September 30, 2016

Seni Mengintip Pengantin

Tari Molapi Saronde merupakan ajang pamer calon pengantin pria. Seni mengintip calon mempelai wanita.....

gambar tari molapi saronde
DETAK jantung para pemuda Gorontalo pada malam mopotilandahu pasti jauh lebih kencang. Sebetulnya kondisi lahir dan batin mereka sehat-sehat saja.

Yang mereka lakukan juga lazim dikerjakan oleh para bujang lain di manapun. Bukankah acara pertunangan adalah peristiwa biasa yang harus dilalui oleh setiap jejaka dan dara yang hendak mengikat janji suci pernikahan?


Benar, secara umum prosesi pernikahannya nyaris sama saja. Tetapi upacara lenggota lo nikah khas Bumi Serambi Madinah memang sangat istimewa, karena mesti sesuai dengan kaidah adat dan selaras dengan syariat Islam.

Sebuah pernikahan, secara bertahap dimulai dari proses mopoloduwo rahasia atau kunjungan keluarga pria ke rumah calon pengantin perempuan. Jika menemukan kecocokan, sesudahnya diadakan tolobalango. Para pemangku adat, para tetua, dan keluarga besar kedua mempelai turut hadir dalam acara pinangan ini.

Melalui pantun-pantun yang indah, Lundthu Dulango Layio (juru bicara keluarga pria) menyampaikan maksudnya kepada Lundthu Dulango Walato (juru bicara keluarga perempuan). Sepaket mahar yang dikemas dalam sebuah kendaraan yang dihias menyerupai perahu atau kola-kola ikut dibawa serta.

Prosesi arak-arakan depito dutu (antar mahar) dari yiladiya mempelai pria menuju rumah mempelai perempuan sangatlah meriah. Diiringi bunyi genderang adat dan rebana, rombongan pengantar mahar melantunkan lagu-lagu tradisional Gorontalo yang berisikan doa-doa keselamatan.


Mopotilandahu merupakan acara berikutnya sesudah depito dutu. Acara di rumah pengantian perempuan ini berlangsung pada malam hari menjelang akad nikah esok harinya. Inilah malam paling mendebarkan bagi kedua mempelai terutama pengantian pria.

Pada malam mopotilandahu, meski cuma selintas, keduanya bisa saling mencuri pandang. Sesuai adat dan agama, sebelumnya mereka memang tak diijinkan bersua apalagi berdua-duaan.

Malam pertunangan ini diawali dengan khataman Al-Quran oleh calon mempelai perempuan. Kemudian tibalah giliran mempelai pria bergantian dengan ayah atau walinya memainkan tari molapi saronde. Atraksi tarian ini dimulai dengan pukulan rebana sebagai pengiring lagu Tulunani.

Tari molapi saronde, secara bahasa berarti memberikan (molapi) selendang (saronde) kepada orang yang harus melanjutkan tarian. Filosofinya adalah molile huali. Selain untuk memperlihatkan kegagahannnya, bagi pengantin pria tarian ini juga menjadi cara untuk mengintip kecantikan calon pendamping hidupnya.

Itulah sebabnya ketika menari ia bisa bergerak bebas ke mana-mana. Ke depan, ke belakang. Ke kiri juga ke kanan. Bahkan calon pengantin pria juga bisa mendekat ke kamar pengantin perempuan.

Dahulu seni tari molapi saronde yang diciptakan oleh Detupuluh, seorang seniman pada masa Sultan Amai menjadi penguasa di Kesultanan Gorontalo, ini hanya dimainkan oleh para bujang dari kalangan bangsawan.

Tetapi batasan itu tampaknya mulai longgar. Meski begitu tari molapi saronde tetap saja terasa romantis. (Y. Ahdiat; foto dari Portalgorontalo)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment