.


Sekadar dimaklumi, Tari Maengket adalah bagian penting dari ritual orang Minahasa ketika musim manempo (Tontemboan), mangapu ( Tonsea), atau masambo (Tondano).

Saat musim petik padi ini, Maengket diperlakukan sebagai sumempung untuk mengundang roh para leluhur dan memuji Opo Empung (Tuhan) dan mangalei untuk memohon berkah dan perlindungan dari para dewa.

Upacara petik padi sendiri berlangsung selama 28 berhari-hari berturut-turut. Puncaknya terjadi pada saat bulan purnama. Ada tiga babak Tari Maengket yang dimainkan sepanjang prosesi ini.

Pertama, tujuh hari menjelang bulan purnama, masyarakat menggelar Tari Maengket moawey kamberu sebagai tanda syukur atas hasil panen yang melimpah-ruah. Tarian ini dipimpin oleh seorang wanita yang disebut walian in uma.

Malam ke-28 boleh jadi yang paling ditunggu-tunggu khususnya oleh para remaja. Selain esoknya akan panen raya, pada malam inilah Tari Maengket lalayaan sebagai tarian yang melambangkan pergaulan muda-mudi dipertontonkan.

Terakhir, tujuh hari setelah bulan purnama, dipentaskan Tari Maengket marambak yang menyimbolkan semangat gotong royong masyarakat dalam membangun rumah bagi keluarga baru.

Dulu, begitulah cara orang Malesung, Minaesa atau Minahasa memperlakukan tarian ini. Sekarang, tentu saja ada perubahan di sana-sini. Meski begitu, Tari Maengket tetap saja membuai mata.(Y. Ahdiat; foto dari Kebudayaanindonesia)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment