October 9, 2016

Ondel-ondel Penolak Bala

Ondel-ondel Betawi adalah perwujudan dari Danyang Desa. Fungsi Ondel-ondel Betawi adalah para penjaga kampung.....

gambar ondel ondel betawi
IRING-iringan Pangeran Jayakarta beserta rombongan, sudah sampai di gerbang Keraton Surosowan Banten. Penguasa Batavia itu hendak ikut merayakan kenduri khitanan Pangeran Abdul Mafakhir.

Tiga tahun sebelumnya, pada usia tujuh tahun sang pangeran sudah ditabalkan menjadi Sultan Banten menggantikan ayahnya, Sultan Muhammad, yang wafat di Palembang. Karena waktu itu masih belia, baru kali inilah Pangeran Abdul Mafakir akhirnya disunat. Tapi bukan soal ini yang menarik.


Sejarah ondel ondel Betawi rupanya bisa diusut dari peristiwa yang terjadi pada 1605 itu. Seperti dilaporkan oleh W. Scot, pedagang Inggris yang pada awal abad ketujuh belas cukup lama berada di Banten, Pangeran Jayakarta ketika itu membawa banyak sekali buah tangan.

Scot menceritakan, sebagaimana dikutip oleh W. Fruin Mees dalam buku bertajuk Geschiedenis Van Java, salah satunya adalah boneka menyerupai raksasa. Scot memang tak tahu persis nama boneka itu, tetapi diperkirakan boneka itu merujuk pada ondel ondel Betawi seperti dikenal sekarang.

Begitu juga dengan Eliza R. Scidmore. Penulis sekaligus fotografer asal Amerika yang menetap di Batavia pada akhir abad ke-19 ini mengaku sudah sering melihat boneka sejenis itu.

Dalam bukunya Java, Garden Of The East, ia mengisahkan di jalanan di Batavia kerap kali berlangsung atraksi tarian ondel ondel dengan kostum warna-warni. Boneka-boneka itu berlenggak-lenggok seirama bebunyian dari alat-alat musik yang sederhana.

Ondel ondel Betawi atau dahulu disebut barongan karena dimainkan bareng-bareng, memang biasa digelar di jalanan dengan pelakon utamanya berupa manekin berukuruan jumbo. Musik pengiring pertunjukan tanpa kata-kata ini bisa tehyan, tanjidor, gendang pencak, gambang kromong, atau rebana ketimpring.


Wujud ondel ondel Betawi sebetulnya cuma rangka bambu setinggi dua meter dan garis tengahnya kurang dari satu meter. Rambutnya dari ijuk, mukanya berupa topeng, dan matanya melotot.

Ondel ondel laki-laki wajahnya merah, berkumis melintang, berjenggot lebat, beralis tebal, bercambang panjang, dan kadang-kadang bercaling. Sementara yang perempuan wajahnya putih atau kuning, bergincu, berbulu mata lentik, beralis lancip, dan kadang-kadang bertahi lalat.

Orang Betawi tempo dulu menganggap ondel ondel adalah personifikasi para dewa, para leluhur, atau para orang terhormat. Maka sebelum membuatnya mesti didahului dengan ritual-ritual berbau magis.

Memainkannya juga setali tiga uang, sebab sering terjadi ondel ondel Betawi bergerak sendiri bahkan mengamuk tak terkendali. Ketika disimpan, ondel ondel juga harus dimuliakan dengan sesajen beraneka jenis.

Meski cuma boneka, ondel ondel Betawi diyakini punya kekuatan untuk menjaga dan melindungi kampung Betawi dan seisinya dari setiap marabahya, dari segala malapetaka, dari seluruh pengaruh buruk roh-roh jahat.

Itu sebabnya, dahulu, atraksi ondel-ondel amat dekat dengan harapan dan doa orang Betawi akan kesehatan, keselamatan, kedamaian, dan sejenisnya. Pertunjukan ini adalah bagian dari praktik mistis-religius.

Sampai sekarang, atraksi ondel ondel masih banyak dijumpai di Jakarta. Bedanya, boneka raksasa perwujudan Danyang Desa ini, adalah salah satu media hiburan yang dapat menghalau segala kepenatan dan ketegangan.

Gerak-gerik tarian ondel ondel Betawi memang bisa memancing senyum simpul. (Y. Ahdiat; foto dari Indonesiakaya)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment