September 22, 2016

Sewaktu Tari Lumense Beraksi

Tari Lumense sangat artistik sekaligus mistis. Ketika Tari Lumense beraksi segala bencana segera sirna.....

ilustrasi tari lumense
WOLIAMPEHALU berhari-hari menghabiskan waktunya dengan bertapa di Gunung Sangia Wita. Dalam tepekurnya, pria asal Tangkeno, Kabaena, Sulawesi Tenggara ini, samar-samar melihat bayangan sekelompok penari.

Mengikuti suara gendang yang ditabuh beberapa pemuda, para penari itu lalu menggerak-gerakkan kaki dan tanganya hingga membentuk formasi tertentu. Pertunjukan tari lumense berakhir ketika mereka menebas-nebas batang pisang di sekitarnya.

Sayup-sayup, Woliampehalu juga mendengar bisikan yang menjelaskan ihwal manfaat gerakan tari tersebut, khususnya bagi masyarakat Tangkeno yang digadang-gadangkan laksana “Negeri di Awan”. Selain itu, Woliampehalu juga dimaklumkan bahwa para penari dan penabuh gendang itu bukanlah manusia biasa. Mereka adalah para utusan yang membawa pesan dari kayangan atau dalam bahasa lokal disebut wawo sangia.


Sepulang dari semedi, Woliampehalu kemudian mempraktikkan apa yang dilihat dan didengarnya itu di sebuah bukit yang dijuluki Tangkeno Mpeolia. Kebetulan ketika itu memang sedang terjadi banyak musibah, dan ia tergerak untuk membantu warganya untuk mengakhiri beragam malapetaka tersebut. Itulah cikal-bakal tari lumense yang diperkirakan sudah berusia lebih dari 700 tahun.


Perihal asal-usul namanya, secara etimologis lumense berasal dari kata lumee yang berarti mengeringkan atau membuang genangan air, serta eense yang maknanya berjingkrak-jingkrak. Mengutip Abdul Madjid Ege, sejak dulu hingga kini, masyarakat Kabaena memang punya kebiasaan selalu membersihkan sumur dengan cara lumee agar sumber air itu terhindar dari pencemaran kotoran dan penyakit.

“Jadi pengertian lumense adalah suatu gerakan tertentu yang bertujuan untuk membersihkan diri dari bencana,” kata Ketua Lembaga Adat Kabaena ini. Maka, lumense bukanlah sekadar seni tari pada lazimnya. Tapi juga media untuk memutus rantai bencana, bisa berupa banjir, tanah longsor, wabah penyakit, kerusuhan sosial dan lainnya. Dalam konteks tari lumense, bencana tersebut dipersonifikasikan dengan batang-batang pisang itu.

Membabat pohon pisang, semakna dengan menyudahi bencana itu. Tentu saja prosesi itu sekadar simbol, sebab restu atas berakhir-tidaknya sebuah malapetaka tetap saja dari Yang Maha Kuasa yang bersemayam di kayangan. Oleh karena itulah, sesuai dengan kepercayaan masyarakat Kabaena jaman dulu, tarian lumense selalu diawali dengan prosesi sesembahan berupa sesaji beraneka jenis.

Dahulu tari lumense juga tidak diajarkan secara khusus seperti saat ini. Begitu gendang ditabuh, beberapa orang yang mendengarnya akan kesurupan. Dengan spontan para penari dadakan yang disebut wolia ini akan bangkit dan berjingkrak-jingkrak mengikuti hentakan irama tetabuhan. Tapi itu dulu, sekarang tari lumense yang dimainkan 12 penari ini sudah dikemas begitu rupa sesuai tuntutan jaman, baik gerak maupun fungsinya.

Salah satunya adalah untuk penyambutan tamu-tamu terhormat. Meski demikian, esensinya tetaplah sama. Atraksi tari lumense jaman kini sesungguhnya juga menyelipkan doa: semoga para tamu yang berkunjung ke Kabaena bisa selamat sampai kembali ke tempat asalnya masing-masing. (Y. Ahdiat; foto dari Kemdikbud)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment