September 21, 2016

Warisan Dari Ujung Kulon

Taman Nasional Ujung Kulon diakui sebagai Natural World Heritage Site. Apa saja warisan dari Ujung Kulon.....?

ilustrasi taman nasional ujung kulon
TAMAN Nasional Ujung Kulon pertama kali diperkenalkan oleh ahli Botani Jerman, F. Junghuhn pada 1846 ketika sedang mengumpulkan tumbuhan tropis.

Letusan Gunung Krakatau pada 1883 yang menghasilkan gelombang tsunami setinggi 15 meter, kemudian memporak-porandakan pemukiman, satwa liar dan vegetasi di Ujung Kulon.

Beruntung setelah letusan itu ekosistem di Ujung Kulon berkembang dengan sangat baik. Sekarang kawasan konservasi alam yang terletak di Kecamatan Sumur dan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Banten ini bahkan sudah dikenal sampai mancanegara.

Buktinya pada 1992 lalu, Komisi Warisan Dunia UNESCO menetapkan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Natural World Heritage Site. Sungguh pengakuan dunia terhadap taman nasional seluas hampir 123 ribu hektar ini sangatlah membanggakan.

Sekadar diketahui, Taman Nasional Ujung Kulon terdiri dari tiga tipe ekosistem. Pertama Ekosistem Dataran/Teresterial berupa hutan hujan tropis di Gunung Honje, Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Peucang dan Pulau Panaitan.

Kedua Ekosistem Perairan Laut di perairan Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Handeuleum, Pulau Peucang dan Pulau Panaitan. Dan yang ketiga Ekosistem Pesisir Pantai berupa hutan pantai dan mangrove khususnya di timur laut Semenanjung Ujung Kulon.

Keragaman tipe ekosistem di Taman Nasional Ujung Kulon itu merupakan tempat subur untuk berkembangnya beragam jenis flora dan fauna. Setidaknya sejauh ini terdapat sekitar 700 jenis tumbuhan di tempat ini.

Beberapa di antaranya seperti Batryohora geniculata, Cleidion spiciflorum, Heritiera percoriacea, dan Knema globularia sudah termasuk tumbuhan langka dan hanya ditemukan di Ujung Kulon.

Sejumlah tumbuhan di Taman Nasional Ujung Kulon juga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan. Misalnya saja Pterospemum javanicum dan Calamus sp (tanaman pertukangan).

Kemudian Aquilaria malaccensis, Michelia campaca dan Areca catechu (tanaman obat-obatan). Selanjutnya Dendrobium sp (taman hias); serta Gnetum gnemon dan Salacca edulis (tanaman pangan).


Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon juga memiliki beragam fauna mulai dari mamalia (35 jenis), primata (5 jenis), burung (240 jenis), reptilia (59 jenis), amphibia (22 jenis), serangga (72 jenis), ikan (142 jenis) dan terumbu karang (33 jenis).

Beberapa jenis satwa endemik penting dan langka adalah Rhinoceros sondaicus (badak jawa), Hylobates moloch (owa jawa), Presbytis aigula (surili) dan Cuon alpinus javanicus (anjing hutan).

Sejauh ini Taman Nasional Ujung Kulon dikenal sebagai habitat satu-satunya yang ada dunia, tempat berkembang-biaknya Badak Jawa. Di kawasan ini diperkirakan terdapat 50-60 ekor badak bercula satu ini.

Tetapi, sekali lagi, bukan cuma hewan inilah yang hidup di taman nasional pertama di Indonesia ini. Bukan hanya badak pula yang membuat Ujung Kulon tersohor sampai mancanegara.

Keragaman tipe eksositem, ratusan jenis tumbuh-tumbuhan, dan ratusan jenis hewan di wilayah inilah yang membuatnya diakui sebagai kawasan konservasi alam dunia.

Itulah Taman Nasional Ujung Kulon.(naskah dari Ujung Kulon; foto dari Wikipedia)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment