October 7, 2016

Nasi Uduk Gaya Betawi

Nasi Uduk Betawi juga dari daerah lainnya diduga berasal dari Melayu. Nasi Uduk Betawi punya gaya berbeda.....

gambar nasi uduk betawi
NASI uduk punya riwayat sangat panjang. Ditaksir kuliner ini sudah pupoler sejak abad ke-14 atau abad ke-16. Diduga asal-muasalnya dari Tanah Melayu. Melalui perantaraan para pedagang, kemudian menyebar luas ke berbagai tempat di Nusantara termasuk ke wilayah Betawi. Maka jadilah Nasi Uduk Betawi.

Secara bahasa, mengutip Takgoleki, kata ‘uduk’ berakar dari bahasa Sunda yang artinya bersatu atau bercampur. Kata ‘uduk’ bisa juga berarti ‘susah’. Jadi sederhananya, nasi uduk adalah sejenis nasi campur yang dikonsumsi oleh orang kebanyakan. Tak heran bila pada masanya, makanan rakyat ini kerap dijajakan dengan gerobak di pasar-pasar.


Tapi itu dulu. Sekarang nasi uduk sudah menjadi salah warisan budaya takbenda khas Betawi. Penjualnya juga berkelas-kelas, mulai dari pinggiran jalan sampai hotel berbintang. Beberapa waktu lalu, Plaza Indonesia di Jakarta bahkan pernah menggelar acara Festival Nasi Uduk. Cita rasanya memang cocok untuk segala kalangan.

Menurut Michael Irawan kepada Okezone, rahasia kelezatan nasi uduk itu terletak pada santannya. "Kalau bikin nasi uduk, harus gunakan santan karena santan kunci utamanya. Santan berpengaruh untuk memunculkan rasa gurih," kata Chef Beras Merah Resto itu. Santannya juga harus direbus lebih dulu dengan bumbu-bumbu dan rempah-rempah.

Proses perebusan itu dilakukan agar cita rasa bumbu lebih keluar ketimbang digoreng. "Kalau bumbu terkena panas, kandungan minyaknya akan keluar. Flavour itu keluarnya dari minyak. Memang kalau digoreng pun akan mengeluarkan minyak. Tetapi yang keluar adalah karamel, minyaknya bau sangit."

Santan berbumbu itu selanjutnya dicampur dengan beras yang dikukus setengah matang. Setelah diaduk rata, tanak lagi berasnya sampai matang. Jika sudah nasi uduk siap disantap. Umumnya pada waktu sarapan di pagi hari. Tapi, banyak juga yang mengkonsumsinya pada saat makan malam. Tidak ada aturan baku tampaknya, tergantung selera saja.


Makanan pendamping nasi uduk juga agaknya sesuai pilihan saja. Bisa tahu dan tempe goreng, ayam goreng, empal goring, ikan goreng, udang goreng, abon, telur dadar diiris tipis, mentimun dan sambal. Khusus Nasi Uduk Betawi biasanya dilengkapi dengan tahu dan tempe semur, jengkol semur kalau suka, ikan dan daging semur, plus sambal kacang.

Yang hampir tak pernah ketinggalan dalam menu nasi uduk adalah taburan bawang goreng garing. Jumlahnya tidak kelewat banyak. Tidak juga terlalu sedikit. Yang sedang-sedang saja. Namanya juga pelengkap. Meski porsinya secukupnya, bawang goreng ternyata bisa menambah kelezatan nasi uduk.

Menukil Jampang, bawang goreng dan nasi uduk itu umpama romantisme dan rumah tangga. Kadarnya harus wajar dan pas sehingga bisa mempercantik warna kehidupan sepasang suami istri. Kalau kebanyakan, jadi aneh rasanya atau nyelab dalam istilah Betawinya. Jika tidak romantis? Rumah tangga tetap harus berjalan.

Begitulah bawang goreng dalam nasi uduk. Yang suka, menyantapnya akan jauh lebih nikmat. Yang tidak suka? Nasi uduk dari daerah manapun termasuk Nasi Uduk Betawi tetap saja terasa sedap. (Y. Ahdiat; foto dari Pegipegi)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment