October 4, 2016

Merindu Musik Ghazal

Musik Ghazal dan tradisi berpantun mulai terdengar sayup-sayup. Musik Ghazal harus segera diselamatkan.....

gambar musik ghazal
APA jadinya bila bait-bait syair Melayu berkolaborasi dengan alat-alat musik seperti syarenggi, sitar, harmonium, dan tabla? Atraksi Musik Ghazal asal Pulau Penyengat Kepulauan Riau, agaknya bisa menjawab rasa ingin tahu itu.

Melalui musik tradisional Melayu ini, rangkaian pesan-pesan moral menyentuh hati yang terselip dalam syair itu jadi tersampaikan kepada hadirat secara khidmat. Di tempat asalnya yakni Arab dan Persia, ghazal merupakan bentuk puisi berima. Isinya kerap menumpahkan bahasa kalbu perihal asmara, romansa, dan sejenisnya.


Penyair sufi ternama bernama Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri atau lebih kondang dikenal sebagai Jalaluddin Rumi, ditengarai sebagai orang pertama yang menulis syair jenis ini pada sekitar abad ke-13.

Melalui perantara para saudagar Arab dan Persia, Musik Ghazal lalu menyebar ke berbagai antero negeri termasuk Indonesia khususnya ke wilayah Kepulauan Riau. Kebudayaan pendatang ini memang tak langsung diterima begitu saja oleh masyarakat lokal.

Seorang tokoh bernama Lomak misalnya, terlebih dahulu mesti memelayukan bahasa, syair dan alat-alat musiknya. Upaya ini cukup jitu rupanya. Sebab Musik Ghazal menjadi sarana dakwah Islam yang efektif, seperti dalam pelantunan Rubaiyat Oemar Khayam.

Mengutip buku Musik Melayu Ghazal: Selayang Pandang, Musik Ghazal juga berfungsi sebagai sarana untuk mengungkapkan emosi, sarana hiburan, dan sarana kenikmatan estetis. Termasuk sebagai sarana komunikasi baik dengan Tuhan (hablum minallah) maupun dengan manusia (hablum minannas).


Efektivitas itu tampaknya didukung oleh tenaga syair-syair Melayu. Simak misalnya pantun Embun Berderai yang berbunyi, “Tiup api embun berderai, Patah galah di haluan perahu, Niat hati tak mau bercerai, Kuasa Allah siap yang tahu.”

Atau coba juga resapi rangkaian kata, “Patah hati terus merajuk, Merajuk sampai ke belukar, Hati panas kembali sejuk, Ibarat burung kembali ke sangkar,” yang dikutip dari pantun berjudul Patah Hati.

Lihat betapa dahsyatnya permainan kata penyair baik dalam Embun Berderai maupun dalam Patah Hati tersebut. Niscaya siapapun yang mendengarnya, pastilah akan segera tersentuh kalbunya.

Sayangnya, saat ini tradisi berpantun dan irama Musik Ghazal kian terdengar sayup-sayup di Tanah Melayu. Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan, setidaknya begitulah yang dirasakan oleh Djakfar Sirat, pimpinan kelompok Ghazal Sri Melati.

“Bagaimana tidak cemas, saat ini hanya ada dua kelompok Musik Ghazal di Kepulauan Riau, yang satunya lagi berada di Pulau Penyengat,” kata Djakfar seperti dilansir Haluankepri.com.

Ia menambahkan fakta tak sedap lainnya, “Cobalah lihat, para pemainnya juga rata-rata sudah berusia lanjut.” Meski cemas sekaligus gemas, ia hanya bisa berharap kiranya ada lebih banyak pihak yang memberikan perhatian pada masalah ini.

Mestinya memang bukan cuma Djakfar Sirat yang merasa terpanggil untuk melestarikannya. Siapapun yang mengaku orang Indonesia terutama generasi muda Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, harusnya juga sama-sama merindukan Musik Ghazal. (Y. Ahdiat; foto dari Petabudaya)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment