September 28, 2016

Ilmu Kebal Debus Banten

Seni Debus semula berkembang di kalangan pesantren. Inilah ilmu kebal khas Banten.....

gambar kesenian debus banten
SEPASUKAN penjajah dengan wajah beringas siap memuntahkan amarahnya. Pistol dan dan bedil sudah dikokang dan siap ditembakan. Sangkur dan pedang sudah dihunus dan siap ditebaskan. Bola-bola geranat juga tinggal diledakan.

Menurut hitungan nalar, mustahil bisa berhadapan muka apalagi mampu memukul mundur mereka dari arena perang. Tetapi sejarah telah menuliskan, para pendahulu negeri ini punya cara-cara khusus untuk mengadu nyali dengan para agresor itu.


Sultan Ageng Tirtayasa misalnya, memanfaatkan kesenian Debus Banten untuk membakar semangat rakyatnya. Ia mentransfer keterampilan gabungan seni olah fisik, seni olah batin plus seni olah suara itu kepada para pejuang Banten. Hasilnya para penjajah lari tunggang-langgang. 

Pasti bukan hanya karena ilmu debus, Banten bisa berjaya ketika itu. Tetapi, tak bisa dipungkiri pula, sampai kini debus dan Banten ibarat dua sisi dari sekeping mata uang. Boleh jadi hal ini terkait dengan sejarah kesenian debus Banten yang amat panjang.

Seni bela diri yang berintikan kekebalan tubuh seseorang dari segala senjata tajam dan api ini, diduga mulai dikenal pada abad ke-16. Kira-kira ketika Sultan Maulana Hasanuddin menjadi penguasa Kesultanan Banten yang berpusat di Keraton Surosowan.

Secara bahasa 'debus' itu berasal dari bahasa Arab 'dabbas'. Menukil Imron Arifn dalam Debus: Ilmu Kekebalan dan Kesaktian dalam Tarekat Rifaiyah, kata  'dabbas'  itu artinya adalah jarum atau alat tusuk.

Atraksi Debus Banten memang kerap menggunakan alat-alat yang ditusukan ke pipi, leher, dada, tangan maupun perut. Lebih jauh Imron menjelaskan bahwa ilmu debus punya kaitan erat dengan tarekat Rifaiyah yang dinisbatkan kepada Syaikh Ahmad Rifai Al-Baghdady.


Di Indonesia aliran tarekat ini antara lain berkembang di Aceh dengan tokohnya Syaikh Nuruddin Ar-Raniri, lalu kemudian menyebar ke Banten.

Seperti ditulis Martin Van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, di Banten memang berkembang pesat sejumlah aliran tarekat termasuk Rifaiyah, Qodariyah, dan Naqsabadiyah, yang diajarkan di pondok-pondok pesantren.

Maka masuk akal jika pada awalnya kesenian Debus Banten lebih dikenal di kalangan para santri. Kesenian ini merupakan salah satu cara mereka untuk merasakan kemahakuasaan Allah SWT.

Fakta ini selaras dengan pendapat sejarawan Kuntowijoyo dalam Budaya dan Masyarakat. Menurutnya bentuk kesenian bela diri yang kadang-kadang disertai dengan kepandaian magis memang merupakan bagian dari budaya pesantren.

Sekarang permainan Debus Banten bukan semata menjadi keterampilan para santri, tapi juga menjadi keahlian orang kebanyakan. Ilmu kekebalan tubuh ini juga bukan hanya dimainkan para pengikut tarikat Rifaiyah.

Kesenian Debus Banten juga tidak lagi hanya dipamerkan oleh kaum lelaki, tetapi dipertontonkan pula oleh para hawa. Selain itu debus juga tidak sekadar menjadi media dakwah atau alat perjuangan melawan ketidakadilan.

Kesenian tradisional ini juga meretas di sejumlah pentas-pentas moderen dengan tujuan yang bermacam-macam. Hanya saja, Debus Banten tetap identik sebagai ilmu kebal. (Y. Ahdiat; foto dari Kebudayaanindonesia)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment