October 3, 2016

Rahasia Aksara Kaganga

Aksara Kaganga dipakai masyarakat Bengkulu, Jambi dan Lampung. Sebagian besar naskah kuno yang ditulis dalam Aksara Kaganga belum diteliti.....

gambar aksara kaganga rejang
BAGAIMANA orang Indonesia tempo dulu berkomunikasi? Dalam soal berbahasa khususnya penggunaan aksara, menurut Ulrich Kozok, tulisan-tulisan asli Nusantara dan Asia Tenggara bisa dikelompokan menjadi lima bagian besar.

Cikal-bakalnya, kata penulis buku bertajuk Warisan Leluhur: Sastra Lama dan Aksara Batak ini adalah huruf Palawa dari India. Pertama, aksara Hanacaraka yang berkembang di Jawa, Sunda dan Bali.


Kedua, aksara Batak yang dikenal di Mandailing, Toba, Simalungun, Dairi, Pakpak dan Karo. Ketiga, aksara Sulawesi yang digunakan oleh suku Bugis, Makassar, dan Bima. Keempat, aksara Filipina yang menyebar di Bisaya, Tagalog, Tagbanuwa, dan Mangyan.

Dan kelima adalah Aksara Kaganga yang dipakai oleh masyarakat di Sumatra bagian selatan khususnya di Bengkulu, Jambi, dan Lampung. Orang Rejang menyebut aksara ini sebagai Surat Ulu, sedangkan orang Kerinci menamainya aksara Rencong, adapun orang Lampung mengenalnya sebagai Had Lampung.

Sebutan Aksara Kaganga sendiri dicetuskan oleh Mervyn A. Jaspan, antropolog asal Inggris. Penulis buku Folk Literature of South Sumatra: Redjang Ka-Ga-Nga Texts ini mengacu pada tiga huruf pertama abjad aksara ini yakni: ka, ga, dan nga.

Penamaan itu mengingatkan pada sebutan aksara Hanacaraka yang juga diambil dari lima huruf pertamanya. Cuma lain Kaganga, lain pula Hanacaraka. Sekadar contoh, huruf-huruf Hanacaraka umumnya berupa garis-garis lengkung, sekilas mirip tulisan kaligrafi.

Sementara huruf  Aksara Kaganga berbentuk garis lurus yang ditarik miring dari kiri bawah ke kanan atas, lalu menyudut sampai 45 derajat. Dari bentuknya huruf Kaganga terkesan lebih sederhana.


Secara keseluruhan Aksara Kaganga memiliki 13 tanda baca dan 27 huruf yang berakhiran bunyi vokal ‘a’. Masing-masing huruf itu adalah: ka, ga, nga, ta, da, na, pa, ba, ma, ca, ja, nya, sa, ra, la, ya, wa, ha, mba, ngga, nda, nja, a, mpa, ngka, nta, dan nca.

Tanda baca antara lain berfungsi untuk mengubah bunyi vokal ‘a’ menjadi vokal lainnya, serta menandai perubahan huruf asli menjadi konsonan.

Selain tidak mengenal huruf besar dan kecil, dalam Aksara Kaganga juga tidak ada huruf: f, v, q, dan z. Sebagai jalan keluarnya: ‘f’ dan ‘v’ diganti dengan pa; ‘q’ ditukar dengan ka; sementara ‘x’ dan ‘z’ disalin dengan sa.

Begitulah salah satu contoh kreativitas orang Rejang jaman dahulu. Begitulah cara mereka melokalkan ilmu dan pengetahuan baru, sesuai dengan keadaan dan kebutuhan mereka sendiri.

Melalui bilah-bilah bambu atau gelumpai, rotan, kulit kayu, tanduk, atau batu mereka menuliskan sekaligus menyebarluaskan pokok-pokok hukum adat. Juga hal-ihwal pengobatan, syair-syair doa, rapalan-rapalan mantra, kisah-kisah kejadian, silsilah kekerabatan atau tembo, cerita-cerita rakyat dan sebagainya.

Menurut Sarwit Sarwono, ahli Aksara Kaganga, tercatat lebih dari 300 naskah yang ditulis dalam aksara ini. Dari jumlah itu, mungkin belum separuhnya yang diterjemahkan. Sisanya, karena berbagai sebab, masih bersembunyi di balik tabir.

Jadi rahasia Aksara Kaganga belumlah terungkap seutuhnya. Walhasil riwayat berkomunikasi orang Rejang, Kerinci, Lampung, orang Sumatra dan Indonesia jaman dulu pun belum terkuak selebar-lebarnya. (Y. Ahdiat; foto dari Indonesiatravel)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment