October 12, 2016

Rumah Betang Persaudaraan

Rumah Betang adalah Rumah Adat Suku Dayak Kalimantan Tengah. Bisa dihuni oleh ratusan orang.....

gambar rumah betang dayak kalimantan
TAHUKAH Anda bagaimana kira-kira bentuk awal Rumah Adat Kalimantan, khususnya Rumah Adat Suku Dayak? Bentuk asal rumah mereka sebelum mengenal Rumah Adat Dayak? Atau bentuk tempat tinggal mereka sebelum mendiami Rumah Betang, Rumah Panjang, Rumah Lamin, Rumah Radakng atau dengan sebutan lainnya?

Menurut Yohanes Demang Salilah dalam Teknologi Dayak Ngaju, jauh sebelum mengenal Rumah Betang misalnya, suku Dayak umumnya mendiami Huma Atap. Kehidupan masyarakat saat itu berlangsung sangat damai, sangat harmonis, hidup rukun, dan saling menolong. Nyaris tak ada keributan ketika itu. Hampir tak pernah berlangsung perang suku kala itu, apalagi peristiwa asang kayau yang kerap meminta korban jiwa.


Situasi kemudian berubah. Mengutip KMA. M. Usop dalam Pakat Dayak: Sejarah Integrasi dan Jatidiri Masyarakat Dayak Daerah Kalimantan Tengah, sejak abad ke-19 perang antarsuku sering pecah, pertikaian dengan kerajaan-kerajaan Banjar juga sering membuncah. Dalam keadaan genting seperti ini tinggal di Huma Atap tentu tak lagi aman. Maka dibuatlah rumah baru sesuai kebutuhan. Memang tak langsung seperti Rumah Betang, tapi berupa Huma Gantung.

Sebagai pemula Rumah Betang, Rumah Gantung punya kolong sangat tinggi. Konstruksi ini dibuat untuk menghindari atau melindungi diri dari binatang buas dan serangan musuh. Tak heran jika dalam kondisi seperti itu berkembang berbagi jenis alat perang seperti telawang, sumpit, lunju, mandau, dan sebagainya. Huma Gantung dibangun di tepi sungai, saling berhadapan atau menghadap ke sungai, dan arah orientasinya sesuai dengan posisi terbitnya matahari.

Masih menurut KMA. M. Usop, mengingat tensi konflik antarsuku makin berkepanjangan, selanjutnya 30 kepala suku Dayak dari seantero Kalimantan menggelar Rapat Damai Tumbang Anoi 1894. Risalah rapat ini antara lain berupa tiga butir kesepakatan. Pertama, meniadakan asang kayau atau perampokan dan pengayauan. Kedua, memberlakukan hukum adat. Ketiga, membebaskan budak dan menghapuskan perbudakan.


Mengutip Tari Budayanti Usop dalam Kearifan Lokal Dalam Arsitektur Kalimantan Tengah Yang Berkesinambungan, arsitektur adalah cermin budaya yang wujudnya lahir dari kebutuhan hidup atau suatu peristiwa yang terjadi pada saat itu. Maka pasca Rapat Damai Tumbang Anoi itu, “Muncullah rumah-rumah tunggal yang disebut Karak Betang.” Atau rumah pecahan (karak) dari Rumah Betang atau Rumah Adat Betang.

Fakta itu disinyalir bernuansa politis. Membongkar atau memecah Huma Gantung atau dalam bentuk lebih besar disebut Rumah Betang merupakan salah satu cara yang dipilih oleh pihak ketiga untuk memperlemah solidaritas dan keguyuban kehidupan suku Dayak. Untuk sementara boleh jadi teknik itu berhasil. Tetapi fakta lain juga menceritakan, jati diri suku Dayak yang lebih mementingkan kehidupan kolektif tak bisa diberangus begitu saja.

Buktinya Rumah Betang tetap saja bisa bertahan sampai sekarang. Selain sebutannya, secara umum bentuk Betang tiap suku dayak hampir sama saja yaitu rumah panggung berbentuk persegi panjang. Panjangnya bisa 100–200 meter, lebarnya bisa 20–25 meter, dan tingginya bisa 4-7 meter. Rumah yang dibuat dari kayu pilihan seperti kayu besi atau kayu ulin ini punya puluhan ruang atau kamar dan bisa dihuni oleh ratusan orang. Orang Dayak sangat cermat dalam soal pemanfaatan ruang, tampaknya.

Rumah Betang adalah rumah permanen yang dibangun oleh beberapa kepala keluarga yang masih memiliki ikatan darah atau persaudaraan. Rumah ini berdiri di pinggir dan menghadap sungai atau menghadap ke arah matahari terbit yang dianggap sebagai sumber kehidupan. Setiap Betang dipimpin oleh kepala adat atau panglima. Betang Tumbang Anoi misalnya, dipimpin oleh panglima Damang Batoe. Tetapi Betang bukan hanya rumah tinggal.

Secara arsitektural, menurut Tari Budayanti Usop, teknik pembuatan rumah beratap pelana ini sangat memperhatikan aspek keselamatan, kenyamanan dan kesehatan penghuninya. Secara kultural, Huma Betang juga menceritakan identitas orang Dayak yang menjunjung tinggi kejujuran, kesetaraan, kebersamaan, toleransi dan taat hukum. Begitulah prinsip Belom Bahadat sebagai filosofi Rumah Betang. (Y. Ahdiat; foto dari Wisdomindonesia)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment