October 10, 2016

Anti Hama Tari Hudoq

Tari Hudoq adalah tarian suku Dayak Bahau dan Dayak Modang di Kalimantan Timur. Tari Hudoq merupakan ritual pengusir hama tanaman.....

gambar tari hudoq
ATAS perintah Kamai Tingai atau Tuhan Yang Maha Tinggi, sejumlah dewa segera turun ke bumi untuk menjaga Hunyang Tenangan. Anak pasangan Delawan Tilip dan Hunay Mebaang ini bertugas sebagai pelindung padi dan tanaman lain milik manusia.

Begitulah mitologi suku Dayak Bahau dan Dayak Modang di Kalimantan Timur yang membingkai lahirnya Tari Hudoq sebagai ritual pengusir hama tanaman. Bagaimana bisa hijrahnya makhluk langit ke muka bumi itu menjadi penanda munculnya ritual Tari Hudoq?


Masih menurut keyakinan orang Dayak Bahau juga Dayak Mondang, para dewa itu punya derajat spiritualitas sangat tinggi. Jangan lagi menyentuhnya misalnya, memandang langsung wajah mereka saja bisa menjadi malapetaka. Minimal manusia akan diserang sakit.

Yang terparah, sering juga berakhir dengan kematian. Karena itu, sebagai pemimpin para dewa Nalin Ledaang mengajak dewa lainnya untuk menyembunyikan identitas masing-masing. Lalu dibuatlah topeng-topeng penutup wajah dari kayu-kayu bermutu seperti jelutung, jabon atau kitaaq.

Supaya penyamarannya makin sempurna, para dewa juga membuat pakaian dari daun-daun pisang. Topeng dan baju ini sampai sekarang menjadi salah satu ciri khas para pemain Tari Hudoq.

Versi lain menerangkan bahwa sejarah Tari Hudoq berkaitan dengan Asung Luhung. Ibu Besar cikal-bakal suku Dayak yang diturunkan dari langit di hulu Sungai Mahakam ini adalah manusia setengah dewa.

Demi kehidupan anak cucunya, Asung Luhung menugaskan roh-roh leluhur suku Dayak yang lain untuk melimpahkan rejeki pada manusia, melipatgandakan hasil panen, membasmi segala jenis penyakit, dan menghilangkan semua jenis kejahatan.

Supaya kedatangan mereka tak menakutkan, seperti Nalin Ledaang, Asung Luhung juga memerintahkan para leluhur suku Dayak untuk mengubah penampilannya. Caranya dengan mengenakan topeng dan pakaian seperti yang dikenakan oleh para dewa yang dipimpin Nalin Ledaang.

Strategi ini sangat berhasil rupanya. Selain bisa menemui manusia secara langsung, penampilan mereka juga mengilhami lahirnya Tari Hudoq.


Versi manapun yang jadi rujukan, nyatalah bahwa Tari Hudoq adalah tarian atau ritual sakral yang berhubungan dengan kegiatan bercocok tanam. Para penarinya yang berjumlah 13 orang dianggap sebagai jelmaan dewa penjaga Hunyang Tenangan.

Mereka mengenakan topeng bernuansa merah dan kuning sebagai warna kesukaan para dewa. Sementara pakaian dari sekitar 16 lembar daun pisang melambangkan kesejahteraan dan kesejukan.

Pertunjukan Tari Hudoq diawali dengan ritual napoq yang dipimpin seorang Dayung. Bersama dua orang pembantunya, ia berkeliling kampung sambil menabuh gong kecil (mebang). Berkat kemampuannya, Dayung bisa berkomunikasi dengan para dewa sekaligus memohon kiranya hajat mereka berjalan lancar.

Kemudian Dayung akan menjamu para dewa dengan cara menempelkan sebutir nasi dan lauknya ke bibir topeng yang dikenakan oleh para penari. Selepas itu, dengan menggunakan bahasa Dayak yang halus, Dayung melanjutkan dialognya dengan para dewa (tengaran hudoq).

Isinya antara lain, semoga sawah dan ladang mereka dijaga. Segala jenis hama dan penyakit tanaman juga dibasmi. Dan mudah-mudahan hasil panen mereka melimpah ruah.

Jika prosesi ini sudah selesai, barulah Tari Hudoq dilaksanakan. Tempatnya biasanya di lapangan atau sawah dan ladang yang siap ditanami.

Seiring bunyi gong, para penari Tari Hudoq memulai atraksinya dengan gerakan maju sambil menghentakan telapak kaki (nyidok atau nyebit), disusul kemudian dengan gerakan menghentakan tumit (ngedok atau nyigung).

Bersamaan dengan itu, mereka menirukan gerakan burung terbang untuk mengusir hama dan penyakit tanaman. Para penari juga bergerak memutar ke kiri (membuang sial) dan memutar ke kanan (meraih kebaikan).

Puncak ritual ini adalah ketika para penari dengan mantra-mantra khusus mencabut nyawa padi sebanyak tujuh kali. Sesudahnya bunyi tetabuhan mulai memelan, para penari kembali tersadar, dan para penonton juga mulai kembali ke tempat asalnya.

Tapi kegiatan bercocok tanam sesungguhnya baru saja dimulai. Sebab mereka akan segera bersawah dan berladang setelah rampungnya seluruh rangkain ritual Tari Hudoq. (Y. Ahdiat; foto dari Dayakculture)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment