October 4, 2016

Pacu Jalur Kuansing

Pacu Jalur Kuansing bukan sekadar lomba balap perahu. Pacu Jalur Kuansing memotret kondisi masyarakat Kuantan dan Singingi.....

gambar pacu jalur kuansing
CUMA di Riau, mungkin, ajang lomba balap perahu disebut dengan pacu jalur. Dan cuma Pacu Jalur Kuansing, mungkin, yang mengekspresikan karakteristik sosiokultural masyarakat khususnya yang bermukim di sepanjang aliran Sungai Kuantan dan Sungai Singingi di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing).

Sejak berabad-abad lampau, ‘jalur’ yang dalam bahasa setempat searti dengan perahu, memang punya peran sangat vital. Perahu sangat mendukung mobilitas masyarakat, termasuk untuk keperluan mengangkut barang dan hasil bumi.


Selepas musim panen, sesekali jalur-jalur itu saling beradu cepat sekalian memperebutkan beraneka penganan khas macam godok dan lainnya. Karena itulah pada masa ini lomba jalur kerap sering disebut dengan Pacu Godok.

Zaman berubah, bentuk jalur juga berganti. Terbukti dengan munculnya jalur-jalur yang berukir kepala ular, buaya, atau harimau. Beberapa hiasan lain warna-warni juga makin mempersolek bentuk dan rupa perahu. Perubahan ini sekaligus menandai adanya perluasan fungsi jalur.

Semula perahu atau jalur hanya jadi alat transportasi rakyat. Tetapi kemudian berkembang menjadi salah satu simbol status sosial ekonomi para pemiliknya. Jalur-jalur berhias itu misalnya, umumnya dimiliki oleh para pembesar, bangsawan, atau para datuk.

Perluasan fungsi jalur itu sekaligus menginspirasi diadakannya pesta sukan pacu jalur yang lebih meriah dan terorganisir. Maka tiap perayaan Hari Besar Islam misalnya, digelarlah perlombaan balap perahu di sepanjang aliran Sungai Kuantan.

Pesertanya datang dari berbagai penjuru kampung. Pada masa penjajahan Belanda, ajang ini bahkan menjadi salah satu mata acara wajib untuk memperingati hari kelahiran Ratu Wilhelmina yang jatuh pada tanggal 31 Agustus.


Pacu Jalur Taluk Kuantan atau belakangan disebut juga Pacu Jalur Kuansing, setelah Indonesia merdeka juga menjadi kegiatan rutin tahunan. Sekarang lomba balap perahu khas Kuansing ini bahkan sudah menjadi bagian penting dari kalender pariwisata Provinsi Riau.

Tahun 2015 misalnya, ajang ini diikuti oleh 168 buah jalur. Mereka datang dari berbagai provinsi di tanah air, 10 peserta di antaranya berasal dari negara tetangga di Asean. Bentuk kegiatannya memang sudah berubah. Tetapi bagi masyarakat Kuansing, esensinya tetap saja sama.

Pacu Jalur Kuansing adalah puncak dari seluruh daya upaya, segala jerih payah dan akhir dari semua tetesan keringat mereka dalam mencari penghidupan selama setahun. Wajar kiranya jika kegiatan ini selalu ditunggu-tunggu oleh seluruh lapisan masyarakat.

Mereka memang bagian tak terpisahkan dari ajang ini. Sebab di belakang Pacu Jalur Kuansing, antara lain, terceritakanlah bagaimana mereka berinteraksi dengan Tuhannya. Lalu, bagaimana pula mereka memanfaatkan alam sekitarnya. Seterusnya, bagaimana juga mereka menjalin hubungan dengan sesamanya.

Tak heran jika lomba pacu jalur kemudian diperlakukan sebagai sebuah pesta budaya. Sejak memilih pohon yang hendak dibuat jalur, selama proses pembuatan jalur sampai disulutnya meriam sebagai tanda dimulainya pacu jalur, sangat jelas teramati beragam bentuk dan ekspresi adat, tradisi dan budaya masyarakat di sepanjang Sungai Kuantan dan Sungai Singingi.

Pacu Jalur Kuansing sejatinya memang riwayat panjang sejarah kebudayaan masyarakat Kuansing. (Y. Ahdiat, foto dari Metroterkini.com)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment