September 25, 2016

Palembang Tempo Dulu

Sejarah Palembang dimulai dari sebuah wanua yang dibangun Dapunta Hyang Srijayanasa. Prasasti Kedukan Bukit menuliskan ceritanya.....

foto sejarah palembang tempo dulu
DUA puluh ribu bala tentara siap siaga menunggu perintah. Di daratan, seribu tiga ratus dua belas orang rakyat sipil siap membantu. Di lautan, dua ratus orang dengan perahu masing-masing juga siap berangkat.

Mereka adalah rombongan yang menyertai peristiwa mangalap siddhayatra. Perjalanan suci yang dilakukan oleh Dapunta Hyang Srijayanasa, pendiri Kerajaan Sriwijaya, ini diakhiri dengan pembangunan wanua di tepian Sungai Musi.


Begitulah catatan awal sejarah Palembang yang ditulis dalam prasasti Kedukan Bukit. Ketika itu Dapunta Hyang dikisahkan membangun kampung baru, yang kelak akan berubah menjadi sebuah kota metropolitan pada masanya. Wanua itu kemudian menjadi pusat politik dan kekuasaan, sentral bisnis dan perdagangan, juga menjadi pusat penyebaran agama Buddha. Wanua itulah yang dikenal sebagai Palembang sekarang.

Sesuai topografinya, kota ini dibelah Sungai Musi yang menjadi muara Sungai Kramasan, Ogan, dan Komering. Di tepian Sungai Musi ini pula, khususnya di sebelah utara, aktivitas Kerajaan Sriwijaya meninggalkan jejak-jejaknya.

Sejumlah situs kuno, artefak, serta sumber sejarah yang telah ditemukan membuktikan bahwa pada masa Sriwijaya, Palembang yang diduga sebagai ibukota kerajaan merupakan sebuah pemukiman yang sangat luas dan besar.

Mengutip Chu Fan Chi dalam Kitab Cha Ju-kua, ibukota San-fo-tsi atau Sriwijaya terletak di tepi sungai. Penduduknya terpencar di luar kota atau tinggal di atas rakit-rakit beratapkan daun alang-alang.

“Jika rajanya keluar, ia naik perahu dilindungi payung sutra dan iringan tentara yang membawa tombak emas. Tentaranya sangat pandai dan tangkas dalam peperangan, baik di air maupun di darat. Keberaniannya tidak ada tandingannya,” ia melaporkan.

Sekadar catatan, merujuk catatan prasasti Telaga Batu, bentuk pemerintahan Sriwijaya adalah kadatuan yang terdiri dari sejumlah mandala atau pemerintahan setingkat provinsi. Kadatuan Sriwijaya ini dipimpin oleh seorang Datu.


Tidak sembarang orang bisa menduduki posisi ini. Hak khusus itu hanya diberikan kepada yuwaraja (putra mahkota), pratiyuwaraja (putra tingkat kedua), atau rajakumara (putra tingkat ketiga).

Seorang Datu membawahi beberapa jabatan. Di antaranya adalah senapati (panglima), nayaka (bendahara), hajipratiaya (tumenggung), dan dandanayaka (hakim).

Jabatan selanjutnya adalah murdhaka (penghulu), tuhanwatakwurah (koordinator perdagangan dan pertukangan), adhyaksa nicayarna (jaksa), kumaramatya (menteri, tetapi bukan kerabat bangsawan), dan para profesional seperti arsitek, juru tulis, kapten kapal, pedagang, pandai besi, tukang cuci, dan hamba sahaya.

Selain sebagai pusat politik dan pemerintahan, Kota Palembang tempo dulu ramai dikunjungi kapal-kapal para pedagang dari Tiongkok, India, Persia, dan Arab.

Mengutip Hsin Tang Shu (sejarah Dinasti Sung), Sriwijaya kala itu sudah mempunyai 14 kota dagang. Di tempat inilah para saudagar dari mancanegara memburu komoditas hasil-hasil bumi Sriwijaya.

Begitulah catatan sejarah Palembang, yang diduga kuat pernah menjadi pusat kadatuan Sriwijaya. Inilah kota yang menurut bahasa Melayu berarti “tempat atau keadaan tanah yang rendah atau terendam”.

Dapunta Hyang adalah pemulanya, sewaktu membangun wanua di tepi Sungai Musi itu. (Y. Ahdiat; foto dari Info Kito)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment