October 12, 2016

Nostalgia Gudeg Jogja

Gudeg Jogja, sesuai namanya, pastilah merupakan makanan khas Jogja. Pertanyaannya, mengapa Gudeg Jogja sangat populer.....?

gambar gudeg jogja
GUDEG itu kuliner Jogja atau makanan khas Jogja. Kalau Gudeg Jogja atau Gudeg Jogjakarta? Bisa seribu satu macam jawabannya. Sebabnya, kata para pemerhati, menyoal makanan itu tidak melulu tentang rasa, tentang selera. Di belakang makanan apapun, sejatinya tergambarkan pula perihal kultur masyarakat pendukungnya.

Jadi maksudnya? Gudeg Jogja contohnya, mengapa sampai sebegitu populernya? Atau mengapa kuliner ini menjadi sedemikian ikoniknya hingga menjadi makanan khas Yogyakarta? Bukankah gudeg juga dikenal di daerah Jawa Tengah lainnya? Bahan baku, bumbu, cara memasak, bentuk jadi, dan kelezatannya boleh jadi juga tidak jauh beda.


Tapi sekali lagi, gudeg sudah identik dengan Jogja. Dan sewaktu menyebut Gudeg Jogja, sadar tak sadar, terceritakan pula romantika kehidupan masyarakat di sebuah kota yang punya banyak sebutan ini. Semula Kota Gudeg bernama Ngayogyakarta, menyusul didirikannya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1755.

Ketika Belanda berkuasa di Nusantara, di kota ini juga muncul istilah lain, Djokdja. Setidaknya hal itu tersematkan pada nama Grand Hotel de Djokdja yang terletak di ujung utara Jalan Malioboro. Meskipun sekarang sudah berganti menjadi hotel Inna Garuda, Djokdja tetap saja menjadi bagian penting dalam riwayat perjalanan Yogyakarta.

Nama yang disebutkan terakhir itu digunakan oleh Sri sultan Hamengku Buwono IX ketika mengumumkan bahwa Yogyakarta adalah bagian dari wilayah Republik Indonesia. Seturut jaman, karena berbagai alasan, bekas Ibukota Indonesia (1946-1949) ini juga dikenal dengan nama Jogjakarta. Versi yang lebih pendek adalah Yogya atau Jogja saja.

Karena beragam sebutan kota itulah, meskipun jarang terdengar ada istilah Gudeg Nyayogyakarta atau Gudeg Djokdja, Gudeg Jogja sering juga dinamai Gudeg Yogya atau Gudeg Yogyakarta. Yang mana saja sebutannya, gudeg tetap saja istimewa. Kuliner khas Jogja ini adalah salah satu wujud warisan budaya takbenda yang tak ada duanya.

Gudeg Jogja, mengutip Dyah Ayu Indira Hapsari dalam The Impact of Cultural Tourism on Economic Development: The Case Study of Yogyakarta, Indonesia, merupakan salah satu magnet bagi para pelancong, khususnya dalam kegiatan wisata kuliner Jogja. Oleh-oleh khas Jogja ini, menurutnya, adalah identitas kultural Jogjakarta juga budaya Jawa secara keseluruhan.

Menurut Murdijati Gardjito, penulis buku Gudeg Yogyakarta, sejarah gudeg sama tuanya dengan berdirinya Kerajaan Mataram Islam di Alas Mentaok, Kotagede pada sekitar tahun 1500-an. "Saat itu banyak pohon yang ditebang, di antaranya adalah nangka, kelapa, dan tangkil atau melinjo," katanya kepada Tribun Jogja.

Untuk keperluan makan para pekerja yang sangat banyak, profesor dan peneliti di Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gajah Mada ini menjelaskan, ketika itu dibuatlah sebuah masakan berbahan baku buah nangka muda. Saking porsinya banyak, untuk hangudeg-nya (mengaduknya) saja mesti menggunakan alat serupa dayung perahu.

Sejak saat itulah gudeg sebagai masakan khas Jogja mulai dikenal. Makanan berwarna coklat gelap ini, selanjutnya disebut-sebut juga dalam Serat Centini atau Suluk Tambanglaras. Kedaulatan Rakyat mengulas, dalam naskah karya Sunan Paku Buwono V ini disebutkan bahwa pada sekitar tahun 1600-an desa Tembayat, Klaten kedatangan tamu terhormat.

Mereka adalah dua pengembara yang mengelilingi hampir seluruh daratan Pulau Jawa. Mereka adalah Raden Mas Cebolang dari Sokayasa, serta kemenakan Sunan Kalijaga bernama Ki Anom. Demi memuliakan tamunya, Ki Ageng Pandanarang (Pangeran Tembayat) menyuguhkan beragam makanan spesial. Salah satunya adalah gudeg.

Makanan gudeg ini pula yang jadi bekal konsumsi pasukan Mataram ketika diperintahkan oleh Sultan Agung untuk menggempur Batavia pada 1628. Sayang, kisah ini belum bisa ditemukan rujukannya. Sama seperti cerita komentar suami (Eropa) pada masakan istrinya (Jawa) dengan pujian, ‘good dek’ yang kemudian secara bahasa konon berubah menjadi ‘gudeg’.


Meski masih samar-samar, cerita tambahan tentang masakan Jogja itu tetap saja punya pesan penting. Paling tidak warisan kuliner khas Yogyakarta ini memang sudah menjadi buah bibir sejak jaman dahulu kala. Belum lagi tentang jati diri gudeg sebagai makanan orang gedongan atau hanya dikonsumsi oleh kaum kebanyakan.

Buku bertajuk Menu Favorit Para Raja misalnya, menyebutkan bahwa gudeg adalah salah satu hidangan yang sangat disukai oleh para Raja Yogyakarta. Tetapi, artikel dalam Kompasiana juga menceritakan bahwa makanan khas Yogya ini muasalnya adalah dari luar dinding keraton yang lahir karena terbatasnya pilihan bahan makanan akibat penjajahan Belanda.

Mungkin tak penting betul soal asal-usul itu. Karena sekarang Gudeg Jogja juga tak melulu disukai oleh orang Jogja: ningrat atau rakyat. Sekadar contoh, Hendrik Vilumet asal Estonia saja memfavoritkannya. "Rasa bumbunya manis dan sayurnya empuk," katanya kepada Liputan6. Rasa gudeg, ujarnya, sangat cocok untuk orang asing yang umumnya kurang suka pedas.

Kalau orang Indonesia selain orang Jogja? Pasti terlalu panjang daftarnya. Sekadar info, kata Murdijati Gardjito, bersamaan dengan berdirinya Universitas Gajah Mada pada tahun 1940-an, Gudeg Jogja pun makin dikenal oleh mereka-mereka yang berasal dari luar Jogja, khususnya para mahasiswa yang menimba ilmu di Kota Pelajar ini.

Hebatnya selepas lulus dan bermukim di tempat lain pun, para pendatang itu tetap saja terkenang makanan tradisional Yogyakarta ini. Agaknya hal inilah yang mendorong makin menjamurnya sentra-sentra pedagang Gudeg di Jogjakarta. Banyak di antara pedagang itu yang masih setia menjajakannya secara bersahaja, tapi banyak juga yang sudah modern.

Gudeg Jogja yang semula berkuah santan misalnya, kini dibuat menjadi kering dan dikemas dalam kaleng. Jika awalnya gudeg hanya dibuat dari nangka muda, sekarang populer pula gudeg berbahan manggar atau bunga kelapa dan gudeg rebung. Perkembangan industri pariwisata tampaknya punya andil besar dalam soal ini.

Faktor utamanya, meminjam pendapat Rizki Nuriandini dalam Gudeg Dalam Perspektif Masyarakat Yogjakarta, boleh jadi adalah nostalgic gustatory atau kenangan indah yang dipicu oleh sebuah makanan. Kata Isabelle De Solier dan Jean Duruz dalam Food Cultures, relasi kita dengan makanan memang dipengaruhi tempat, ruang, waktu, memori juga nostalgia.

Kira-kira begitulah sebabnya mengapa gudeg seolah-olah telah menjadi kata ganti bagi Jogja. Mengingat makanan yang biasa disantap dengan telur, tahu, tempe, daging ayam dan krecek ini, langsung membayangkan sebuah kota yang menyimpan banyak kenangan tak terlupakan. Perasaan itu misalnya diungkapkan oleh Maya Soetoro, adik tiri Presiden Amerika Serikat Barack Obama kepada TEMPO.

"Saya sering keluar masuk Ngasem dan main bulu tangkis di Taman Sari," kata perempuan kelahiran 15 Agustus 1970 ini. Saat berusia 7-9 tahun, bersama orangtuanya pengajar Universitas Hawaii ini memang tinggal di sekitar Pasar Ngasem. Saat itu, katanya, ia ingat sering melihat pedagang burung, penjual jamu, dan perajin batik. Ia juga sering menikmati gudeg dan pecel yang dijual di warung-warung di sekitar pasar.

Selain lingkungan dan kulinernya, menurut Maya Soetoro, daya tarik lain kota ini adalah adanya suasana hubungan sosial harmonis yang melampaui prinsip toleransi. Begitulah Ngayogyakarta, Djokdja, Jogja, Jogjakarta, Yogya, atau Yogyakarta seperti judul lagu KLA Project.

Inilah kota yang, "Masih seperti dulu...Tiap sudut menyapaku bersahabat...Penuh selaksa makna..." Di tempat romantis dan sarat nostalgia inilah terlahir Gudeg Jogja. (Y. Ahdiat; foto dari Tribunnews)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment