October 9, 2016

Legenda Jaka Linglung

JAKA Linglung adalah seekor naga gagah perkasa. Raja Medang Kamulan memintanya bertarung dengan buaya putih di laut selatan. Bagaimana ceritanya lengkapnya? Apa pula hubungannya dengan tambak garam Bledug Kuwu di Purwodadi?

gambar legenda jaka linglung
Di Kabupaten Purwodadi, Jawa tengah memang terdapat tambang garam yang unik. Air garam yang ditambang diperoleh dari letupan lumpur panas (Bledug Kuwu) yang terdapat di daerah itu.

Air yang berasal dari letupan lumpur panas itu dialirkan ke dalam sumur-sumur yang dangkal, lalu ditimba, kemudian dimasukkan ke dalam plampang bambu dan selanjutnya dijemur di panas matahari.

Garam yang dihasilkan dari Purwodadi ini rasanya lebih enak bila dibanding dengan garam yang berasal dari air laut. Bagaimana tambang garam ini bisa terjadi, menurut cerita yang berkembang dan dipercaya oleh penduduk di sana adalah sebagai berikut.

Pada waktu itu, Kerajaan Medang Kamulan diperintah oleh seorang raja muda yang belum berpermaisuri. Raja muda itu mempunyai kegemaran beranjangsana ke desa-desa yang menjadi wilayahnya.

Suatu hari, ketika raja berjalan-jalan menemukan sebutir telur yang ukurannya sebesar telur angsa. Telur itu diberikan kepada seorang penumbuk padi. Oleh si penumbuk padi telur itu lalu disimpannya di bawah tumpukan padi.

Tidak disangka beberapa waktu kemudian, telur itu menetas berupa seekor anak naga. Lama-kelamaan anak naga itu menjadi besar dan menjelma menjadi seekor naga yang gagah, yang besarnya sebesar batang pohon kelapa.

Naga itu diberi nama Jaka Linglung. Ia tumbuh dewasa menjadi sakti dan dapat berbicara seperti manusia. Namun kehadirannya di desa tersebut sangat menganggu ketenangan penduduk, sebab ia memakan ternak apa saja yang dijumpainya untuk santapan tiap hari.

Kejadian itu sudah dilaporkan kepada raja, namun belum ada tanggapan. Sementara itu Jaka Linglung selalu menanyakan siapa ayahnya dan dari mana asalnya.

Karena sulit untuk menjelaskan, maka penumbuk padi itu mengatakan bahwa ayahnya adalah raja Medang Kamulan. Mendengar penjelasan penumbuk padi, segeralah Jaka Linglung menuju ke istana Medang Kamulan.

Tiba di istana, ia langsung menghadap raja dan mengaku sebagai putra sang raja. Raja Medang Kamulan bermaksud menguji kesaktiannya. Maka beliau bersabda:

"Bila benar-benar engkau adalah anakku, pergilah ke laut selatan. Binasakanlah musuhku yang berujud buaya putih. Untuk menjaga ketentraman penduduk engkau tidak kuperkenankan jalan melalui darat. Berjalanlah menembus tanah dan jangan muncul ke permukaan sebelum tiba di tempat semula."

Jaka Linglung berangkat ke laut selatan dengan hati bersemangat. Dicarinya buaya putih di tengah laut selatan. Setelah bertemu diserangnya habis-habisan. Buaya putih itu kalah dan mati.

Jaka Linglung kembali ke Medang Kamulan. Ia berjalan melalui dalam tanah. Karena ia lupa di mana letak Kerajaan Medang Kamulan, maka ia berulang kali melakukan kesalahan. Ia muncul belum sampai pada tempat yang dituju.

Rupanya jalan yang dilalui Jaka Linglung pada waktu itu menjadi aliran sungai garam yang berasal dari laut selatan. Hingga sekarang tempat Jaka Linglung muncul ke darat itu mengandung garam. Terakhir ia muncul di Kuwu. Setelah itu perjalanan ke Medang Kamulan diteruskan melalui jalan darat.

Tiba di Medang Kamulan, Jaka Linglung disambut gembira oleh Baginda. Ia diperkenankan tinggal di istana. Namun, kejadian seperti di desa penumbuk padi terulang kembali. Jaka Linglung sering memakan ternak yang dijumpainya, bahkan kadang-kadang mencuri ternak penduduk.

Hal ini membuat sedih hati raja. Jaka Linglung diperintahkan untuk bertapa. Badannya melingkar di gunung kapur serta mulutnya menganga. Ia tidak diperkenankan makan apabila tidak ada benda yang jatuh ke dalam mulutnya. (Sri Sulistyowati, Cerita Rakyat Dari Jawa Tengah)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment