September 22, 2016

Rumah Para Pemuja Marapu

Rumah Adat Sumba bukan sekadar tempat tinggal. Inilah rumah adat para pemuja Marapu.....

gambar rumah adat sumba
ALAM semesta, kata orang Sumba, terdiri dari tiga lapisan. Lapisan pertama sekaligus yang tertinggi adalah langit. Lapisan kedua adalah bumi. Dan yang terakhir adalah lapisan di bawah bumi.

Sebagai penguasa tertinggi, Anatala yang disebut juga Hupu Ima-Hupu Ana atau ibu dan bapak dari segala sesuatu bersemayam di langit. Konsep kosmologi versi agama lokal Marapu ini dimanifestasikan dalam wujud fisik juga tata ruang Rumah Adat Sumba.


Rumah tradisional Sumba sebagian besar dibuat dari bambu dan kayu, serta jerami dan ilalang untuk atapnya. Rumah tanpa paku ini, setiap bagiannya saling dihubungkan dengan pasak-pasak kayu atau bambu serta tali kayu (kalere) atau rotan (uwe).

Seluruh berat rumah bertumpu pada empat tiang utama berupa gelondongan kayu masela, kawisu, lapale atau ulu kataka. Selain itu ada sekitar 36 tiang pendukung yang disebut kambaniru.

Menurut Ririk Windadari dalam Arsitektur Tradisional Sumba, secara struktural Rumah Adat Sumba terbagi menjadi bagian atas (atap), bagian tengah (lantai) serta bagian bawah (pondasi).

Struktur atap atau menara dan loteng di dalamnya melambangkan dunia atas. Kemudian lantai dan ruang utama rumah adalah simbol lapisan kosmologi kedua. Sedangkan pondasi dan kolong rumah adalah manifestasi dunia bawah.

Karena bentuk atapnya mengerucut dan menjulang tinggi, bisa lebih dari 20 meter, rumah adat suku Sumba sering juga disebut uma bokulu atau rumah besar bermenara.

Bagian loteng (uma dana), mengutip Oe. H. Kapita dalam Sumba di Dalam Jangkauan Jaman dipakai untuk menyimpan benda-benda keramat sebagai personifikasi arwah para leluhur atau para marapu dengan hurup “m” kecil, dan menjadi gudang bahan makanan dan bibit tanaman.

Ruang tengah (bei uma) Rumah Adat Sumba merupakan tempat tinggal penghuninya. Di tengah-tengah ruangan ini tampak jelas keempat tiang utama yang menjadi struktur utama rumah adat ini. Masing-masing tiang dilingkari cincin besar dari kayu (labe).

Sekilas bentuknya mengingatkan pada lingga yoni dalam konsepsi Hindu. Labe berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan persembahan atau sesajen.

Tiang kanan depan (parii urat) dianggap paling utama karena dipercaya sebagai tempat arwah pendiri Rumah Adat Sumba. Sementara tiang kanan belakang merupakan kediaman roh-roh leluhur berikutnya.

Dua tiang lainnnya, yakni di sebelah kiri depan dan belakang, ditujukan untuk para leluhur dari pihak perempuan (loka). Karena terletak di dekat dapur, tiang kiri belakang kerap dijuluki sebagai tiang penjaga api.


Dinding ruang tengahnya terbuat dari bilik-bilik bambu. Sementara lantainya dari bilah-bilah batang bambu dengan jarak tertentu. Dengan begitu kotoran bisa langsung jatuh ke kolong rumah. Bagian yang sering disebut kali kabunga ini umumnya untuk menyimpan kayu bakar atau kandang hewan.

Rumah Adat Sumba yang dimiliki oleh klan (kabihu) tertentu, dibangun di sebuah pemukiman (paraingu) yang terletak di atas bukit atau tempat tinggi, dan dipagari batu atau tumbuhan berduri.

Selain rumah, dalam sebuah pemukiman juga terdapat makam dan tugu pemujaan (katoda) di pintu gerbang paraingu, seperti juga ditemui di depan rumah dan di persawahan, sebagai pelindung dari serangan musuh.

Tampaknya banyak hal yang dipertimbangkan sewaktu menata kampung dan mendirikan Rumah Adat Sumba.

Meminjam pendapat A.A. Ray Geria dan I Gusti Ayu Armini dalam Arsitektur Tradisional Rumah Adat Sumba di Waikababak Kabupaten Sumba Barat, arsitektur memang dipengaruhi oleh tempat, iklim, bahan, ilmu pengetahuan, teknologi, pemerintahan, kepercayaan juga tradisi masyarakat.

Dalam konteks itu, bolehlah disimpulkan bahwa Rumah Adat Sumba sesungguhnya bukan sekadar bangunan fisik tempat tinggal.

Rumah tradisional yang terdapat di pulau berjuluk Chendan Island (Pulau Cendana) dan Sandelwood Island (Pulau Kuda) ini merupakan refleksi norma dan ide-ide, adat istiadat dan status sosial, pengelompokkan gender, kelompok kekerabatan dan tentu saja kondisi lungkungan alam sekitarnya.

Masyarakat Sumba, kata Wiwik Windadari, selalu mengaitkan tata ruang dengan fenomena alam. Misalnya menyesuaikan dan menggunakan orientasi yang terkait dengan peredaran matahari, bulan, arah angin, arah gunung-laut, dan sebagainya.

Dalam soal teknis, orang Tana Humba juga menggunakan bentuk-bentuk dasar (archetype) seperti lingkaran, elips, atau segi empat sebagai simbol-simbol kehidupannya.

Rumah orang Sumba di Nusa Tenggara Timur, sungguh tak hanya bernilai artistik tinggi. Di belakangnya terdapat konsep kosmologi versi Marapu.

Rumah Adat Sumba adalah wujud keyakinan para pemulia marapu atau mereka yang sangat menghormati arwah leluhurnya. (Y. Ahdiat; foto dari Tourism NTT)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment