September 22, 2016

Isyarat Smong Aceh

Secara bahasa Smong berarti bencana. Mengapa Smong Aceh menjadi penanda petaka.....?

Membaca Isyarat Smong Aceh
RIBUAN kalong terbang tinggi beriringan di angkasa Pulau Simeulue, Nanggroe Aceh Darussalam, Desember 2004 silam.

Seturut instingnya, kemungkinan, koloni kelelawar besar itu hendak pergi jauh demi menemukan tempat baru yang lebih aman dan nyaman. Pemandangan itu bukan lukisan imajinatif, tapi peristiwa nyata adanya.

Bagi kebanyakan orang, boleh jadi migrasi kalong-kalong itu tak punya makna apapun. Fenomena itu dianggap dan diperlakukan sebagai peristiwa alamiah biasa saja. Tapi, beda dengan masyarakat Simeulue.


Mereka menafsirkan bahwa kejadian itu sejatinya adalah salah satu pertanda bahwa marabahaya sudah di depan mata. Fenomena itu adalah sebagian dari isyarat bahwa malapetaka tak lama lagi akan tiba. Kemampuan masyarakat Simeulue membaca tanda-tanda alam ini diwariskan secara turun-temurun.

Sekadar catatan, pulau seluas kurang dari 200 hektar ini pertama kali diterjang amuk gelombang laut pada 1833. Berikutnya, sebuah ensiklopedia Hindia Belanda yang ditulis D.G. Stibbe pada 1909 menceritakan, pada 1907 seluruh pantai barat Simeulue dilanda ombak pasang dahsyat dan menelan banyak korban.

Dikisahkan, ketika itu penduduk Simeulue tengah asyik mengumpulkan ikan sebab air laut surut tiba-tiba. Sayup-sayup terdengar gemerisik daun dan kayu kering yang terbakar. Makin lama, suara itu makin keras dan bergemuruh.

Dalam tempo cepat, gelombang laut pasang setinggi gunung atau smong, lalu mengamuk, menggulung, dan menyeret mereka ke lautan. Beberapa orang dinyatakan selamat. Tapi sebagian besar hanya tinggal nama.

Demi mengingatnya, tragedi itu selalu didongengkan berulang-ulang, atau dinyanyikan sambil diiringi biola, kendang dan rebana.


Cerdasnya yang diceritakan bukan sekadar keganasan smong dan akibat yang ditimbulkannya, melainkan juga gejala-gejala alam yang mendahuluinya, seperti kalong-kalong besar yang bergegas terbang sebelum bencana tsunami pada 2004 lalu itu.

Kata smong sendiri yang diambil dari bahasa Devayan memang berarti bencana dalam konteks yang luas. Bagi orang Simeulue yang asal-usulnya adalah putri cantik bernama Si Melur, smong bukanlah padanan kata tsunami.

Selain berarti gelombang laut besar, kata itu juga searti dengan guntur, angin kencang, badai dan sejenisnya. Termasuk juga kekacauan yang terjadi sebelum datangnya malapetaka.

Dalam praktiknya, ketika malapetaka akan tiba, kata smong akan diteriakan keras-keras oleh seluruh penduduk. Segera, siapapun yang mendengarnya lalu menyelamatkan diri ke tempat-tempat lain yang lebih tinggi.

Berkat tradisi smong Aceh, di antara ribuan korban jiwa akibat bencana tsunami Aceh 2004 lalu, “hanya” tujuh orang penduduk Simeulue yang meninggal. Padahal, Pulau Simeulue letaknya paling dekat dengan pusat gempa.

Tidak heran jika dunia lalu ramai-ramai membicarakan smong Aceh. Yoko Takafuji misalnya, peneliti di Rikkyo University, Jepang, serius meneliti tradisi yang mendapat anugerah Sasakawa Award dari International Strategy For Disaster Reduction (ISDR) ini.

“Tradisi ini (smong Aceh) harus dipelihara terus-menerus dan menjadi contoh bagi dunia luar. Hasil penelitian ini akan menjadi referensi dan akan diadopsi di Jepang,” ujarnya. (Y. Ahdiat; foto dari Aceh Online)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment