October 9, 2016

Panglima Perang Caadara

ADA seorang panglima perang bernama Wire tinggal di desa Kramuderu. Ia mempunyai seorang anak laki-laki bernama Caadara. Wire sangat senang dan bangga pada anak laki-lakinya itu. Ia berharap, setelah dewasa anaknya dapat menggantikan kedudukannya sebagai panglima perang yang tangguh. Oleh karena itu, sejak kecil ia sudah melatih anaknya ilmu perang dan bela diri.

gambar panglima perang caadara
Pada masa kanak-kanak, kelincahan Caadara telah melebihi teman sebayanya. Dia tumbuh dewasa, sangat tampan dan gagah. Wire melihat perkembangan anaknya dengan sangat senang. Katanya,"Aku yakin anakku akan menjadi panglima yang terkenal."

Pada suatu hari Wire ingin menguji kepandaian anaknya. Ia menyuruh Caadara berburu ke hutan yang letaknya tidak jauh dari desa.

"Anakku, hari ini engkau harus berburu ke hutan yang terletak di dekat sebuah sungai, dekat danau," kata Wire.

Caadara sangat senang mendapat perintah dari ayahnya. Ia segera mengumpulkan sepuluh orang teman dan merencanakan perburuan itu selama tujuh hari. Setelah persiapan selesai, ia mengajak kesepuluh temannya itu untuk berangkat berburu.

Rombongan Caadara berangkat ke hutan melalui jalan setapak dan kadang-kadang menembus semak belukar. Setelah sampai ditempat perburuan, mereka beristirahat sebentar sambil mengadakan persiapan.

Di tempat perburuan itu ternyata banyak binatang buruan sehingga mereka berhasil menombak beberapa ekor binatang. Mereka berburu setiap hari. Pada hari pertama sampai dengan hari keenam tidak ada rintangan yang berarti.

Pada hari ketujuh, para pembantunya terkejut karena melihat seekor anjing pemburu. Mereka segera melaporkan hal itu kepada Caadara. Ia menangkap firasat adanya bahaya yang mengancam. Katanya,"Anjing pemburu itu memberi tanda bahwa bahaya sedang mengancam kita."

Caadara memerintahkan keenam perwiranya untuk bersiaga penuh dalam menghadapi musuh yang belum diketahui dari mana arahnya itu. Mereka segera menyiapkan busur, anak panah, kayu pemukul, dan beberapa alat perang lainnya.

"Tetaplah menjaga kewaspadaan karena sewaktu-waktu musuh dapat menyergap kita," katanya, mengingatkan.

Ketika matahari pagi memancarkan sinarnya, Caadara dan anak buahnya berjemur diri untuk menghangatkan tubuh. Tiba-tiba terdengar pekikan keras yang menakutkan. Para pembantunya juga ketakutan.

Akan tetapi, Caadara dan keenam perwiranya tenang-tenang saja. Mereka tetap waspada. Kemudian, ia segera memerintahkan rombongannya untuk membuat benteng pertahanan.

"Kawan-kawan, marilah kita menuju tanah lapang berumput rimbun yang ditumbuhi semak belukar. Kita buat benteng pertahanan di sana sehingga kita dapat menangkis serangan musuh dan dapat menghancurkannya."

Tanpa banyak komentar, perwira-perwira itu segera berlari ke tempat yang ditunjuk pemimpin mereka. Mereka segera membuat benteng pertahanan yang kuat.

Tiba-tiba muncul lima puluh orang suku kuala sambil berteriak-teriak. Caadara dan para perwiranya tidak terpengaruh teriakan-teriakan itu. Musuh semakin dekat dan suasana semakin tegang.

Kelima puluh musuh itu menyerang dengan tombak dan tongkat pemukul. Ia memimpin pertempuran itu dengan semangat tinggi. Pertempuran pun semakin seru. Mereka saling serang untuk menjatuhkan lawan.

Caadara mempunyai kepandaian luar biasa dalam berperang. Ia bertempur tanpa menggunakan perisai tetapi menggunakan parang dan alat pemukul untuk merobohkan lawannya. Dalam waktu singkat dia berhasil merobohkan dua puluh musuh.

Pasukan musuh semakin tidak sanggup menghadai keberaniannya dan juga anak buahnya. Akhirnya, musuh yang berjumlah lima puluh orang itu tersisa lima orang. Mereka berlari menyelamatkan diri.

Berkat keberhasilannya mengalahkan musuh, Caadara makin disegani anak buahnya. Mereka bangga mempunyai panglima seperti dirinya. Tidak henti-hentinya mereka mengelu-elukannya.

Seisi kampung menjadi gempar mendengar berita kemenangan Caadara dan anak buahnya. Ayahnya sangat terharu mendengar berita itu, tidak terasa air matanya berlinang.

"Aku bangga dan senang mempunyai anak seperti engkau. Engkau pasti dapat menggantikanku sebagai panglima. Kaulah yang pantas menggantikanku," bisik Wire sambil merangkul anaknya.

Malam itu Caadara disambut pesta besar karena kemenangannya. Selain itu, juga diadakan persiapan untuk menyerang suku Kuala karena mereka telah menyerangnya.

Keesokan harinya ia diberi anugerah berupa kalung terbuat dari gigi binatang, bulu kasuari yang dirangkai indah, dan diperindah lagi dengan bulu cendrawasih di tengah-tengahnya. Pemberian hadiah itu dilakukan dalam upacara yang sangat meriah. Selain itu, ia juga mendapat hadiah dua belas burung cenderawasih.

Sejak itu masyarakat mempelajari taktik perangnya yang diberi nama Caadara Ura. Taktik perang itu meliputi cara melempar senjata, berlari, menyerbu dengan senjata, seni silat jarak dekat dan cara menahan lemparan kayu.

Sampai sekarang Caadara menjadi pahlawan yang dibanggakan masyarakat Kiman di Irian Jaya. (Muhammad Jaruki dan Mardiyanto, Cerita Rakyat dari Irian Jaya)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment