September 29, 2016

Menangkap Ikan Manee

Manee adalah tradisi menangkap ikan pakai janur kelapa. Sebelum Manee mesti digelar ritual adat.....

gambar tradisi manee
SOSOK kedua orang asing itu benar-benar asing. Bentuk fisiknya jauh berbeda dibanding kebanyakan penduduk asli. Sudah itu, keduanya juga punya kelebihan: mampu mengundang banyak ikan dengan cara menggerak-gerakkan dedaunan di dalam air.

Peristiwa yang terjadi pasca gempa besar yang memporakporandakan Pulau Kakorotan di Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara itu diyakini menjadi pemula kisah tradisi manee.

Gelombang tsunami pada 1628 itu menenggelamkan hampir seluruh daratan Pulau Kakorotan sekaligus membaginya menjadi tiga bagian: Kakorotan, Intata dan Malo. Bencana itu hanya menyisakan delapan orang penduduk.


Merekalah yang menurunkan suku-suku Waleuala, Pondo, Melonca dan Parapa yang menghuni Kepulauan Kakorotan-Intata. Mereka jugalah yang diwarisi tradisi manee dari orang asing itu dan mewariskannya kepada para penerusnya.

Sederhanannya tradisi manee diartikan sebagai teknik atau cara menangkap ikan yang dilakukan oleh masyarakat Kakorotan-Intata. Prosesnya terbilang sangat sederhana, jauh dari kesan modern. Tetapi justru di sinilah letak kelebihannya.

Tradisi manee diawali, dilakukan dan diakhiri oleh serangkain prosesi dan ritual adat. Misalnya, tiga sampai enam bulan sebelumnya, tak seorang pun diijinkan mengambil hasil laut dan darat. Barangsiapa berani melanggar larangan selama masa eha ini harus dihukum: diarak keliling kampung sambil dikalungi ikan-ikan atau hasil bumi yang diambilnya.

Larangan ini biasanya berakhir pada Mei atau Juni, bertepatan dengan surutnya air laut. Berakhirnya masa eha ini ditandai dengan digelarnya manee. Secara berurutan prosesinya adalah: maraca pundangi (memotong tali hutan), mangolom parra (permohonan kepada Tuhan), mattuda tampa panecan (menuju lokasi).


Kemudian dilanjutkan dengan mamabiu sammi (membuat alat tangkap dari janur kelapa), mamotou sammi (menebar janur), mamole sammi (menarik janur), manganu ina (mengambil ikan), matahia ina (membagi hasil) dan manarmma alama (makan bersama).

Pada waktunya, dipimpin oleh Ratumbanua (tetua adat), seluruh masyarakat tumpah ruah di bibir pantai. Syaratnya dilarang memakai pakaian merah, jangan ribut, dan tidak boleh mengeluarkan bebunyian.

Masyarakat juga dilarang masuk ke lokasi pelaksanaan upacara manee, dilarang menangkap ikan sebelum Ratumbanua melakukannya, dan tidak dibenarkan membawa pulang ikan sebelum dikumpulkan dan dibagi rata kepada seluruh warga.

Hadirat sepakat dan taat pada aturan adat. Karenanya ritual manee bisa bertahan sampai ratusan tahun. Rangkaian acaranya juga nyaris serupa dari jaman ke jaman. Setelah Ratumbanua merapalkan doa-doa khusus, di tempat yang sudah ditentukan ratusan meter tali yang dililit sedemikian rupa dengan janur kelapa dibentangkan di kedua ujungnya menggunakan perahu.

Seterusnya, secara perlahan bentangan janur itu ditarik menuju lokasi khusus yang juga sudah dipilih sebelum kemudian dibuat bentuk lingkaran yang diameternya bisa sampai satu kilo meter. Walhasil ikan-ikan yang tergiring kemudian berkumpul di dalam lingkaran tersebut.

Pimpinan upacara memulai mengambil ikan. Masyarakat yang hadir menyusul kemudian. Tradisi manee akan berakhir setelah ikan-ikan dibagi-bagikan sambil digelar acara doa dan makan bersama. Tampaknya cuma di Kakorotan-Intata tradisi menangkap ikan secara bergotong-royong dan ramah lingkungan ini bisa ditemukan.

Itulah, antara lain, pelajaran terpenting dari tradisi manee. (Y. Ahdiat; foto dari Kattyliunsanda)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment