October 10, 2016

Kesetiaan Roti Buaya

Roti Buaya jadi seserahan wajib calon pengantin pria. Tapi Roti Buaya tak boleh dimakan.....

gambar roti buaya betawi
MUNGKIN cuma di Betawi ada buaya yang jadi seserahan pengantin pria. Sudah itu jumlahnya tak cuma satu, tapi sepasang. Setelah ijab kabul, binatang purba yang sarat mitos itu mesti ditaruh di atas lemari pakaian di kamar tidur. Untungnya buaya yang harus dibiarkan tengik dan hancur sendiri itu bukan sungguhan. Wujudnya hanya roti berbentuk buaya, persisnya disebut Roti Buaya.

Meski cuma tiruan keberadaan Roti Buaya dalam tradisi pernikahan adat Betawi tetap saja memancing rasa ingin tahu banyak orang. Misalnya, mengapa harus buaya yang dipilih? Bukankah seperti pada tulisan Yahya Andi Saputra yang bertajuk Hewan Dalam Kearifan Lokal Betawi, ada banyak jenis hewan yang diperlakukan khusus oleh masyarakat Betawi?


Sebut saja seperti kucing, macan, gagak, utit-utit, celepuk, merak, tekukur, perkutut, gelatik, bunglon, kupu-kupu, ular, cicak, toke, ayam, angsa, kambing, dan kuda. Atau elang bondol yang sudah ditetapkan sebagai maskot Kota Jakarta. Menurut tokoh Betawi itu, perilaku hewan-hewan tersebut sering mengingatkan manusia agar berhati-hati dan waspada.

Tetapi kebudayaan Betawi tampaknya memang lebih “menghormati” buaya. Sejumlah folklor Betawi nyata-nyata menempatkan buaya sebagai mahluk siluman, jadi-jadian, misterius, juga suci. Cerita-cerita rakyat itu tersebar hampir di sepanjang Sungai Ciliwung dan anak-anak sungainya. Yang paling legendaris misalnya adalah cerita tentang Nenek Jenab dan Buaya Buntung.

Binatang yang mampu bertahan hidup di dua alam ini memang diasosiasikan dengan penghuni sekaligus penguasa sungai. Tradisi memberikan ancak atau sesajen di lokasi-lokasi tertentu adalah bagian dari cara “menghormati” buaya itu. Makna budayanya adalah siapapun harus menjaga dan memperlakukan alam, sungai, kali, muara, juga rawa dengan sebaik-baiknya.

Hubungan antara orang Betawi dengan Sungai Ciliwung khususnya memang mustahil dipisahkan. “Orang Betawi dan Sungai Ciliwung itu saudara kembar,” kata sejarawan JJ Rizal. Seperti dikutip Liputan6, tokoh muda Betawi ini mengatakan bahwa sejak 5000 tahun yang lalu mereka sudah bermukim di pinggir Sungai Ciliwung. Hal itu sudah dibuktikan lewat serangkaian penelitian arkeologi.

Selain sangat panjang, relasi masyarakat Betawi dengan sungai itu juga berlangsung sangat intensif. Soalnya di wilayah ini sedikitnya terdapat 13 buah sungai, besar dan kecil. Itulah sebabnya jika nama-nama tempat pun banyak yang berhubungan dengan unsur air. Kali Malang, Rawa Sari, Rawa Bokor, Rawa Bebek, dan Setu Babakan merupakan beberapa contohnya.

Dalam konteks yang lebih besar, kata JJ Rizal, sungai kemudian menjadi oase bagi lahirnya sejumlah nilai dan tata aturan kehidupan. Banyaknya mitos atau cerita rakyat tentang buaya misalnya tak lain adalah refleksi betapa kuatnya kaitan antara orang Betawi dan sungai. Sebagai masyarakat sungai, masyarakat Betawi sudah tentu sangat akrab dengan buaya.

Mereka kenal betul bagaimana rupa raganya. Mereka paham betul bagaimana perilakunya. Mereka tahu betul bagaimana menjaganya. Juga mereka mengerti betul bagaimana memperlakukan buaya itu, baik sebagai sesama mahluk Tuhan maupun sebagai simbol tata aturan kehidupan. Hadirnya Roti Buaya Betawi dalam tradisi perkawinan adat berada dalam dimensi yang disebutkan terakhir itu.


Bagi pasangan suami istri, Roti Buaya Betawi sejatinya adalah sebuah wasiat hendaknya keduanya bisa berumahtangga secara sakinah, mawaddah, warahmah. Salah satu caranya, masing-masing harus saling setia seperti perilaku buaya. Orang Betawi meyakini bahwa buaya memang hanya kawin dengan pasangannya. Buaya tidak pernah tengok kiri lirik kanan, apalagi pindah ke lain hati.

Keyakinan itu rupanya tidak mengada-ada. Rockfeller Wildlife Refuge di Louisiana Amerika Serikat, selama sepuluh tahun pernah meriset perilaku aligator. Hasilnya seperti dilansir ABC News, lebih dari 70 persen aligator betina ternyata hanya mau kawin-mawin dengan aligator jantan yang sama. Karena aligator adalah kerabat dekatnya, perilaku buaya juga sebelas-duabelas.

Selain tak bermata keranjang, rupanya buaya juga tidak serupa dengan Bang Toyib. Artikel yang dirilis BBC News menjelaskan, buaya punya insting untuk kembali ke tempat tinggalnya semula (homing instinct). Terbukti tiga ekor buaya ganas di Australia Utara yang telah dipindahkan ke lokasi baru sejauh 400 km, dalam tiga minggu kemudian sudah kembali ke tempat asalnya.

Karakter lain dari buaya adalah kuat dan perkasa. Buaya adalah perenang sangat cepat, bisa mencapai 32 kilometer per jam. Memang kemampuannya berlari di daratan “hanya” sampai lebih dari 17 kilometer per jam. Tetapi tekanan gigitannya yang mencapai 5.000 pounds per square inch atau setara dengan 315 kg/cm², tercatat sebagai yang terkuat dibanding gigitan hewan lainnya.

Hewan ini juga terbilang sabar sewaktu mencari makan. Buaya rela berlama-lama menunggu mangsanya mendekat sebelum kemudian menerkamnya. Lain cerita ketika sedang menetaskan telurnya. Hewan berdarah dingin yang tahan lapar dan bisa hidup sampai ratusan tahun ini akan berubah agresif untuk melindungi para calon penerusnya.

Jadi selain melambangkan kesetiaan, Roti Buaya Betawi juga menyiratkan pesan bahwa sebuah keluarga haruslah dibangun dengan dasar kesabaran, keuletan, kegigihan, kekuatan, kesiapsiagaan dan sejenisnya. Dan hubungan pasangan suami istri itu harus dibina sampai akhir hayat. Sama seperti merapuh dengan sendirinya Roti Buaya di atas lemari pengantin itu.

Begitulah rupanya mengapa Roti Buaya menjadi barang seserahan wajib dalam seremoni perkawinan orang Betawi. Tetapi jenis penganannya mengapa harus roti? Pilihan ini bukan tanpa sebab. Sudah dimaklumi bahwa roti adalah makanan orang-orang Belanda di Batavia ketika itu. Orang Betawi menilai makanan berbahan dasar gandum itu adalah simbol kemakmuran dan tanda kemapanan.

Dengan membawa Roti Buaya Betawi, kiranya keluarga baru itu juga bisa mendapatkan kehidupan yang layak dan mampu memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Cuma roti seserahan ini, seperti dikemukan JJ Rizal kepada CNN Indonesia, bukanlah untuk dimakan seperti orang-orang Belanda itu. Roti Buaya ini untuk disimpan sampai hancur.

“Karena itu budaya Betawi yang membiarkan Roti Buaya dibagi-bagi dan dimakan setelah upacara pernikahan adalah salah kaprah. Itu sama saja menyimbolkan pernikahan sang pengantin bakal berantakan, tak setia seperti buaya,” katanya. (Y. Ahdiat; foto dari Harianresep)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment