October 11, 2016

Seluwes Legong Keraton

Tari Legong Keraton diilhami oleh Sang Hyang Legong. Tari Legong Keraton mengajarkan pentingnya keluwesan dalam menjalani kehidupan.....

gambar tari legong keraton
DALAM semedinya, mengutip Babad Dalem Sukawati, I Dewa Agung Made Karna, Raja Sukawati (1775-1825 M), bermimpi melihat bidadari surga sedang menari. Atas perintahnya, Kepala Desa (Bendesa Ketewel) lalu membuat sebuah tarian dan sembilan topeng menyerupai bidadari itu. Sejak itulah Sang Hyang Legong yang menginspirasi lahirnya Tari Legong Keraton dipentaskan di Pura Jogan Agung.

Beberapa waktu kemudian, grup tari Nandir yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Jelantik beratraksi di hadapan I Dewa Agung Manggis. Raja Gianyar ini rupanya sangat menikmati dan terpesona pada tontonan itu. Maka dititahlah dua seniman Sukawati untuk menata ulang Sang Hyang Legong supaya bisa seindah tari Nandir. Hasilnya adalah Tari Legong Keraton yang dikenal sampai sekarang.


Secara bahasa, terminologi legong dalam Tari Legong Keraton berasal dari akar kata “leg “ yang berarti gerak luwes atau gerak elastis, dan kata “gong” yang berarti gamelan. Jadi pengertian legong itu, mengutip I Wayan Dibia dalam Selayang Pandang Seni Pertunjukan Bali, adalah gerakan-gerakan atau tarian yang luwes dan elastis yang sangat diikat terutama aksentuasinya oleh gamelan yang mengiringinya.

Pada awalnya perangkat gamelan pelegongan yang mengiringi Tari Legong Keraton terdiri dari dua pasang gender rambat, gangsa jongkok, sebuah gong, kemong, kempluk, klenang, sepasang kendang krumpungan, suling, rebab, jublag, jegog, dan gentorang. Namun seiring dengan populernya gong kebyar, akhirnya tarian ini beradaptasi dan bisa diiringi pula oleh barungan yang berirama lebih cepat dan lebih menghentak.

Tari Legong banyak macamnya, tergantung cerita yang dibawakannya. Selain Sang Hyang Legong atau Legong Topeng dan Tari Legong Keraton, ada juga Legong Jobong, Legong Legod Bawa, serta Legod Kuntul. Yang lainnya adalah Legong Smaradahana, Legong Sudarsana, Legong Playon, Legong Untung Surapati, dan Legong Andir. Hampir seluruh tarian ini hidup dan berkembang di kalangan istana.

Seiring dengan melemahnya posisi politis kerajaan-kerajaan yang ada di Bali, secara perlahan Tari Legong juga mulai meninggalkan tembok-tembok istana, dan menyebar ke tengah-tengah kehidupan masyarakat. Kesenian yang pada mulanya hanya bisa dinikmati oleh kaum bangsawan ini, selanjutnya bisa juga dipirsa oleh orang kebanyakan. Meskipun namanya Tari Legong Keraton, tarian ini pada akhirnya juga menjadi tarian hiburan rakyat, seperti juga Tari Barong atau Joged Bumbung Bali.


Tari Legong Keraton ditarikan oleh seorang Condong yang tampil pertama kali, dan dua orang Legong yang menyusul kemudian. Tarian ini mengambil dasar cerita Panji yaitu tentang keinginan Adipati Lasem memperistri Rangkesari dari Kerajaan Daha. Sang Putri menolak, karena ia sudah bertunangan dengan Raden Panji (Kahuripan). Tapi Adipati Lasem bersikukuh, bahkan menculik Rangkesari. Perang antara Daha dan Lasem akhirnya tak terhindarkan.

Struktur atau pembabakan Tari Legong Keraton terdiri dari empat bagian. Masing-masing adalah pepeson, pengawak, pengecet dan pekaad. Penampilan pertama atau bagian permulaan tarian yang ditandai dengan munculnya seorang penari Condong disebut sebagai bagian pepeson. Sesudahnya adalah pengawak dan pengecet yang menyuguhkan cerita utamanya. Sesudahnya ditutup dengan bagian pekaad.

Gerak Tari Legong Keraton bersumber dari tari Gambuh. Mengutip Lontar Panititaling Pagambuhan, gerak tari itu meliputi agem (gerak dasar), abah tangkis (gerak peralihan), tandang (cara berjalan), dan tangkep (ekspresi). Sementara gerak dasar yang menjadi karakter kuat sekaligus ciri khas Legong Keraton sendiri antara lain adalah gerakan bola mata dan ekpresi wajah para penarinya.

Ciri lain yang juga menjadi identitas kental dari tarian ini adalah dalam soal tata busananya. Tari Legong Keraton memang tak memakai topeng seperti halnya Sang Hyang Legong. Tetapi pilihan kostum para penari yang berwarna kontras seperti merah, hijau, dan ungu; atau penggunaan kipas dan hiasan bebungaan warna emas di atas kepala penarinya makin melengkapi daftar keunikan tarian ini yang bisa menyedot perhatian penonton.

Bukan cuma itu, sebab menonton Tari Legong Kraton tak ubahnya menyaksikan proses adaptasi kehidupan. Seiring jaman, tarian surga yang hanya mentas di dalam tembok-tembok istana ini akhirnya menjadi hiburan publik sampai sekarang. Meski berpindah tempat, tarian ini tetap luwes, berseni, dan mencuri hati. Begitulah mestinya kita menjalani kehidupan. (Y. Ahdiat; foto dari Puriagungdenpasar)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment