October 4, 2016

Pinisi Cinta Sawerigading

Dengan Kapal Pinisi, Sawerigading memperistri putri Tiongkok. Mengapa Kapal Pinisi diproduksi di Bulukumba.....?

gambar kapal pinisi
WE Cudai memang bukan perempuan biasa. Gadis Tiongkok ini kulitnya bening sekuning langsat. Matanya sipit seiris tipis. Budinya sopan, tuturnya santun. Menilik garis keturunannya, ia berdarah biru pula. Tak ayal bila pesonanya terkabarkan ke mana-mana.

Namanya terceritakan ke segala penjuru mata angin. Ia menjadi pusaran perhatian para bujang dari berbagai antero negeri. Sawerigading adalah salah satu di antara para jejaka yang tergila-gila kepada We Cudai. Ia tak ambil peduli perempuan idamannya itu berada nun jauh di seberang lautan.


Ia juga tak ambil pusing kembang pujaannya itu dirubung berbilang kumbang. Asmaranya sudah tak bisa disembunyikan, cintanya sudah tak dapat dirahasiakan. Pangeran dari Kerajaan Luwu di Sulawesi Selatan ini sudah bulat hati untuk mempersuntingnya

Demi niat itulah, salah satu episode naskah klasik I La Galigo menceritakan, Sawerigading rela keluar masuk hutan mencari kayu-kayu terbaik untuk membuat perahu, kelak dikenal sebagai Kapal Pinisi. Dalam perjalanannya ia mendapati sebatang pohon yang beda dibanding pohon-pohon lainnya.

Selain lingkar batangnya yang amat besar, tingginya bahkan sampai menembus awan. Jangan lagi kayunya, saking kerasnya kulitnya saja tidak bisa dirobek oleh kapak atau parang biasa. Supaya pohon itu bisa ditebang, Sawerigading melakukan ritual khusus. Selesai berdoa, sebilah kapak emas jatuh dari langit.

Dengan bantuan kapak itu pohon welengreng yang angkuh berdiri, terjerembab ke tanah dan meluncur ke dasar laut. Dari pohon dewata inilah, dibantu para makhluk penghuni samudra, Sawerigading membuat sebuah perahu berukuran besar atau Kapal Pinisi dan beberapa perahu lain yang lebih kecil.


Perahu-perahu inilah yang digunakan oleh Sawerigading dan para pengawalnya untuk menemui sekaligus memperistri We Cudai. Setelah bertahun-tahun tinggal di Tiongkok, Sawerigading didera rasa rindu pada tanah airnya.

Meskipun pernah bersumpah tak akan pulang, dengan Kapal Pinisi dari pohon welengreng yang dulu dipakainya, ia kembali berlayar menerjang ombak menuju kampung halamannya. Sayang perjalanan pulang kampung ini dikacaukan oleh sebuah peristiwa yang tak diharapkan.

Di tengah-tengah samudra, tiba-tiba angin bertiup lebih kencang. Kemudian ombak berteriak-teriak, dan datanglah gelombang sangat besar. Beruntung, Sawerigading dan We Cudai bisa selamat. Dewa Langit membawa keduanya ke istana Kerajaan Luwu. Kapal Pinisi yang ditumpanginya pecah berkeping-keping.

Beberapa kepingan badannya terdampar di Dusun Ara, Bulukumba. Sementara tali, tiang, dan layarnya hanyut sampai ke Tanjung Bira. Adapun muatan perahunya banyak ditemukan di daerah Lemo Lemo.

Entah kebetulan atau tidak, orang Ara lalu menjadi para pembuat Kapal Pinisi yang terampil. Orang Bira menjadi para nakoda yang cekatan. Dan orang Lemo Lemo menjadi pedagang yang termasyhur. Masyarakat dari ketiga tempat ini menjadi penerus tradisi pembuatan kapal cinta yang dibuat Sawerigading.

Begitulah penggalan cerita kapal tanpa paku dan umumnya punya dua tiang layar lebar. Itulah Kapal Pinisi Cinta Sawerigading. (Y. Ahdiat; foto dari Indonesiaexplorer)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment