October 4, 2016

Dewi Nawang Wulan

KERAJAAN Medang Kamulan yang terletak di Jawa Tengah sangat terkenal di seluruh Nusantara karena kesuburannya. Rajanya terkenal sabar dan bijaksana.

gambar dewi nawang wulan
Baginda mempunyai seorang putri yang sangat cantik. Dewi Nawang Wulan namanya. Banyak raja dan pembesar yang menginginkannya, namun belum ada yang berkenan di hati sang putri.

Kabar kecantikan Dewi Nawang Wulan terdengar pula oleh Prabu Adidarma, seorang raja muda yang sakti. Walaupun kabar kecantikan sang putri sudah tersiar kemana-mana, namun Prabu Adidarma sendiri belum pernah melihatnya.

Maka, timbul niat di hatinya untuk menyaksikan langsung kecantikan Dewi Nawang Wulan. Dipanggilnya jin raksasa kepercayaannya melalui suling sakti. Ditiupnya suling sakti itu, lalu muncullah jin raksasa itu untuk mengangkat sang putri dari peraduannya.

Malam hari, ketika Dewi Nawang Wulan sedang nyenyak tidur, ia diangkat oleh jin raksasa dan dibawa ke hadapan Prabu Adidarma. Betapa terkejutnya hati sang putri setelah sadar dari tidurnya dan mengetahui dirinya berada di tempat lain.

Di depannya berdiri satria gagah yang belum pernah dikenalnya dan memperkenalkan dirinya sebagai Prabu Adidarma. Dalam hati Dewi Nawang Wulan sangat marah. "Lancang benar raja ini." Walau hatinya kecut, namun ia berusaha tetap tersenyum.

Prabu Adidarma sangat terpesona melihat kecantikannya. Kaatanya, "Aku bermaksud meminangmu Dewi Nawang Wulan, bagaimana pendapatmu?"

Dewi Nawang Wulan menjawab, "Hamba tidak berkeberatan Tuanku, hanya saja hamba merasa heran bagaimana bisa terjadi hamba sampai di sini?"

Prabu Adidarma tersenyum. Tanpa menaruh curiga diceritakanlah yang dialami oleh Dewi Nawang Wulan serta rahasia suling sakti.

"Bolehkah hamba meminjamnya," kata Dewi Nawang Wulan selanjutnya. Tentu saja ia tidak mengalami kesulitan untuk memperolehnya.

Setelah mendapatkan suling sakti Dewi Nawang Wulan memanggil jin raksasa. Lalu diperintahkan untuk membawa dirinya kembali ke Medang Kamulan. Terperanjat hati Prabu Adidarma mengetahui akal sang putri.

Baginda sangat murka dan merasa sangat tertipu. Kemudian dikenakannya ketopong ajaib. Dalam sekejab Baginda tidak terlihat oleh mata biasa. Baginda menuju istana Medang Kamulan menemui Dewi Nawang Wulan. Prabu Adidarma berteriak-teriak mengancam.

Mendengar ancaman itu Dewi Nawang Wulan merasa takut. Ia mengenal suara itu adalah suara Prabu Adidarma. Maka katanya,"Hamba merasa bersalah Tuan, perkenankanlah hamba sujud di hadapan Paduka."

Mendengar perkataan Dewi Nawang Wulan yang lemah lembut itu, luluhlah murka Baginda. Dilepaskan ketopong ajaib yang dikenakannya. Ucap Dewi Nawangwulan, "Benar-benar Paduka adalah raja sakti. Rahasia apakah gerangan yang membuat paduka dapat menghilang?"

"Ha, ha, ha, ha, ha ... hanya ini yang dapat membuatku tak terlihat olehmu." Paduka tertawa gembira sambil menunjukkan ketopong ajaib di tangannya. Dewi Nawang Wulan menerima ketopong itu lalu dikenakan dikepalanya.

Dalam sekejab Dewi Nawang Wulan tak terlihat oleh Prabu Adidarma. Sambil menghilang ia meniup suling sakti. Jin raksasa itu diperintahkan untuk membawa Prabu Adidarma ke tengah hutan lebat. Perintah itu segera dilaksanakan oleh jin raksasa.

Di tengah hutan belantara, Prabu Adidarma hidup sengsara. Tidak ada makanan yang bisa disantap. Tidur tak menentu dan sewaktu-waktu dapat diserang binatang buas. Makin hari tubuh Baginda makin kurus. Pakaian yang dikenakan sudah tak utuh lagi karena tersentuh onak dan duri.

Pada suatu hari, Baginda menemukan sebuah pohon yang berbuah agak lebat. Tanpa pikir panjang, Baginda menyantap buah yang berwarna hijau. Tidak lama kemudian kepalanya terasa pusing. Baginda kemudian tertidur.

Ketika terjaga dari tidurnya ada suatu perasaan aneh yang menjalar di mukanya. Dirabanya dahi yang merasa gatal. Alangkah terkejut hati Baginda setelah diketahuinya dahinya bertanduk, seperti kerbau.

Hati Baginda amat masygul, memikirkan keadaan dirinya. Tapi karena begitu laparnya, Baginda tak menghiraukan tanduk di kepalanya. Diambilnya lagi buah yang berwarna merah, lalu disantapnya. Rasa lapar hilanglah sudah, namun ada keajaiban yang terjadi. Tanduk kini hilang.

Kini Baginda mengerti bahwa bila memakan buah yang berwarna hijau akan keluar tanduk di kepala, dan bila memakan buah yang berwarna merah akan hilang tanduk itu. Betapa gembira hati Paduka setelah memikirkan hal itu.

Diambilnya buah itu masing-masing yang berwarna merah maupun yang hijau, lalu cepat-cepat mencari jalan keluar dari hutan belantara. Tempat yang dituju yaitu Medang Kamulan.

Sampai di Medang Kamulan, Baginda menemui dayang-dayang istana. Kepada dayang-dayang itu diberikan jambu yang berwarna hijau. "Katakan kepada Tuan Putri bahwa ini hasil kebunku sendiri. "Tanpa menaruh curiga dayang-dayang itu membawa buah yang diberikan Prabu Adidarma.

Dewi Nawang Wulan merasa gembira mendapatkan buah itu, tanpa pikir panjang dimakannya buah yang segar itu. Tak lama kemudian kepalanya terasa pening dan mengantuk.

Ketika Dewi Nawang Wulan terjaga dari tidurnya. Ia terperanjat melihat kenyataan, kepalanya bertanduk. Ia menangis tak henti-hentinya karena menahan malu. Berhari-hari Putri berduka, tak mau makan, maupun minum. Ia mengurung diri dalam kamar. Makin hari badannya makin kurus.

Mendengar putrinya gering, Paduka Raja Medang Kamulan sangat berduka. Dipanggilnya tabib yang pandai untuk mengobati putrinya, namun kesemuanya tak dapat menghilangkan tanduk sang putri.

Lalu Baginda mengumumkan sayembara. "Barangsiapa yang dapat menghilangkan tanduk sang putri hingga pulih keadaannya seperti sediakala, bila wanita akan diangkat sebagai saudara, bila laki-laki akan menjadi suami Dewi Nawang Wulan."

Sejak diumumkan sayembara, berdatangan para cerdik pandai untuk mengobati. Namun, usaha mereka gagal. Dewi Nawang Wulan semakin kurus dan keadaannya sangat menyedihkan. Segera Prabu Adidarma merasa kasihan, lalu mengikuti sayembara. Tidak ada orang yang mengenalinya karena penampilannya yang sangat sederhana.

Tiba di peraduan sang putri, Baginda menyerahkan buah berwarna merah untuk dimakan. Mula-mula ia ragu-ragu. Tetapi karena ingin cepat sembuh maka diturutinya apa perintah tabib yang mengobatinya. Tidak begitu lama, keajaiban terjadi. Tanduk sang putri berangsur hilang. Sang putri sembuh kembali.

Baginda Raja Medang Kamulan merasa sangat berbahagia. Dipanggilnya tabib yang dapat mengobati Dewi Nawang Wulan, lalu sabdanya, "Siapakah sebenarnya engkau Ki Sanak? Kesaktianmu sungguh luar biasa."

Prabu Adidarma tak dapat berbohong. Ia mengaku terus terang. Baginda bertambah gembira karena akan bermenantukan seorang Raja yang sakti.

Mendengar pengakuan Prabu Adidarma, Dewi Nawang Wulan menjadi malu serta merasa bersalah sampai akhir hayatnya. (Sri Sulistyowati, Cerita Rakyat Dari Jawa Tengah)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment