October 3, 2016

Tabir Tenun Tanimbar

Tenun Tanimbar mengundang decak kagum. Para pencipta kain Tenun Tanimbar harus diselidiki.....

gambar tenun tanimbar
TAHURI sudah mulai ditiup. Tifa sudah mulai dipukul. Lengkingan suara yang berasal dari cangkang siput dan hentakan bunyi dari tabung kayu itu, sahut-sahutan membuka prosesi adat yang digelar di Saumlaki, Maluku Tenggara Barat (MTB).

Saat itu, tepatnya 5 November 2010, Wakil Presiden Republik Indonesia Boediono mendapat gelar: Mel Ratan Ken Tnebar Barataman. Arti Mel Ratan adalah bangsawan yang luhur juga mulia. Sementara Ken adalah orang yang dipertuankan.


Lalu, Tnebar merujuk pada Kepulauan Tanimbar atau bisa juga berarti orang yang rendah hati. Sedangkan Barataman adalah tetua atau bapaknya orang MTB yang datang dari wilayah barat.

Jadi makna dari Mel Ratan Ken Tnebar Barataman adalah, “Bangsawan tertinggi yang datang dari barat dan dipertuankan di Kepulauan Tanimbar Kabupaten MTB”.

Layaknya seorang bangsawan, Boediono dipakaikan busana adat khas Tanimbar. Kecuali tongkat kayu kadjare bermotif anggrek atau lelemuku pada bagian kepalanya, semua pakaian kebesaran yang dikenakan Mel Ratan Ken Tnebar Barataman dibuat dari tais pet atau kain Tenun Tanimbar.

Masing-masing busana tentu punya makna atau perlambang khusus sesuai dengan sosok pemakainya. Bajunya misalnya, yang terbuat dari kain tenun berwarna dasar hitam mengandung makna religius dan sakral.

Sedangkan ikat pinggangnya, kain tenun warna merah bersemu hitam dan putih, melambangkan kesiapan untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawab sekaligus simbol persaudaraan atau pemersatu.

Sementara topinya, kain tenun warna merah berhiaskan burung cenderawasih, adalah tanda kehormatan, kewibawaan, kekuasaan, dan kepemimpinan.


Kain tenun yang dikenakan Boediono baru satu contoh, soalnya Tenun Tanimbar sangat banyak jenis dan variasinya. Dalam soal hiasan contohnya, Sarah S. Kauhaty dalam Kain Tenun Sebagai Pengetahuan Tradisional Masyarakat Hukum Adat Maluku, mencatat terdapat 21 jenis motif hias.

Sedangkan W. Pattinama dalam Tenun Tradisional Tanimbar di Kabupaten Maluku Tenggara Barat, melaporkan 41 ragam hias dengan arti yang bermacam-macam.

Beberapa ragam hias Tenun Tanimbar di antaranya adalah pohon, manusia, ikan, katkatan (alat tenun), vatvedan (penyumbat), bunga-bunga, sair sikaras (bendera bergerigi), siaha (anjing), kembang jambangan dan niri (lebah).

Hiasan lainnya adalah abo (perahu), tamar akar (ruas bambu), wulan lihir (bulan sabit), fangat (ular cincin), kembang mayang, iwar ihin (kenari), ngarngar wulan (katak), kilun loan koa (bunga luang), sula (laor), serta kilun eet (lipan).

Boleh jadi kekayaan jenis dan motif hias kain Tenun Tanimbar ini berkaitan dengan sejarah panjang permukiman wilayah Tanimbar. Dahulu banyak orang terdampar di wilayah kepulauan tak berpenghuni ini. Mereka datang dari Halmahera, Ambon, Seram, Banda, Kai, Aru, Bugis, Makassar juga Buton.

Sebab itulah gugusan pulau kosong itu lalu dinamai Tanempar, Tanebar, juga Tnebar sebelum populer menjadi Tanimbar yang memiliki arti sama yaitu terdampar.

Para pendatang itu lalu beranak-pinak. Karena penduduk aslinya sampai kini belum lagi diketahui, mungkin saja orang-orang terdampar inilah yang mengembangkan kain Tenun Tanimbar. Keterampilan itu makin terasah, sejak Tanimbar menjadi bagian penting dari rute perdagangan Jalur Sutera.

Jadi siapa yang dulu menciptakan busana seperti dipakai Mel Ratan Ken Tnebar Barataman? Sungguh tabir kain Tenun Tanimbar yang sohor sampai mancanegara ini masih perlu ditelusuri. (Y. Ahdiat; foto dari Kebudayaan)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment