September 26, 2016

Ketika Tifa Papua Ditabuh

Tifa Papua bukan sekadar alat musik pukul. Tifa Papua adalah media pendamai pertikaian.....

gambar tifa papua
DUA pria kakak adik ini ibarat mesin pembunuh. Yang pertama namanya Fraimun, artinya adalah sebuah perkakas perang yang gagangnya sangat mematikan. Kebetulan ia memang pernah menghilangkan nyawa orang lain.

Sementara yang kedua Sarenbeyar namanya. Makna namanya adalah busur yang sudah terpasang anak panah dan siap dilepaskan.

Kedua pria perkasa itu asalnya dari Maryendi. Satu ketika, karena kampung halamannya tenggelam, keduanya harus minggat menyelamatkan diri. Perjalanan mereka baru berhenti setelah menemukan tempat baru yang nyaman dan tenang di Biak Utara, tepatnya di kampung Wampamber.


Di sinilah mereka menetap sekaligus berusaha membangun kehidupan baru yang lebih baik. Keduanya bekerja keras tak kenal sudah. Siang mereka berladang, malam keduanya berburu binatang. Begitu seterusnya.

Sekali waktu pada sebuah malam yang kelam di tengah-tengah hutan yang diam, mereka mendengar suara dari balik pohon besar. Sebab terkendala jangkauan pandang, mereka memutuskan untuk menyelidiki keesokan harinya. Rupanya pohon opsur itu tempat bersarangnya sekawanan lebah madu.

Pohon itu, pikir mereka, boleh juga dijadikan sesuatu. Setelah ditebang mereka memotong bagian pohon terbaik, kira-kira setengah meter panjangnya.

Dengan alat sederhana berupa nibong, sebatang besi yang tajam pada bagian ujungnya, potongan batang kayu itu dikeruk bagian tengahnya hingga berlubang menyerupai pipa besar. Di beberapa bagian permukaan batang kayu itu, mereka juga menambahkan sejumlah hiasan.

Sedikit lagi hasil karya mereka bisa berfungsi. Cuma mereka tak punya lembaran kulit untuk menutup salah satu ujungnya. Sang adik menawarkan jalan keluar. Ia menyuruh kakaknya untuk menguliti sebagian kulit pahanya.


Tapi sang kakak tak sampai hati jika harus menyakiti adik kandungnya sendiri. Akhirnya diputuskan untuk memakai kulit hewan saja. Kebetulan mereka juga menemukan soa-soa alias biawak di pohon opsur itu.

Hei, napiri bo,” begitulah potongan bahasa Biak yang mereka gunakan ketika memanggil soa-soa itu. Tak perlu lama, biawak itu lalu menampakkan kepalanya tanda mengerti.

Seterusnya kedua bersaudara ini menutupi salah satu ujung pipa kayu dengan kulit soa-soa dan mengikatnya kuat-kuat. Lubang yang tertutup kulit ini sekaligus menjadi bagian atas atau bidang pukul Tifa Papua.

Ini cuma salah satu versi cerita rakyat, persisnya versi orang Biak, perihal asal mula Tifa Papua. Soalnya di Papua sendiri ada kisah lain yang menyebutkan bahwa Tifa datangnya dari langit, dari perut bumi, atau dari jelmaan hewan.

Maka boleh jadi masih banyak folklor lain yang menceritakan soal alat musik pukul yang juga dikenal di Maluku dan Nusa Tenggara Timur ini. Tetapi, Tifa Papua sesungguhnya bukan sekadar perangkat musik.

Tifa Papua sejatinya adalah simbol perdamaian bagi masyarakat Papua tempo dulu. Ketika perang antarsuku membuncah, para tetua adat cepat-cepat menabuh alat bebunyian karya cipta dua bersaudara gagah perkasa bernama Fraimun dan Sarenbeyar ini.

Pesannya, memanggil wakil para pihak yang bertikai untuk segera berdamai. Begitulah fungsi asali Tifa Papua. (Y. Ahdiat; foto dari Indonesiakaya)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment