October 1, 2016

Kronik Candi Borobudur

Candi Borobudur, warisan Dunia versi UNESCO, mulai dibangun pada 824 Masehi. Riwayat penemuan dan pemugarannya.....

foto candi brobudur
TIDAK ada satu pun candi di dunia yang bisa menandingi Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tangah. Luas kompleksnya memang masih kalah dibanding Candi Muaro Jambi. Tetapi sebagai bangunan Borobudur tak punya saingan.

Candi ini yang menghabiskan sekitar 60 ribu meter kubik balok-balok batu andesit ini, fondasi dasarnya saja berukuran 123 X 123 meter. Sedangkan tinggi sampai ujung puncaknya mencapai 34,5 meter.

Itu sebabnya bangunan dengan 504 arca dan 2.672 panel relief yang menceritakan berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa Kuno abad ke-8/9 ini tercatat dalam Guinness World Records. Borobudur diobatkan sebagai candi Budha terbesar di dunia.


Borobudur dibangun di atas bukit dengan ketinggian 265 meter di atas permukaan laut dan 15 meter di atas dasar danau purba yang mengering. Merujuk pada Prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan, sejarawan J.G. de Casparis memperkirakan, Candi Borobudur mulai dibangun pada tahun 824 oleh Raja Mataram Samaratungga.

Setelah lebih dari setengah abad, proyek besar ini akhirnya bisa dirampungkan oleh putrinya, Ratu Pramudawardhani. Sayangnya selama bertahun-tahun Candi Borobudur sempat hilang dari peredaran. Candi ini terkubur dalam tanah dan debu vulkanik yang ditumbuhi pepohonan dan semak belukar.

Arkeolog R. Soekmono menduga, Candi Borobudur mulai ditinggalkan sejak Raja Mpu Sindok memindahkan Kerajaan Mataram Kuno ke Jawa Timur pada 928, menyusul serangkaian letusan gunung berapi. Boleh jadi juga sejak penduduk di sekitar Borobudur mengenal dan menganut Islam.

Meskipun samar-samar, Candi Borobudur baru disebut-sebut lagi pada 1365. Ketika itu Mpu Prapanca dalam naskah Nagarakretagama yang ditulis pada masa Kerajaan Majapahit menyebutkan adanya sebuah tempat bernama Wihara di Budur.

Baru beberapa ratus tahun kemudian bangunan ini mulai jadi perhatian dunia, setelah Sir Thomas Stamford Raffles menuliskan sebuah monumen bernama Borobudur dalam bukunya Sejarah Pulau Jawa yang terbit pada 1817. Gubernur Jenderal Inggris di Jawa itu memang meminati sejarah dan kebudayaan.

Sewaktu berkunjung ke Semarang pada 1814, ia mendapat informasi adanya bangunan besar di tengah hutan di dekat Desa Bumisegoro. Seorang insinyur Belanda, H.C. Cornelius, diutus untuk menyelidikinya. Setelah bekerja hampir dua bulan bersama 200 orang bawahannya, ia melaporkan temuannya lengkap dengan gambar sketsanya. Temuan inilah yang disebut Raffles sebagai Borobudur itu.


Sejak Borobudur disebut-sebut dalam Sejarah Pulau Jawa, perhatian pemerintah kolonial makin intensif. Hartmann, pejabat Hindia Belanda di Karesidenan Kedu, pada 1835 berhasil menampakkan hampir seluruh bagian Candi Borobudur yang semula tertimbun tanah.

Kemudian F.C. Wilsen, insinyur teknik, menggambar ratusan sketsa relief-reliefnya. Seterusnya J.F.G. Brumund ditunjuk untuk melakukan penelitian lebih terperinci dan selesai pada 1859. C. Leemans selanjutnya ditugaskan mengkompilasi pekerjaan Brumund dan Wilsen.

Pada 1873, monograf pertama dan penelitian lebih detil atas Candi Borobudur diterbitkan. Setahun kemudian dibuat pula edisi terjemahannya dalam bahasa Perancis. Foto pertama monumen ini diambil pada 1873 oleh seorang ahli ukir Belanda bernama Isodore van Kinsbergen.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1900, Pemerintah Hindia Belanda membentuk tim pemugaran dan perawatan Borobudur. Dengan anggaran hampir 49 ribu gulden, pada 1907 sebuh tim yang dipimpin Theodor van Erp, mulai memugar Candi Borobudur.

Saking banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan, tim ini minta tambahan dana sekitar 35 ribu gulden. Sampai 1911 restorasi Borobudur belum seperti yang diharapkan. Misalnya, tim ini tidak mampu memecahkan masalah pengaturan tata air yang ternyata sudah mengancam keutuhan material bangunan candi.

Setelah itu pemugaran Candi Borobudur jadi tersendat-sendat. Selain terkendala persoalan dana, juga karena terganjal masalah politik dan keamanan baik di tingkat global maupun lokal.

Setelah Perang Dunia II berakhir dan Indonesia merdeka, situasinya mulai kondusif. Berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk UNESCO, mulai tahun 1975 dilakukanlah pemugaran besar-besaran. Proyek raksasa dengan anggaran hampir 7 juta dollar ini selesai pada 1984.

Sayangnya hasil kerja keras itu sempat dirusak oleh serangan bom pada Januari 1985. Saat itu sembilan stupa rusak parah, beberapa bagian dinding candi juga retak-retak. Beruntung kerusakan itu bisa segera diatasi.

Dan sekitar enam tahun kemudian, badan dunia UNESCO menetapkan Candi Borobudur sebagai salah satu wujud World Heritage atau monumen Warisan Dunia. (Y. Ahdiat; foto dari Wikipedia)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment