October 4, 2016

Tembang Suci Karungut

Karungut adalah pantun yang ditembangkan. Karungut menjadi media pengajaran.....

gambar lagu karungut dayak
TERNYATA nenek moyang orang Dayak itu asalnya dari langit ketujuh. Ketika turun ke bumi, sambil diiringi nyanyian syahdu, mereka menggunakan sebuah wahana berupa wadah sejenis ancak (palangka) yang terbuat dari emas atau logam mulia (bulau).

Begitulah mitosnya ketetapan Ranying Hatalla yang bersemayam di langit tertinggi, sewaktu menciptakan leluhur salah satu suku asli di Pulau Borneo ini. Masih versi cerita rakyat, sejak peristiwa itu pula Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah (Kalteng) mulai mengenal cara berkomunikasi secara lisan dalam bahasa sangiang.


August Harderland dalam Versuch einer Grammatik der Dajacksen Sprache, menjelaskan bahwa bahasa sangiang atau bahasa suci itu sangat puitis, penuh penggambaran makna, dan berkaitan dengan ritme atau irama. Sederhananya, bahasa sangiang itu bernilai sastra sangat tinggi.

Karakteristik bahasa Dayak kuno yang melodius ini lalu melahirkan bait-bait pantun atau syair-syair penuh tutur, nasihat, petuah, teguran, dongeng dan lainnya. Sebagai pemanisanya lalu ditambahi instrumen musik tradisional macam kecapi bersenar dua atau tiga, katambung, rebab, gong, seruling dan lainnya.

Kreasi ini akhirnya melahirkan seni berdendang yang populer dikenal dengan nama lagu Karungut. Secara bahasa Karungut searti dengan tembang, macapat, dandang gula, mijil, pangkur, atau asmarandana seperti dikenal luas di Jawa.

Sementara menilik komposisi bentuknya, mirip dengan pantun. Jadi bolehlah disimpulkan bahwa Karungut Kalteng adalah pantun yang ditembangkan dan digunakan sebagai media pengajaran, misalnya ketika seorang guru atau dukun (balian) mengarungut para murid-muridnya.


Dalam perkembangannya, fungsi Karungut Dayak Ngaju ini makin meluas ke berbagai bidang kehidupan. Selain menjadi media pendidikan, kesenian ini juga menjadi hiburan yang mengasyikkan.

Karungu sering juga dilantunkan saat bekerja di rumah atau di ladang, ketika gotong royong, atau sewaktu pesta panen dan pesta perkawinan. Kerap juga ditemui pada hajatan perkawinan, khitanan, penyambutan tamu penting, kegiatan kampanye dan lain-lain.

Sesuai temanya, lagu-lagu yang ditembangkan dapat dibedakan menjadi tiga kelompok. Pertama yang berturur soal cinta dan kasih sayang. Kedua yang berkisah tentang dongeng, legenda, atau pemujaan terhadap seorang tokoh, suatu benda, atau tempat tertentu. Ketiga yang berisi nasihat, petuah, dan sejenisnya.

Ketiga tema itu, bisa saja bersifat spontan atau sebaliknya. Pada jenis yang spontan, pengarungut tidak membuat konsep sebelum mengarungut. Ia langsung menuangkan pikiran dan perasaannya secara spontan.

Sedangkan yang tidak spontan dibuat dengan gagasan yang sudah disiapkan terlebih dahulu. Jenis ini bisa juga diartikan sebagai Karungut yang dilantunkan oleh orang lain, bukan oleh penciptanya sendiri.

Tetapi, apapun jenisnya, Karungut memang bergaya bahasa sangat artistik dan sarat ajar. Misalnya, "Tiruh anak yoh busu tempu; Kantuk anak nah masi aku; Aku anak bagawi kejau; Ikau melai barapi manjuhu."

Atau, "Tidurlah anak ku tersayang; Mengantuklah anak, kasihani aku; Aku akan bekerja jauh; Engkau tinggal menanak nasi dan memasak." Indah bukan syair Karungut? (Y. Ahdiat; foto dari Kabarbanjarmasin)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment