October 24, 2016

Asal-usul Upacara Kasada

gambar asal usul upacara kasada
RARA Anteng dan Jaka Seger sangat bahagia dapat hidup bersama sebagai suami istri. Akan tetapi, kebahagian itu agak terganggu karena Rara Anteng cukup lama tidak juga mengandung.

"Padahal sudah bertahun-tahun kami menikah," keluh Jaka Seger risau. Laki-laki itu lalu sering nampak bermuram durja.

Rara Anteng bukannya tidak memahami penyebab kerisauan suaminya. Ia sendiri sering merasa gundah memikirkan keadaan itu.

"Duh, Dewata, kapankah hari yang membahagiakan itu tiba? Suatu hari, pada saat aku dapat mengabarkan kepada suamiku, bahwa aku sudah mulai mengandung. Tetapi, kapan?" Wanita cantik itu menengadah, memandang langit dengan wajah rusuh.

Akhirnya Rara Anteng dan Jaka Seger membicarakan permasalahan yang mereka hadapi secara terbuka.

"Kita harus melakukan sesuatu supaya keinginan kita terkabul," usul Jaka Seger.

"Ya, aku setuju. Kita memohon kepada Hong Pukulun (Tuhan) dengan lebih bersungguh-sungguh. Apakau kau siap melakukan permohonan dengan cara bersemadi dalam jangka waktu yang lama?" tanya Rara Anteng.

"Apa pun akan kulakukan, asal kita bisa mempunyai keturunan," sahut Jaka Seger mantap.

Sesudah tercapai kesepakatan, pasangan suami istri itu lalu menyucikan diri. Kemudian secara bersama-sama pula mereka bersemadi, mengheningkan cipta, memohon kemurahan Hong Pukulun.

Dalam suasana memohon yang khusyuk itu terungkap pula janji mereka, "Berilah kami keturunan, banyak keturunan! Jika permohonan kami terkabul kami akan rela mengorbankan anak bungsu kami ke kawah Gunung Bromo."

Agaknya permohonan mereka dikabulkan. Buktinya, tak lama sesudah mereka melakukan upacara permohonan dengan sumpah yang berat itu, Rara Anteng mengandung.

"Permohonan kita terkabul, Kanda! Kita akan punya anak!" kata Rara Anteng memberi tahu suaminya dengan wajah berseri-seri. Ketika saatnya tiba Rara Anteng pun melahirkan anaknya yang pertama.

Ternyata pasangan suami-istri itu tidak hanya mempunyai dua atau tiga anak. Akhirnya mereka mempunyai dua puluh lima anak! Anak mereka yang lahir paling akhir diberi nama Raden Kusuma.

Selama itu Rara Anteng dan Jaka Seger seakan-akan lupa sumpah mereka kepada Dewata. Namun, semenjak kelahiran Raden Kusuma, dan Rara Anteng tidak hamil lagi, sumpah itu mulai menganggu pikiran mereka.

Rara Anteng lalu sering nampak muram setiap kai memperhatikan putra bungsunya. Demikian pula Jaka Seger, hatinya tak kalah risau dengan istrinya.

Pada suatu hari, Rara Anteng dan Jaka Seger mendiskusikan masalah sumpah mereka. "Tidak mungkin kita mengorbankan Kusuma," katanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ibu mana yang sampai hati mencemplungkan anaknya ke dalam kawah?"

"Aku mengerti, Dinda. Akan tetapi, jangan lupa kita sudah bersumpah di hadapan Dewata. Kukira kita tidak bisa mengingkarinya begitu saja," sahut suaminya.

"Apakah Kanda tega mengorbankan Kusuma?" tukas Rara Anteng.

"Aku...aku...." Jaka Seger tidak mampu melanjutkan omongannya. Lelaki itu diam termangu. Lama kemudian baru ia berkata, "Sama dengan engkau aku juga tidak tega, akan tetapi aku takut Dewata akan mengutuk kita."

"Aku ada akal. Sebaiknya kita pindah saja. Kita jauhi tempat ini demi keselamatan Raden Kusuma," usul Rara Anteng.

Setelah menimbang-nimbang untung ruginya, mereka benar-benar memutuskan untuk pindah. Tempat tinggal baru yang mereka pilih adalah di lereng Gunung Pananjakan.

Pada hari yang ditentukan, rombongan keluarga besar itu nampak berjalan beriringan menuju Gunung Pananjakan. Mereka membawa peralatan dan perlengkapan seperlunya untuk memulai hidup baru di lereng gunung itu.

Akan tetapi apa yang terjadi?

Belum jauh keluarga besar itu berjalan, sekonyong-konyong perut Gunung Bromo bergemuruh. Kawahnya yang sebelumnya tenang mulai menggelegak. Makin lama semakin dahsyat. Lalu muncullah lidah api dari mulut gunung itu.

Rara Anteng dan keluarganya dicekam ketakutan.

"Dewata murka Dinda, karena kita telah mengingkari sumpah kita," kata Jaka Seger. Suaranya terdengar parau, tercekat.

"Aku tahu," sahut Rara Anteng dengan muka memucat. "Akan tetapi, tak ada pilihan lain. Kita harus terus. Kita harus bergegas, sebelum keadaan makin memburuk." Lalu ia memberi komando kepada putra-putrinya, "Ayo, anak-anak! Cepat! Lari! Lari!"

Keluarga itu berusaha sekuat tenaga menjauhi bencana. Sebuah malapetaka nampaknya akan ditimpakan oleh Gunung Bromo yang seolah-olah murka. Akan tetapi, Dewata lebih berkuasa.

Tiba-tiba lidah api yang berasal dari kawah menjulang ke angkasa. Kemudian, bagaikan sehelai selendang panjang berwarna merah menyala, lidah api itu meliuk dan meliuk. Lalu menyabet tubuh Raden Kusuma.

"Anakku!" jerit Rara Anteng.

Namun, sudah terlambat. Dengan cepat lidah api itu surut kembali ke arah gunung, dan menghilang ke dalam kawah. Raden Kusuma terbawa bersamanya.

Korban yang diincarnya hanya satu, Raden Kusuma, si anak bungsu!

Jerit tangis ibu, ayah dan saudara-saudarinya mengiringi lenyapnya Raden Kusuma ke dalam kawah Gunung Bromo. Namun apa yang bisa mereka lakukan?

Sementara itu, perlahan-lahan kawah Gunung Bromo menjadi tenang kembali. Di tengah suasana hening yang terasa mencekam, terdengarlah suatu-suara gaib. Suara Raden Kusuma…

"Ayah, Ibu, aku telah menjadi korban sumpah kalian kepada Dewata. Akan tetapi, aku tidak menyesal. Aku benar-benar rela menjadi korban demi kebahagiaan kalian. Ayah, Ibu, dan saudara-saudaraku, kudoakan semoga kalian dapat hidup bahagia dan sejahtera. Juga anak cucu kalian.

Namun ada satu pesanku, untuk mengenang peristiwa ini dan pengorbananku, datanglah kalian ke Bromo setahun sekali. Bawalah sesaji.”

Permintaan itu tak diabaikan oleh keluarga Raden Kusuma juga oleh setiap orang Tengger yang menjadi keturunan mereka. Tiap tahun mereka membawa hasil pertanian serta sesajen dan melemparkannya ke kawah Gunung Bromo pada Upacara Kasada. (Dwianto Setyawan, Ceri Rakyat Dari Jawa Timur)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment