September 28, 2016

Menumbai Madu Sialang

Menumbai madu Sialang adalah cara memetik madu khas Petalangan. Sayang kepungan rimbanya makin menciut.....

gambar menumbai madu sialang petalangan
SEWAKTU menumbai madu sialang ditabalkan sebagai warisan budaya takbenda, jadilah teringat lagi perikehidupan kelompok masyarakat adat Melayu Petalangan di Pelalawan, Riau sana.

Misalnya, bagaimana mereka mentaati hukum-hukum adat setempat. Bagaimana pula cara mereka memuliakan alam sekitarnya.

Seturut hukum adat, orang Petalangan mengenal tiga jenis kepungan atau hutan adat. Pertama, rimba peladangan, sebagai tempat bercocok tanam.


Lalu, rimba simpanan, hutan penghasil kayu dan lainnya. Atas seizin kepala suku, mereka bisa memanfaatkan kekayaan alam ini. Syaratnya: tebas tidak merusak, tebang tidak membinasakan. Terakhir, rimba kepungan sialang, hutan yang ditumbuhi pohon sialang tempat bersarangnya lebah penghasil madu.

Setiap kepungan dimiliki, dikelola dan dimanfaatkan oleh suku berbeda. Hasil menumbai madu sialang contohnya, diberikan kepada sang juagan sebagai pemanen madu sebanyak 40%, suku pengelola hutan 40%, dan kepala suku, pemuka adat serta tukang sambut 20%.

Jika sang juagan berasal dari suku pengelola rimba, jatahnya 20% saja. Sementara suku pemilik rimba kebagian 60%. Kelompok terakhir persentasenya sama, 20%. 

Posisi sang juagan atau dukun lebah ini tampaknya memang sangat penting. Selain sebagai ketua kelompok, ia juga bertanggungjawab atas kesuksesan seluruh kegiatan menumbai madu sialang. Makanya sang juagan harus punya banyak kelebihan.

Misalnya, ia mesti bisa berkomunikasi dengan lebah, atau dengan makhluk lain penghuni hutan. Caranya, sepanjang proses menumbai madu ia merapalkan mantra dan doa tak henti-henti.


Ketika di pangkal (banir) pohon sialang yang diameternya bisa lebih dari semester contohnya, ia bermohon keselamatan pada Yang Kuasa, sekalian minta ijin pada lebah untuk mengambil madunya.

Jika lebah sudah berbunyi, itu pertanda para pemanjat atau juagan mudo sudah diijinkan naik ke pohon sialang yang tingginya mencapai puluhan meter, sambil membawa obor (tunam) dari sabut kelapa yang menyala-nyala, serta wadah penampung madu (timbo).

Para pemanjat terus merangsek mendekati sarang lebah madu. Pada jarak yang tepat, mereka mengibaskan tunam beberapa kali, sebelum kemudian menjatuhkannya ke tanah. Seketika, kawanan lebah menyerbu nyala api yang meluncur ke dasar.

Pada saat inilah, dengat cekatan para juagan mudo menumbai madu sialang secepat-cepatnya ke dalam timbo, dan segera pula memberikannya kepada tukang sambut yang menunggu di bawah.

Sampai para pemanjat turun semuanya, juagan tuo terus-menerus membacakan doanya hingga bagian pamungkas. Kurang lebih isinya, “Kiranya di tahun-tahun mendatang lebah-lebah yang bersarang di pohon sialang akan terus menghasilkan madu yang lebih banyak dan lebih manis.”

Sampai di sini, selesailah sudah prosesi menumbai madu sialang yang dilakukan pada malam hari, sehingga lebah tak cepat mati dan tidak berhenti memproduksi madu.

Sayangnya, kabarnya, saat ini luasan rimba kepungan sialang terus menciut sehingga hasil madunya juga makin menurun. Kabarnya pula, kualitas madunya juga tak lagi bening dan manis, tapi keruh dan pahit. 

Penyebabnya, sebetulnya, tak begitu sulit ditelusuri. Tapi sudahlah. Penobatan menumbai madu sialang Petalangan sebagai warisan budaya takbenda, mestinya menyadarkan kita untuk tidak menjadikan tradisi ini sekadar memori masa lalu. (Y. Ahdiat, foto dari Wandirana)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment