October 11, 2016

Bius Joged Bumbung

Tari Joged Bumbung atau Joged Bumbung Bali benar-benar sedang melambung. Mengapa tarian asal utara Bali ini jadi buah bibir di Pulau Dewata.....

gambar tari joged bumbung bali
DIPERKIRAKAN Joged Bumbung Bali mulai dikenal oleh para petani di Lokapaksa, Buleleng sejak tahun 1940-an. I Gusti Made Labda disebut-sebut sebagai kreatornya. Dugaan lain, Tari Gandrung Banyuwangi yang dibawa prajurit Kerajaan Mengwi pada 1950-an merupakan cikal-bakalnya.

Tapi sejak tahun 1880 di Bali sebetulnya sudah ada Joged Tongkohan. Tontonan kaum bangsawan ini digelar malam hari selepas menyabung ayam. Ada juga Joged Pingitan, tarian untuk menghibur para pembesar. Belum bisa dipastikan kaitan keduanya dengan Joged Bumbung Bali, meskipun karakteristiknya hampir sama.


Menurut Beryl de Zoete dalam Dance and Drama in Bali, Joged Bumbung Bali adalah bentuk satu-satunya tarian sosial. Tarian ini bukan termasuk kelompok tari wali yang berfungsi sebagai sarana atau alat upacara, tidak juga tergolong tari bebali yang digunakan sebagai penunjang atau pelengkap upacara.

Seperti Tari Barong Bali, Joged Bumbung Bali adalah tarian balih-balihan (hiburan). Kalaupun ditanggap di acara-acara berbau ritual seperti upacara kelahiran dan pernikahan, perayaan hari besar Hindu, hari besar Nasional, pesta panen, nyambut gawe dan lainnya, tarian ini tetap diperlakukan sebagai tarian profan.

Setidaknya ada dua adegan utama dalam atraksi Joged Bumbung Bali. Pertama, tarian ini diawali dengan kemunculan penari wanita dengan kostum Bali yang khas, dilengkapi dengan hiasan atau ikat kepala, kipas di tangan dan semacam kain putih panjang. Awalnya ia menari sendirian atau dalam istilah setempat disebut ngalembur.

Memasuki adegan kedua, penari perempuan itu akan mengajak penonton pria untuk ngibing bersama. Selama pertunjukan, sang penari bebas mengganti pasangan. Meskipun mengadopsi gerakan Legong dan Kekebyaran, secara keseluruhan Joged Bumbung Bali terkesan lebih atraktif dan sarat goyangan.


Kendati sebagai tarian hiburan, Joged Bumbung Bali tetap terikat dan mempertimbangkan aspek estetika, etika, termasuk logika. Secara teknik misalnya, meskipun gerakan-gerakannya sangat ekspresif dan improvisatif, tarian ini tetap mengacu pada pakem-pakem tari seperti ngleyog, ngleyer, mapah dan lainnya.

Selain itu, Joged Bumbung Bali juga senantiasa mengindahkan norma dan kaidah yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. Semua pertimbangan itu, baik dalam soal nilai seni maupun dalam hal kepatutan, sangat bisa dicerna akal dan dapat dipertanggungjawabkan. Jadi tarian ini bukan adegan liar tanpa aturan.

Seturut namanya, atraksi Joged Bumbung Bali diiringi dengan gamelan tradisional yang disebut gerantangan yang terbuat dari tingklik atau bilah-bilah bambu. Diperkirakan gamelan berlaras salendro ini berasal dari bumbung gebyog yang masih bisa ditemukan di Jembrana dan Tabanan sampai sekarang.

Umumnya gamelan Joged Bumbung Bali terdiri dari gerantang besar dan kecil, gong, kleneng, ricik, kendang, tawa-tawa, dan suling. Di beberapa tempat ada juga yang melengkapinya dengan kepyak, reong, serta simbal. Mengenai repertoirnya, biasanya diambil dari lagu-lagu rakyat, tabuh-tabuh gong kebyar, lagu-lagu pop dan gegandrangan.

Atraksi Joged Bumbung dibingkai oleh konsep hubungan antarmanusia. Semangat ssagalak, sagilik, saguluk, salunglung dan sabayantaka yang menjadi misi tarian ini, mengingatkan kita untuk selalu bergembira dalam kondisi apapun. Tarian ini juga memperlakukan siapapun, layaknya saudara dekat (menyama braya).

Sungguh Joged Bumbung Bali memang sedemikian populer, makin digemari masyarakat, setidak-tidaknya makin sering jadi bahan pembicaraan banyak orang. Kelompok seka joged bumbung juga muncul di mana-mana, seiring makin meningkatnya permintaan manggung. Mengapa fenomena ini bisa terjadi?

Kekhususannya sebagai tarian rakyat dan tarian pergaulan, tampaknya merupakan magnet besarnya. Tak ada tarian yang mampu melibatkan penonton, penari, dan penambuh gamelan untuk main dan berinterakasi bersama. Itulah racun Joged Bumbung Bali, bukan yang lain. (Y. Ahdiat; foto dari Tribunnews)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment