September 22, 2016

Marandang Rendang Padang

Rendang Padang  ternyata bukan sekadar makanan. Rendang Padang adalah simbol budaya musyawarah dan mufakat.....

ilustrasi sejarah rendang padang
TERNYATA rendang Padang bukan hanya urusan lidah, juga bukan cuma perkara perut. Kekayaan kuliner Indonesia ini, sesungguhnya merupakan hasil dari serangkaian proses panjang dan berkesinambungan.

Sejarah rendang ibarat potongan puzzle yang menggenapi khazanah kebudayaan Sumatra Barat. Di dalamnya melibatkan daya cipta, daya rasa, dan daya karsa masyarakat Minangkabau.


Proses panjang sejarah rendang itu, setidaknya bisa dimulai dari abad ke-16 ketika orang-orang Minang meneroka di pantai timur Sumatera hingga Malaka, Malaysia, dan Singapura. Kegiatan membuka kampung baru itu berbilang bulan lamanya.

Itu sebabnya, dalam masa perantauannya, mereka harus membawa bekal makanan yang awet tapi tetap maknyus rasanya. Salah satunya adalah masakan rendang yang berbahan pokok daging itu. Bisa sapi, kerbau, kambing, atau domba.

Secara semantik, rendang atau randang berasal dari kata marandang atau proses memasak dengan cara diaduk terus-terus sampai santan kelapanya mengering.

Marandang itu artinya menihilkan air menjadi nol. Makanya prosesnya dimulai dari membuat gulai, sebelum kemudian menjadi rendang,” ujar Reno Andam Suri, penulis buku Rendang Traveller. Sederhananya, marandang adalah teknik pengawetan makanan ala ranah Minang.

Meski terdengar mudah, dalam praktiknya pekerjaan itu tak bisa disebut gampang. Untuk menghasilkan cita rasa itu, dalam soal ini berlaku filosofi: kurang kacau cik kambingan taklampau kacau bapantingan.

Jadi, bila kurang mengaduk-aduknya (kacau) akan pecah santannya, tetapi kalau terlalu besar apinya (taklampau) akan berlompatan minyaknya (kacau bapantingan). Maka teknik mengaduk dan suhu api harus diperhatikan dengan cermat.


Itulah rupanya rahasia di balik kelezatan makanan rendang yang banyak disebut dalam beberapa karya sastra Melayu klasik, seperti dijumpai dalam Hikayat Amir Hamzah.

Inilah pula tampaknya salah satu teka-teki mengapa rendang Padang yang dalam sumber-sumber tertulis Belanda disebut sebagai ‘makanan yang dihitamkan dan dihanguskan’ ini menjadi sangat terkenal sejagat raya. Beberapa waktu lalu rendang memang dinobatkan sebagai makanan terenak sedunia versi situs CNN.

Tapi sekali lagi, sesuai catatan sejarah rendang itu sendiri, kuliner nusantara ini bukanlah sekadar makanan. Rendang juga sekaligus simbol budaya musyawarah dan mufakat. Keempat empat bahan utamanya adalah perlambang keutuhan masyarakat Minang.

Dagiang (daging) sebagai bahan utama, mewakili niniak mamak (tetua adat) dan bundo kanduang (pepimpin keluarga) yang akan memberikan kemakmuran pada anak kemenakan (anak saudara kandung) dan anak pisang (anak keturunan laki-laki).

Sementara karambia (kelapa) adalah personifikasi dari cadiak pandai (kaum intelektual) yang akan menjaga dan merekatkan kebersamaan antar individu juga antar kelompok dalam masyarakat.

Adapun lado (cabai) melambangkan alim ulama yang tegas dalam mengajarkan syariat agama. Sedangkan para pemasak (bumbu), adalah simbol dari keseluruhan masyarakat Minangkabau.

Jadi, di balik makanan rendang yang banyak menggunakan bumbu ini, rasa dan makna bercampur jadi satu dan saling menguatkan. Begitulah potongan sejarah rendang Padang. (Y. Ahdiat; foto dari Berita Satu)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment