October 7, 2016

Silat Bandrong Banten

Silat Bandrong adalah seni bela diri asli Banten. Kelebihan Silat Bandrong terletak pada jurus-jurus mautnya......

gambar silat bandrong banten
KI Semar terkapar bersimbah darah. Urat lehernya putus terkena sabetan golok Ki Sarap. Patih Kesultanan Banten ini akhirnya meregang nyawa, setelah berkalang tanah berjam-jam lamanya dengan jawara kampung yang mahir bermain silat bandrong itu.

Sebetulnya Ki Semar juga bukan orang sembarangan. Dalam duel maut itu misalnya, ia tak pernah sudah mengerahkan kemampuan bela dirinya. Tetapi Ki Sarap terus meladeninya dengan berbagai kombinasi jurus-jurus khas silat bandrong. Dengan gesit ia mainkan jurus pilis, jurus catrok, jurus totog, jurus seliwa, jurus gebrag dan jurus kurung untuk melumpuhkan Ki Semar.


Berita terbunuhnya Ki Semar tersiar ke mana-mana, termasuk juga ke pusat Kesultanan Banten di Surosowan. Setelah mengetahui kejadian ini, Sultan Maulana Hasanuddin sendiri tak mampu menahan amarahnya. Atas perintah penguasa Banten ini, Ki Sarap ditangkap oleh sepasukan tentara kesultanan dan dijebloskan ke penjara. Pendekar silat bandrong ini juga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di tiang gantungan.


Sambil menunggu ajal tiba, Ki Sarap tak henti-henti mohon ampun kepada Allah SWT. Ia juga berdoa, semoga Sultan Maulana Hasanuddin turun iba dan membatalkan keputusannya. Berkat pertolongan Yang Maha Kuasa, Ki Sarap memang batal dieksekusi. Demi mendengar usul permaisuri dan pendapat para penegak hukum lainnya, Sultan Banten menyatakan bahwa jagoan silat bandrong itu bukanlah seorang pembunuh.

Ki Sarap dan Ki Semar, sama-sama punya ilmu kesaktian. Karenanya pertarungan keduanya dianggap sangat sepadan. Apalagi motif mereka berdua juga sebelas dua belas: sama-sama membela diri. Pertimbangan lainnya, kesultanan sedang mencari orang yang kuat dan banyak ilmunya untuk menggantikan Ki Semar sebagai senopati. Dan syarat-syarat itu tampaknya dimiliki seluruhnya oleh Ki Sarap.

Setelah lolos dalam sejumlah ujian ketangkasan, jawara silat bandrong itu akhirnya diangkat sebagai patih dan mendapat gelar Senopati Nurbaya. Ia bermarkas di Bojonegara dan bertugas mengamankan Teluk Banten dan Pelabuhan Karangantu dari gangguan para begundal dan perompak. Patih Nurbaya atau dikenal juga sebagai Ki Jagabaya atau Ki Jaga Laut benar-benar sukses mengemban amanah berat itu. Wilayah laut Banten aman dan tentram.

Untuk menurunkan ilmu bela dirinya, terutama ketika usianya mulai menua, Patih Nurbaya mengajarkan silat bandrong kepada keluarga kesultanan, para prajurit dan murid-muridnya di kampung Pulo Kalih dan Waringin Kurung. Setelah wafat, ia dimakamkan di kampung Kahal, Bojonegara.

Sampai sekarang, kesaktian Ki Semar masih jadi buah bibir. Jurus-jurus silatnya yang sangat gesit, amat lincah dan mematikan layaknya perilaku ikan bandrong yang banyak ditemui di perairan Banten, juga masih kesohor. Silat bandrong, seni bela diri asli Banten, yang diwariskannya memang melegenda. (Y. Ahdiat, foto dari cacianqalbukunderemp.blogspot.co.id)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment