October 10, 2016

Pesona Kain Tapis Lampung

Kain Tapis Lampung pernah menjadi kriteria penilaian calon istri. Makin berkelas kain tapisnya, makin pantaslah untuk jadi pasangan hidup.....

gambar kain tapis lampung
GADIS Lampung yang manakah yang pantas diperistri? Sedikitnya ada dua kriteria yang wajib penuhi. Pertama, ia mesti punya sifat dan perilaku yang elok dan terpuji. Kedua, ia juga harus bisa membuat Kain Tapis.

Dua syarat itu, zaman dahulu, tak bisa ditawar-tawar. Jika tidak, keluarga pria bisa mundur teratur untuk mengajukan pinangan apalagi melanjutkannya ke jenjang pernikahan.


Itulah mengapa gadis-gadis Lampung tempo lalu sangat serius belajar menyulam Kain Tapis, terlebih ketika mereka sudah akil balig dan harus menjalani masa pingitan. Sesuai adat ulun Lampung, pada periode ini mereka dilarang meninggalkan rumah tanpa seijin orang tua.

Satu-satunya kesempatan ke luar rumah adalah saat cangget atau menari dalam sebuah upacara adat. Atau sewaktu acara jaga damar dalam acara bujang gadis. Lalu, bagaimana caranya jika mereka rindu pada kekasihnya?

Yang lazim dilakukan, biasanya di malam hari si bujang akan melemparkan sesuatu ke arah kamar si gadis sebagai tanda untuk bertemu. Sejak mengetahui kode itu, si gadis lalu menuju dapur. Tapi jangan harap bisa bertatap muka. Soalnya ibu, bibi juga nenek si gadis siap-siap pasang mata dan telinga.

Walhasil dua sejoli ini cukup melampiaskan kekangenannya dari balik dinding. Sudah itu kembali lagi ke kamarnya, meneruskan pingitannya. Sekalian mengisi waktu luang, pada saat inilah gadis-gadis Lampung mempelajari banyak hal.

Bukan saja dalam soal menyiapkan mental sebelum berumah-tangga, tetapi juga membekali dirinya dengan sejumlah keterampilan. Misalnya membuat beragam barang kerajinan berupa keranjang, tikar, termasuk Kain Tapis Lampung. Pada waktunya, barang-barang ini akan dinilai oleh kerabat calon suaminya.


Sekadar dimaklumi, keluarga perempuan sang jejaka memang sibuk menyelidiki bibit, bebet, dan bobot sang dara sebelum memutuskan untuk melamarnya. Salah satu kriteria yang diselidiki itu adalah kualitas Kain Tapis yang dibuatnya.

Semakin bagus bentuk kain tapisnya, semakin rumit pola dan ragam hiasannya, serta semakin rapih hasil pekerjaanya, maka semakin berbobot pula calon mempelai perempuan tersebut. Sederhananya, ia pantas disebut menantu idaman.

Tradisi ini sudah dilakukan baik oleh kaun perempuan dari kelompok adat pepadun (pedalaman) maupun saibatin (pesisir) sejak baheula.

Khusus sejarah pertenunannya sendiri diperkirakan sudah dikenal sejak abad ke-2 Masehi. Saat itu orang Lampung sudah menenun kain brokat atau nampan dan pelepai dengan motif hias seperti kait dan kunci, binatang, matahari, bulan, bunga melati, pohon hayat dan bangunan yang berisi roh manusia.

Dalam perkembangannya terbentuklah jenis tenun baru berbahan kapas, sutra dan benang emas yang disebut Kain Tapis Lampung. Supaya lebih indah kain ini menggunakan pewarna dari daun sirih, buah pinang muda, daun pacar, kulit kayu, kunyit kapur sirih dan lain-lain.

Pilihan warna dan juga motif  itu selanjutnya akan menentukan jati diri pemakainya. Secara kultural, Kain Tapis memang menjadi bagian dari identitas orang Lampung. Tetapi saat ini siapapun tampaknya bisa saja memakainya.

Khususnya mereka-mereka yang mencintai dan menghargai wastra tradisional Indonesia, seperti Kain Tapis Lampung ini. (Y. Ahdiat; foto dari Tempo)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment