October 13, 2016

Faedah Papeda Papua

Anda sakit diabetes atau mau tahan lapar? Cobalah makan dan buktikan faedah Papeda Papua.....

gambar papeda papua
PAPEDA adalah makanan yang terbuat dari tepung sagu yang berasal dari sejenis palem yang disebut rumbia atau pohon sagu (Metroxylon sagu). Di Jawa pohon ini dikenal dengan nama ambulung, bulung, ambulu, tembulu, bhulung, dan kiray. Sementara di Sumatra dan Sulawesi dinamai rumbieu, rembie, rembi, rembiau, rambia, hambia, humbia, lumbia, rombia, dan rumpia.

Di Maluku namanya ripia, lipia, lepia, lapia, lapaia, hula atau huda. Sedangkan di Papua sagu yang sering diidentikkan dengan pohon sagu dikenal dengan nama fi, moore, hi, ambas, amos atau amsa. Bagi orang Papua sendiri, tanaman ini punya posisi sangat penting bahkan sakral. Menurut cerita rakyat Asmat misalnya, sagu adalah pohon kehidupan warisan nenek moyang.


Mengutip Tabloidjubi, Biwiripits dan Teweraut adalah pemula riwayatnya. Pasangan suami tampan dan istri rupawan ini hidup rukun dan damai pada sebuah masa. Untuk melanjutkan kehidupannya, mereka makan ikan, pucuk dan buah nipah, siput juga kepiting. Segalanya kemudian berubah setelah Biwiripits bermimpi menebang pohon berduri yang mengandung tepung pada batangnya.

Diam-diam ia kemudian keluar masuk hutan, mencari pohon seperti dalam mimpinya. Berhari-hari ia merahasiakan apa yang dilakukannya, termasuk pada istrinya sendiri. Sampai-sampai Teweraut merasa jengkel dibuatnya. Tetapi Biwiripits tetap bergeming. Alih-alih membuka rahasianya, ia malah mengungsi ke rumah jew layaknya seorang bujangan saja.

Satu hari, di tengah hutan, kakinya menginjak duri. Ia kemudian mencabut dan membenamkan duri itu ke dalam lumpur. Di tempat ini, esok paginya, Biwiripits menemukan sebatang pohon persis seperti yang ada dalam mimpinya. Segera ia mengabarkan kejadian itu pada istri dan saudara-saudaranya. Ia juga meminta mereka untuk menyiapkan peralatan untuk menebang pohon tersebut.

Pohon itu sudah tumbang. Durinya lantas dibersihkan. Kulitnya dikupas. Batangnya ditokok. Isi batangnya diremas-remas sampai keluar sari patinya. Lalu mereka menjejalkannya ke dalam Noken. Malangnya, ketika pulang Biwiripits tergelincir pada sebuah titian kayu. Ia jatuh dan terjerembab. Tepung dalam Noken juga berhamburan tak terselamatkan.

Biwiripits tak tertolong. Ia terkubur lumpur sebatas leher. Ia pasrah dan menyuruh istri dan saudara-saudaranya untuk tetap pulang. Seketika bercucuranlah air mata duka. Kesedihan makin membuncah ketika esok harinya Biwiripits benar-benar tiada. Di bekas tempatnya terjatuh hanya tampak pohon-pohon berduri, yang kemudian dikenal sebagai pohon sagu.

Sejak itulah sagu melekat erat dalam kehidupan orang Asmat juga Papua secara keseluruhan. Salah satunya menjadikannya sebagai bahan baku beragam jenis makanan olahan, termasuk Papeda. Laman Crowdvoice menyebutkan, kebanyakan masyarakat asli Papua meyakini bahwa sagu adalah makanan pemersatu, makanan komunikasi, makanan leluhur, sekaligus makanan adat.

Memproduksi dan mengolah sagu memang mesti dikerjakan secara berjamaah. Mengkonsumsinya juga akan terasa lebih nikmat jika dilakukan bersama-sama. Dalam keguyuban itu, masing-masing orang saling bercerita, bertukar informasi. Dalam kebersamaan itu, muncul pula berbagai usulan jalan keluar untuk memecahkan setiap persoalan kehidupan yang dihadapi.

Hebatnya suasana itu senantiasa dibingkai dengan tata nilai adat. Setiap hendak menebang sagu, sebuah upacara lengkap dengan sesaji yang juga berbahan sagu mesti digelar lebih dulu demi memuliakan para roh leluhur. Sagu yang akan ditebang pun tak boleh asal tunjuk. Soalnya setiap ladang sagu dikelola, dimiliki dan dimanfaatkan oleh kelompok adat tertentu.


Begitulah sagu dan orang Papua, keduanya tak terpisahkan. “Sewaktu saya jadi gubernur, tidak ada nasi yang dihidangkan di atas meja. Semuanya harus sagu," kata Mantan Gubernur Papua Freddy Numberi kepada Republika. Menteri Yohana Yembise juga begitu. Kepada Femina ia menceritakan rutin minta kiriman sagu dari kampungnya. “Sebab, di Papua orang makan papeda, bukan nasi.”

Papeda dibuat dengan cara mengaduk-aduk tepung sagu dengan air mendidih. Sekilas bentuknya seperti lem. Cara makannya? Papeda diambil dengan cara digulung-gulung menggunakan dua batang sumpit kayu di kedua tangan. Lalu masukkan ke dalam piring. Kemudian tuangkan ikan kuah kuning di atasnya. Seporsi papeda sudah siap untuk dinikmati.

Karena sagu dalam Papeda itulah, masyarakat Papau jarang terkena diabetes. Laman Merdeka  mengulas, bahwa kandungan serat dalam sagu sangat banyak, lebih banyak dibanding gandum. Karenanya sangat bagus untuk pencernaan dan sangat cocok dikonsumsi oleh para penderita diabetes.

Mengutip Harianpapua, karbohidrat sagu juga lebih baik dibanding karbohidrat nasi. Soalnya lebih kompleks dan lebih lama terurai. Itulah mengapa mengkonsumsi Papeda bisa merasa kenyang lebih lama. Khasiat sagu lainnya, antara lain, menjaga kekuatan tulang dan gigi, melancarkan urinasi, mencegah kanker usus, serta menjaga kesehatan jantung.

Daftar manfaat sagu dijamin masih panjang. Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Ambon menyebutkan, sagu juga bisa mengatasi pengerasan pembuluh darah, mengatasi sakit ulu hati dan mengatasi perut kembung. Juga bisa meningkatkan kekebalan tubuh, mengurangi risiko terkena kanker paru-paru, mengurangi kegemukan dan memperlancar buang air besar.

Profesor Bambang Haryanto kepada Tribunnews mengatakan, sagu memang sumber makanan bermutu. Pati yang dihasilkannya, ujar peneliti sagu Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ini, lebih baik dibanding sumber pangan lainnya. Katanya, kadar gula pada sagu juga paling rendah. Jadi aman dikonsumsi oleh siapapun termasuk penderita kencing manis.

Sekadar ilustrasi, mengutip Sarihusada juga Organisasi, dalam 100 gram sagu terkandung energi sebesar 209 kilokalori, protein 0,3 gram, karbohidrat 51,6 gram, lemak 0,2 gram, kalsium 27 miligram, fosfor 13 miligram, dan zat besi 0,6 miligram. Selain itu sagu juga mengandung Vitamin A, B1, dan C meskipun dalam jumlah sangat sedikit.

Maklumlah sekarang mengapa orang Papua memilih sagu ketimbang padi, jagung, singkong atau gandum. Selain kaya manfaat, sagu atau pohon sagu rupanya juga termasuk pohon bersejarah. Ahli bioteknologi dan agroteknologi Nadirman Haska kepada Antaranews mengatakan bahwa sagu juga lontar, aren dan nyiur dipahatkan dalam relief di Candi Borobudur.

Jangan lupa juga bahwa dari seluruh luas areal tanaman sagu di dunia, 90% di antaranya berada di Indonesia. Sebagian besarnya terdapat di Papua. Karena itulah secara kultural orang Papua mustahil bisa dipisahkan dari sagu juga Papeda. Seperti kata Menteri Yohana Yembesi, orang Papua memang tidak makan nasi, tapi Papeda. (Y. Ahdiat; foto dari Akarnews)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment