September 30, 2016

Sensasi Seruit Lampung

Seruit Lampung aslinya cuma makanan rumahan. Melukiskan karakter khas masyarakat Lampung...?

gambar seruit lampung
SECARA kata, versi Kamus Besar Bahasa Indonesia, seruit adalah sejenis tempuling atau tombak pendek bermata satu yang digunakan untuk menangkap ikan atau kura-kura. Jadi sama sekali tak ada hubungannya dengan jenis makanan.

Cuma, di mana bumi di pijak di situlah langit harus di junjung. Maka tak salah juga jika Seruit Lampung pun punya makna yang berbeda. Pun tak ada yang keliru bila nyeruit ditempatkan dalam konteks yang lebih luas.


Acara makan bersama itu adalah salah satu bentuk dari sekumpulan sifat orang Lampung yakni: Tandani Ulun Lampung, wat Piil-Pusanggiri; Mulia heno sehitung, wat liom khega dikhi; Juluk-Adok kham pegung, Nemui-Nyimah muakhi; Nengah-Nyampur mak ngungkung, Sakai-Sambaian gawi.

Pantun itu berisi lima Falsafah Hidup Ulun Lampung seperti tersurat dalam Kitab Kuntara Raja Niti. Yang pertama, Piil-Pusanggiri, adalah prinsip merasa malu melakukan pekerjaan yang hina menurut aturan agama serta memiliki harga diri.

Kedua, Juluk-Adok, adalah mempunyai kepribadian sesuai dengan gelar adat yang disandangnya. Yang ketiga, orang Lampung Nemui-Nyimah atau saling mengunjungi untuk bersilaturahmi serta hormat dan ramah kepada para tetamu.

Keempat, Nengah-Nyampur, atau aktif dalam pergaulan, bermasyarakat dan tidak individualistis. Dan yang terakhir, Sakai-Sambaian, yakni gemar bergotong-royong dan saling membantu dengan anggota masyarakat lainnya.

Seruit Lampung dan nyeruit sedikitnya merupakan alat untuk berkumpul dan bersilaturahmi. Meminjam pendapat Foster dan Anderson dalam Antropologi Kesehatan, “…makanan (acara makan) memang merupakan kegiatan ekspresif untuk memperkuat kembali hubungan-hubungan sosial, sanksi-sanksi, juga kepercayaan dan agama…”


Sekali lagi Seruit Lampung sebetulnya hanya makanan biasa. Mengutip laman Resep Juara misalnya, bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat kuliner khas Lampung ini adalah: ikan (patin, belida, baung, layis, bisa juga ikan mas atau gurame), kecap, garam, ketumbar, jeruk nipis, terasi udang, cabai, rampai, bawang putih, kunyit, jahe, dan tempoyak.

Ikan yang sudah dibersihkan diolesi bumbu yang terdiri dari bawang putih, garam, kunyit, dan jahe. Setelah dibakar setengah matang, ikan diolesi lagi dengan kecap dan bumbu-bumbu di atas. Sementara, sambalnya terdiri dari campuran cabai merah, cabai kecil, garam, penyedap rasa, rampai, dan terasi bakar yang diulek halus.

Untuk menikmatinya, sambal itu mesti ditambahkan dengan tempoyak yaitu daging buah durian yang sudah diawetkan. Sekadar info, makanan olahan ini menurut Abdullah Bin Abdulkadir Munsyi, dalam Hikayat Abdullah, merupakan makanan khas rumpun bangsa Melayu, baik yang ada di Malaysia maupun di Indonesia khususnya di Sumatera dan Kalimantan.

Sesudah itu, siapkan juga beberapa jenis lalapan seperti daun kemangi, terong bakar, jengkol, petai, dan daun jambu monyet. Sayur-mayur ini kemudian dicampur dan diaduk menjadi satu ke dalam sambal yang sudah disiapkan. Jangan lupa, masukan juga ikan bakarnya. Setelah itu, Seruit Lampung siap disantap.

Tapi ingat, makannya harus berjamaah. Kalau perlu seperti pernah dilakukan oleh masyarakat Lampung pada 2011 lalu. Ketika itu 10.850 orang ramai-ramai makan seruit sekaligus tercatat sebagai rekor MURI. Nyeruit memang harus dilakukan secara bersama-sama. Jika tidak, niscaya akan kehilangan esensinya.

Cita rasa makanan yang merupakan kombinasi dari pulennya nasi panas, gurihnya ikan bakar, pedasnya cabai, sedikit asamnya tempoyak, dan segarnya sayur-sayuran ini akan teras lebih nikmat ketika disantap bersama-sama.

Dengan begitu keguyuban, kerukunan, dan kebersamaan juga bisa terus dibudayakan. Itulah sesungguhnya sensasi Seruit Lampung sesungguhnya. (Y.Ahdiat; foto dari Rimanews)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment