September 28, 2016

Nyi Roro Kidul

BANYAK versi legenda Nyi Roro Kidul. Di banyak tempat, sampai sekarang, Ratu Laut Selatan ini mendapat perlakuan sangat istimewa. Nyi Roro Kidul alias Dewi Suwido misalnya sering dikait-kaitkan dengan para pembesar di sejumlah kerajaan. Termasuk di Kerajaan Pajajaran.

gambar nyi roro kidul
Konon di Kerajaan Pajajaran Purba bertahtalah seorang raja yang bernama Prabu Mundingsari. Baginda dikenal sebagai raja yang berwajah tampan dan bijaksana dalam pemerintahan, hingga dicintai segenap rakyat Pajajaran.

Prabu Mundingsari sangat gemar pergi berburu dengan diiringi tamtama atau pengawal. Tetapi, hari itu Baginda tersesat dan terpisah dari para pengawalnya ketika memburu seekor kijang. Prabu Mundingsari mencoba mencari pengawalnya.

Tetapi, sesudah menjelajahi rimba itu sampai setengah hari, jejak para pengawal itu belum juga tampak, sehingga Baginda Mundingsari semakin jauh tersesat. Haripun mulai gelap, Baginda bermaksud beristirahat.

Karena lelahnya, baginda Mundingsari tertidur. Dalam keadaan setengah tertidur, tiba-tiba merasa ada seseorang berada di dekatnya. Baginda terkejut dan segera bangun. Di hadapannya telah berdiri seorang gadis yang sangat cantik dan tengah tersenyum kepadanya.

"Hai gadis cantik, siapakah kau....?! tanya Prabu Mundingsari keheranan.

"Hamba adalah cucu dari raja rimba ini. Apakah tuan adalah Raja Mundingsari dari Pajajaran?"

"Ya, aku adalah Raja Mundingsari. Ada apa kiranya ?"

"Tuanku tampaknya tersesat dan terpisah dari para pengawal tuanku. Sudilah kiranya tuanku singgah di istana kakekku sambil beristirahat di sana..."

Karena undangan itu disampaikan dengan ramah dan sopan santun, Baginda Mundingsari tidak dapat menolaknya. Apalagi orang yang mengundangnya adalah seorang gadis yang sangat cantik. Raja Pajajaran itupun mengikuti si gadis cantik itu.

Tak seberapa lama kemudian, sampailah mereka pada istana tempat tinggal gadis itu.

"Ah ... hah .... hah ... hah ... hah...! Prabu Mundingsari, selamat datang di istanaku. Walau tidak seindah istanamu, kuharap kau akan betah tinggal di sini ...!

Cucuku mencintai tuan hingga tiap malam, wajah tuan selalu terbawa mimpi dan bahkan dia jatuh sakit. Soal terpisahmu dari para pengawal, akulah yang mengaturnya...!"

Prabu Mundingsari merasa heran akan kata-kata raja itu. Dia menoleh pada putri cantik itu yang wajahnya tampakmalu-malu.

Karena kecantikan dan kelemahlembutan putri itu, Prabu Mundingsari segera jatuh hati.

"Bagaimana Prabu Mundingsari..?" Apakah kau masih akan menolak, jika cucuku ini kujodohkan denganmu...? tanya raksasa berwajah seram itu.

"Tid..Tidaak, saya tidak berani menolak...?

"Tidak berani..? Hanya karena takut padaku?"

"Bukan... saya memang menyukai ... saya mencintai cucu Tuan..."

"Kalau begitu tunggu apa lagi. Ayo kita langsungkan pesta pernikahannya.”

Kemudian merekapun menikah dan hidup dalam kebahagiaan. Baginda tinggal beberapa lama bersama istrinya di istana dalam rimba itu. Hingga pada suatu hari ...

"Adinda rasanya sudah cukup lama kakanda meninggalkan istana Pajajaran. Aku hendak menjenguk ke sana dan hendak kulihat bagaimana keaadaan rakyatku, " kata Prabu Mundingsari.

"Baiklah, Kakanda! Tetapi sesekali datanglah Kakanda menjenguk hamba," sahut istrinya dengan sedih mendengar niat Prabu Mundingsari, suaminya itu.

Kemudian, Prabu Mundingsari keluar dari istana menuju Pajajaran. Tetapi kali ini Baginda tidak tersesat dan mudah mendapatkan jalan pulang.

Setiba di istana Pajajaran, Baginda disambut dengan isak tangis kegembiraan oleh permaisuri dan seisi istana, karena sudah berbulan-bulan baginda menghilang dalam sebuah perburuan. Kemudian Baginda kembali menduduki tahta Pajajaran dan memerintah sebagaimana sebelumnya.

BERBULAN-bulan kemudian. Pada suatu malam, baginda terjaga dari tidurnya karena mendengar suara tangis bayi.... Baginda Mundingsari segera bangkit, dan mendatangi sumber suara itu. Maka tampak olehnya sebuah buaian dan di dalamnya terdapat seorang bayi yang tengah menangis.

Baginda segera mendukung bayi yang ternyata seorang bayi perempuan. Tiba-tiba muncul seraut wajah yang dikenalnya sebagai wajah istrinya dari istana di tengah rimba.

"Kakanda Mundingsari, bayi itu adalah anak kita! Dia kuserahkan kepada Kakanda untuk kau besarkan di kalangan manusia," kata istrinya itu.

"Di kalangan manusia? Apa maksudmu Adinda?!" tanya Prabu Mundingsari tak mengerti.

"Sebenarnya aku dari kalangan siluman,” sahut istrinya itu.

Baginda Prabu Mundingsari merasa heran dan hanya tertegun sampai beberapa saat. Dia tidak tahu dan tidak menyadari ketika bayangan wajah putri siluman istrinya itu menghilang.

Demikianlah, bayi perempuan itu akhirnya dipelihara di lingkungan istana dan diberi nama Ratna Dewi Suwido. Permaisuri baginda Mundingsari merasa tidak senang akan kehadiran perempun yang kelak dikenal sebagai Nyi Roro Kidul itu Pajajaran. Dia memperlakukannya dengan bengis.

Delapan belas tahun kemudian Dewi Suwido tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik dan sukar dicari tandingannya. Kecantikannya itu terkenal hingga ke negara-negara tetangga. Hal ini semakin membuat tak senang hati sang permaisuri. Apalagi, putrinya tidak secantik Dewi Suwido.

Sementara itu sudah banyak lamaran dari para pangeran yang bermaksud mempersunting Dewi Suwido. Hati permaisuri semakin geram. Oleh sebab itu, timbul maksud jahatnya untuk menyingkirkan Dewi Suwido dari istana.

Dalam mewujudkan maksud jahatnya itu, permaisuri dan putrinya segera mendatangi seorang ahli tenung yang terkenal pandai.

"Ingat ya! Bikin wajah gadis itu jadi jelek, sekujur tubuhnya harus nampak menjijikkan sehingga tidak ada lagi orang yang mau melamarnya," kata Permaisuri.

"Ah…tuan permaisuri tidak perlu khawatir! Hal itu bukan pekerjaan sukar bagi hamba, tapi ...." kata dukun tenung.

"Tapi apa?"

"Hamba harus mendapat imbalan yang pantas!"

Tanpa bicara permaisuri mengeluarkan sekantong uang logam dan menjatuhkannya di depan sang dukun.

"Ingat...aku inginkan wajah gadis itu rusak. Hingga tak seorangpun sudi memandanginya!" pesan sang permaisuri.

"Ya, tapi saya juga masih minta bantuan Tuan Putri..."

"Apa lagi ...?"

"Tuan putri harus meletakkan kemenyan ini di bawah tempat tidur Dewi Suwido."

"Tidak masalah...mana kemenyannya.."

Sang dukun mengambil kemenyan, setelah diberi mantra, ia serahkan kepada permaisuri.

Secepatnya permaisuri kembali ke istana, sementara tukang tenung itu segera melaksanakan permintaan permaisuri. Pada malam harinya, dia mulai melancarkan serangan ilmu hitamnya pada Dewi Suwido.

Tengah malam Dewi Suwido terlelap tidur, tapi sebentar-sebentar ia terbangun dengan wajah gerah. Seluruh tubuhnya terasa panas. Menjelang pagi barulah panas di tubuhnya hilang dan ia mulai bisa tidur nyenyak lagi.

Keesokan harinya, Dewi Suwido bangun dari tidurnya dan merasa tidak enak di sekujur badannya.

"Ah, kepalaku terasa berat. Kulit wajahku pun terasa tebal.”

Karena merasa ada kelainan pada wajahnya, gadis itu berkaca. Dia sangat terkejut melihat wajahnya dalam kaca yang kini telah berubah menjadi buruk.

"Ah ..... apakah .... apakah yang berada di dalam cermin itu adalah wajahku? Mengapa jadi demikian?"

Ketika menyadari bahwa wajah yang berada di cermin itu memang betul wajahnya, hati Dewi Suwido jadi hancur ! Dia menangis terus menerus. Kecantikannya sama sekali sudah tidak tersisa.

Berhari-hari gadis itu mengurung diri di kamar, dan tidak mau menjumpai orang. Tetapi, atas pemberitahuan sang permaisuri, Prabu Mundingsari akhirnya tahu kalau Dewi Suwido mengidap penyakit yang berbahaya.

"Gusti Prabu, apakah Paduka tidak merasa heran mengapa sekian lama Dewi Suwido tidak keluar dari kamarnya?" Permaisuri mulai melancarkan siasatnya.

"Ya benar... sudah seminggu lebih aku tidak melihatnya."

"Gusti Prabu mestinya sadar... dia itu bukanlah wanita biasa...!

"Apa maksudmu istriku...?

"Saya tidak berani menduga yang bukan-bukan. Tapi kalau Paduka melihat wajahnya ... kiranya tepat jika Dewi Suwido disebut siluman."

"Jangan mengada-ada istriku..."

"Kalau Paduka tidak percaya, silakan panggil saja anak itu?"

Sang Raja kemudian memerintahkan Dewi Suwido untuk menghadap ke balairung istana.

Ketika Dewi Suwido datang menghadap, Prabu Mundingsari terkejut melihatnya. "Anakku, apa yang telah terjadi denganmu...?

"Ampun Rama Prabu... hamba tidak mengerti... tahu-tahu hamba sudah dalam keadaan seperti ini. Hamba malu untuk keluar kamar."

"Ah, .... kau mengidap penyakit lepra anakku. Penyakit itu adalah salah satu penyakit berbahaya. Ayahanda merasa menyesal sekali. Tetapi apa boleh buat, kau akan kuasingkan dari istana,” kata Prabu Mundingsari.

“Ya, tepat sekali tindakan Gusti Prabu," sahut permaisuri. "Supaya seisi istana tidak tertular."

"Hambaaaa...hamba tidak punya siapa-siapa lagi... hamba mau dibuang ke mana?"

"Kau harus menyepi hidup di pinggir hutan...." sahut sang Permaisuri.

"Rama Prabu...setega itukah hati Ramanda Prabu pada anak sendiri?" protes Dewi Suwido.

"Maafkan aku anakku, jika kua sudah sembuh, kau boleh kembali ke istana ini."

Hati Dewi Suwido semakin remuk ketika ayah kandungnya sendiri bermaksud menyingkirkan dan tidak mau berdekatan dengan dirinya. Baginda Mundingsari segera memerintahkan beberapa orang pengawal mengantarkan Dewi Suwido ke dalam rimba.

Dewi Suwido diangkut sebuah kereta kuda, hanya dibekali dengan makanan dan pakaian secukupnya. Setiba di tepi rimba, para pengawal tidak mau mengantarkannya lebih jauh. Dengan hati pilu gadis itu melanjutkan perjalanan ke dalam rimba seorang diri. Dia masih belum tahu hendak menuju ke mana....

Akhirnya Dewi Suwido tiba di gunung Kombang. Kemudian dia bertapa di sana dan memohon pada para dewa agar wajahnya dikembalikan sebagaimana sebelumnya.

Bertahun-tahun dia melakukan tapa, tetapi wajahnya bahkan semakin rusak.

Buyarlah semua harapannya untuk kembali ke istana, karena wajahnya yang cantik dan kulitnya yang mulus telah rusak semua.

"Mengapa...Mengapa aku harus menerima nasib seperti ini? Apa salahku? Apa dosaku?" Ia mulai menggugat para Dewa.

Tetapi, pada suatu hari, dia mendengar sebuah suara…

"Dewi Suwido…Kalau kau ingin wajahmu kembali seperti semula, berangkatlah ke selatan. Kau harus masuk ke laut selatan dan bersatu dengannya.... Dan tak usah kembali dalam pergaulan manusia."

Setelah mendengar suara itu, Dewi Suwido segera berangkat ke arah selatan seperti yang diperintahkan. Berhari-hari kemudian, tibalah dia di pantai selatan. Gadis itu merasa ngeri berada di tebing pantai yang curam dan tajam itu.

Tetapi dia percaya akan kata-kata yang didengar dalam tapanya itu, yang dipercaya sebagai petunjuk dari para dewa. Dengan penuh kepercayaan pula Dewi Suwido terjun ke laut dari tebing yang curam.

Setelah muncul kembali dari dalam air laut, segala penyakit yang menempel pada tubuh Dewi Suwido hilang. Kecantikan Dewi Suwido alias Nyi Roro Kidul kembali pada keadaannya semula, bahkan lebih cantik. (Yustitia Angelia, Dongeng Putri Salju)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment