September 20, 2016

Ritual Maccera Tappareng

Ritual Maccera Tappareng adalah tradisi tahunan nelayan Danau Tempe, Sulawesi Selatan. Suka cita atas berkah yang melimpah.....

ilustrasi ritual maccera tappareng
BUNYI lesung yang dipukul-pukul padendang pada ritual maccera tappareng terdengar bertalu-talu di atas perahu yang berputar-putar mengelilingi danau. Bebunyian itu mengiringi rapal-rapal doa yang dipanjatkan oleh pacoa tappareng.

Atas nama masyarakat, selain mengucap syukur, pemimpin upacara itu juga memanjatkan doa kiranya kehidupan mereka selalu diberkahi kebaikan dan kemakmuran sepanjang masa. Sejurus kemudian, aneka sesaji dilarung ke tengah-tengah danau itu.

Begitulah potongan dari ritual maccera tappareng yang digelar oleh masyarakat nelayan yang tinggal di sekitar Danau Tempe, Sulawesi Selatan.


Dari ketinggian, danau yang menyerupai baskom berukuran raksasa itu diapit oleh tiga kabupaten yaitu Wajo, Soppeng, dan Sidrap. Danau inilah yang menjadi sumber kehidupan mereka dari generasi ke generasi. Mereka memang sangat tergantung pada kelestarian danau itu.

Demi maksud itu, sejumlah aturan adat pun ditetapkan. Misalnya, larangan menangkap ikan pada Jumat malam dan siang hari. Secara ekologis, pembatasan ini sebetulnya sebagai pengingat untuk tidak mengeksploitasi alam secara terus-menerus.

Makna lainnya adalah nelayan Danau Tempe menganggap hari itu adalah waktu yang sangat sakral untuk beribadah. Sederhananya, mereka adalah kelompok masyarakat yang sangat religius.

Larangan lainnya, tak diijinkan membawa dua parewa mabbenni atau alat tangkap ikan. Pesannya adalah manfaatkan kebaikan alam secukupnya saja.


Pesan berikutnya, setiap orang punya hak yang sama atas anugerah yang telah diberikan tuhan. Hak itu berlaku bagi siapa saja, tanpa membedakan asal-usul dan status apapun. Si kaya atau si miskin, tetap harus menggunakan satu alat tangkap ketika mencari ikan.

Rambu-rambu adat selanjutnya adalah dilarang berselisih dan menyelesaikan masalah di atas danau, karena bisa berakibat fatal jika terjadi perkelahian dan tidak ada orang yang melerai.

Oleh karena itu tiap masalah harus dituntaskan di darat dengan cara musyawarah dan mengedepankan prinsip sipakatau (saling menyegani), sipakainge (saling menasehati), dan sipakalebbi (saling menghargai).

Sejauh ini, ketentuan-ketentuan adat itu dijalankan dengan sepenuh hati. Di dalamnya termasuk juga ketaatan untuk hanya mencari ikan di zona-zona khusus seperti bungka, palawang cappeang, dan makkajala.

Termasuk juga menjauhi tempat-tempat larangan yang disebut pacco balanda. Berkat ketaatan mematuhi aturan inilah, sampai saat ini, kehidupan nelayan di sekitar Danau Tempe tetap berjalan harmonis, selaras dengan alam.

Ritual maccera tappareng yang digelar tiap tahun ini bisa menjadi buktinya. Pesta suka cita ini merefleksikan keberkahan yang mereka dapatkan.

Ritual maccera tappareng juga menjadi peristiwa sangat tepat untuk saling mengingatkan, bahwa kehidupan manusia mustahil tercerabut dari lingkungan sekitarnya.

Lingkungan yang terjaga, pasti akan membawa kebaikan. Jika sebaliknya, segala bencana pasti akan segera tiba. (Y. Ahdiat; foto dari Sulawesi Parasangangku)

Previous
« Prev Post
Oldest
You are reading the latest post

No comments:

Post a Comment