October 12, 2016

Evolusi Gerabah Kasongan

Gerabah Kasongan adalah wujud kreativitas berusia ratusan tahun. Gerabah Kasongan menceritakan semangat hidup para pengrajinnya.....

gambar gerabah kasongan
GERABAH adalah spirit kehidupan masyarakat Kasongan, Yogyakarta. Gerabah dan Kasongan ibarat dua sisi dari sekeping mata uang yang sulit dipisahkan. Gerabah dan Kasongan tak ubahnya sebuah potret sosial masyarakat, ibarat sebuah gambar kultural masyarakat.

Gerabah Kasongan adalah sebuah ikon kreativitas kerajinan tanah liat yang sudah berlangsung ratusan tahun. Geliat Kasongan sebagai sentra pengrajin gerabah setidaknya bisa ditelusuri sejak 1675 silam. Kyai Song dianggap sebagai orang yang pertama kali menularkan keterampilan kriya ini.


Salah satu pengikut Pangeran Diponegoro itu memang bukan pengrajin betulan. Ia membuat berbagai perkakas dapur sederhana seperti cowek atau cuwo, sekadar untuk digunakan sehari-hari. Tetapi, sejak itulah rupanya Gerabah Kasongan memulai evolusinya.

Tradisi membuat gerabah warisan Kyai Song, seterusnya makin dikembangkan oleh Mbah Jembuk (1745-1825). Ia menciptakan sejumlah bentuk dan model baru sesuai kebutuhan. Pada masanya Gerabah Kasongan tidak melulu berupa peralatan dapur, tetapi juga beragam hiasan bernilai estetis tinggi.

Mbah Jembuklah yang mengembangkan hiasan dinding dan celengan dengan motif kepala binatang dan buah-buahan. Seiring jaman, produk Gerabah Kasongan juga makin bervariasi. Pada generasi Mbah Josentiko, Mbah Tupon dan Mbah Gimin misalnya, muncul produk jambangan, pengaron, dan klenting.


Sementara pada masa Mbah Rono, Mbah Giyek, dan Mbah Jengkol, sekitar tahun 1805-1890, berkembang gerabah anglo. Berikutnya, pada generasi Mbah Harto dan Mbah Josetomo, sekitar tahun 1925, produk yang dibuat dan dikembangkan adalah pot.

Semula gerabah di Kasongan dibuat dengan cara sederhana, yakni menggunakan teknik tatap pelandas. Pengrajinnya sebagian besar adalah kaum perempuan. Sementara para prianya bertugas mencari bahan baku tanah liat, membakar gerabah, dan memasarkan.

Mulai tahun 1970-an terutama sejak seniman modern Yogyakarta yakni Larasati Suliantoro Soelaiman dan Sapto Hudoyo membagi ilmunya,  Gerabah Kasongan mengalami perkembangan sangat pesat. Bukan hanya dalam soal bentuk, tapi juga pada teknik pembuatan dan pewarnaannya.

Walhasil gerabah karya pengrajin Kasongan makin tampak artistik sekaligus bernilai ekonomi sangat tinggi. Tidak heran bila mulai tahun 1980-an, Gerabah Kasongan menjadi komoditas dagang yang diminati oleh lebih dari 12 pasar di mancanegara. Wilayah Kasongan juga masyhur jadi desa wisata.

Sungguh gerabah adalah media ekspresi seni sekaligus potret geliat ekonomi masyarakat Kasongan. Sementara Kasongan sendiri adalah entitas masyarakat kreatif juga adaptif. Gerabah Kasongan menceritakan secara gamblang spirit kehidupan para pengrajin gerabah itu. (Y. Ahdiat, foto dari Umkmjogja)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment