October 12, 2016

Kasta Tari Gambuh

Drama Tari Gambuh dinilai paling indah dan paling bermutu. Juga sumber inspirasi bagi beragam kesenian lain di Bali.....

gambar drama tari gambuh
"SRI Udayana suka angetoni wang Jawaa mengigal, sira anunggalaken sasolahan Jawa mwang Bali, angabungaken ngaran Gambuh, kala isaka lawangngapit lawang”.

Keterangan dalam Lontar Candra Sengkala itu kurang lebih artinya adalah, “Sri Udayana suka melihat orang-orang Jawa menari, menggabungkan tari Jawa dan Bali yang disebut Gambuh --Drama Tari Gambuh-- pada tahun 929 Saka atau 1007 Masehi”.

Drama Tari Gambuh juga disebutkan dalam Babad Samprangan bahwa, “Puput kedaton ring Samprangan, kedatwanira Dalem Wawu Rawuh, wangun Gambuh paara aryeng Majapahit ring Bali, sunia buta segara bumi”.


Artinya kira-kira, “Setelah selesainya keraton di Samprangan yang merupakan keraton Dalem Wawu Rawuh, disusunlah sebuah Gambuh oleh para arya-arya dari Majapahit yang ada di Bali pada tahun 1350 Saka atau 1428 Masehi”.

Sementara berdasarkan sumber lakonnya, pertunjukan Drama Tari Gambuh itu selalu memainkan cerita Panji atau Malat versi Balinya. Isinya mengisahkan soal kehidupan, peperangan dan romansa para raja di Jenggala dan Kediri.

Mengingat kidung Panji atau Malat baru dikenal di Bali sekitar abad ke-16, boleh jadi drama tari ini juga baru muncul sekitar abad ke-16 atau lebih muda dari itu. Tetapi biarlah perdebatan berbobot sejarah itu dirampungkan oleh ahlinya.

Yang pasti, dalam Overzicht van Dans en Tooneel in Bali, Walter Spies dan R. Goris menyebutkan bahwa Tari Gambuh adalah, ”Oertype van alle tooneel on alle muziek.” Kesenian yang menggabungkan unsur drama, tari, dan musik ini adalah pola dasar dari segala jenis seni pertunjukan dan seni musik yang ada di Bali.

Drama Tari Gambuh, khususnya pada masa Dalem Waturenggong, identik dengan kesenian keraton. Tapi sejak kolonialisme memporakporandakan struktur dan wibawa kerajaan-kerajaan di Bali, drama tari ini akhirnya bisa ditonton pula oleh rakyat kebanyakan.

Biasanya kesenian ini dipentaskan di atas kalangan persegi empat berukuran sepuluh kali enam meter yang dipagari bambu sebagai pembatas antara penari dan penonton.


Dalam konteks budaya Bali, Drama Tari Gambuh ditempatkan sebagai bagian dari upacara Dewa Yadnya, Manusa Yadnya atau Pitra Yadnya. Pada setiap kesempatan ritual itu, drama tari ini diiringi gamelan penggambuhan yang berlaras pelog saih pitu.

Dibanding rebab, kendang, kajar, klenang, ricik, kenyir, gentorang, gumanak dan kangsi, tampaknya suling panjang berbahan bambu merupakan instrumen utamanya.

Struktur penceritaan Drama Tari Gambuh terdiri dari adegan peguneman (pertemuan), pengipuk (romansa), tetangisan (kesedihan), dan pesiat (perang). Sementara penggambaran tokohnya dibagi menjadi karakter halus dan kasar.

Tokoh halus divisualisasikan dengan tubuh langsing, mata kecil, suara tinggi, gerakan luwes, dan berwibawa. Sedangkan tokoh kasar bertubuh kokoh, bertulang besar, suara rendah dan keras, dan gerakan patah-patah.

Tradisinya Drama Tari Gambuh sebetulnya hanya dimainkan penari pria. Namun sekarang kaum wanita juga biasa memerankannya, tentu dengan pakaian yang berbeda. Kostum penari pria di antaranya adalah baju, jaket beludru, setewel, dan saput.

Adapun kostum penari wanita antara lain lamak, ampok-ampok, gelang kana, oncer, sampur, dan sinjang. Karena tak bertopeng, watak para pemain ditegaskan lewat riasan wajah.

Sebagai warisan tradisi keraton, pada dasarnya Drama Tari Gambuh adalah kesenian yang sangat taat aturan. Komposisi musik dan koreografinya misalnya, terkesan rumit.

Kemudian, para tokoh seperti Kakan-kakan, Putri, Arya, Patih Manis, Prabangsa, Demang, Temenggung dan Prabu juga harus berbahasa Jawa Kuno dengan retorika yang sangat baku. Sementara tokoh Turas, Panasar dan Condong hanya diizinkan berbahasa Bali.

Tapi mengutip Adrian Vickers, peneliti budaya Bali, Tari Gambuh tetap saja merupakan seni pertunjukan paling indah dibanding seni teater lain yang ada di Bali. Kesenian ini juga menggambarkan beraneka ide dan bentuk kebudayaan Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Bali. (Y. Ahdiat; foto dari Badungtourism)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment