September 27, 2016

Hukum Adat Kalosara

Kalosara adalah hukum adat orang Tolaki. Siapa melanggar Kalosara siap-siap kena hukuman.....

gambar kalosara orang tolaki
WABAH penyakit mematikan, pada sebuah masa, menghantui tanah Konawe dan Mekongga. Sebab tak kuasa lagi mengatasi musibah itu, para tetua adat minta bantuan pihak kerajaan.

Raja Luwu kemudian mengutus Watandiabe ke Konawe dan Larumbalangi ke Mekongga. Dengan segenap kemampuannya, keduanya berhasil memulihkan keadaan seperti sedia kala.

Watandiabe yang juga dikenal sebagai Wekoila, menurut cerita rakyat, selanjutnya mendapat tugas baru untuk menyatukan kerajaan-kerajaan kecil yang ada di sekitar Konawe.


Amanah ini bukan perkara sepele sebenarnya. Namun, sekali lagi, ia mampu menunaikan tugas itu dengan sangat baik. Atas jasa-jasanya Watandiabe akhirnya ditabalkan menjadi Mokole Konawe. Pengukuhannya sebagai raja ditandai dengan Kalosara, simbol hukum adat orang Tolaki, Sulawesi Tenggara.

Secara harfiah 'kalo' punya tiga makna: suatu benda berbentuk lingkaran; cara mengikat yang melingkar; dan pertemuan bersama sambil duduk membentuk lingkaran. Sebagai benda melingkar, kalo biasanya dibuat dari rotan, bisa juga emas, besi, perak, benang, kain putih, akar, daun pandan, bambu dan sebagainya.

Lain bahannya, lain pula sebutan dan kegunaannya. Misalnya, ada kalo eno-eno (emas), kalo kale-kale (benang), atau kalo parado (kulit kerbau).

Kalosara sendiri terdiri dari tiga bagian: lilitan tiga batang rotan yang melingkar; lembaran kain putih; dan siwoleuwa atau anyaman daun pandan berbentuk persegi empat.

Yang unik, jika berdiri sendiri setiap bagian itu tak ubahnya benda lain pada galibnya. Namun lain ceritanya bila di atas siwoleuwa digelar kain putih sebagai alas untuk meletakkan kalo berbahan lilitan rotan. Tiga kesatuan benda profan itu sudah berubah sifat sekaligus fungsinya.


Dalam konteks kebudayaan Tolaki Kalosara memang punya posisi paling penting. Ia menjadi landasan falsafah hidup yang terangkum dalam sejenis sumpah: medulu mbenao (satu jiwa); medulu mbonaa (satu pendirian); dan medulu mboehe (satu cita-cita).

Bagi orang Tolaki yang menisbatkan dirinya sebagai Tolahianga (orang yang datang dari langit), rujukan dari segala hukum adat itu secara umum terdiri dari lima kelompok besar. Pertama, sara wonua (hukum adat dalam pemerintahan). Kedua, sara mbedulu (hukum adat dalam hubungan kekeluargaan).

Ketiga, sara mbe’ombu (hukum adat dalam aktivitas keagamaan). Keempat, sara mandarahia (hukum adat dalam pekerjaan dengan keahlian dan keterampilan). Kelima, sara monda’u, mombopaho, mombakani, melambu, dumahu, meoti-oti, (hukum adat dalam berladang, berkebun, beternak, berburu, dan menangkap ikan).

Bagi orang Tolaki nyaris tak ada ruang hidup dan masalah yang tak dapat diselesaikan lewat Kalosara. Prinsipnya, baik atau buruknya seseorang sangat tergantung pada sesuai atau tidaknya sikap dan perilaku orang dimaksud dengan norma-norma adat yang berlaku.

Dan melestarikan Kalosara searti dengan berusaha menjadi orang baik serta menjadikan kehidupan yang lebih aman dan damai. Inae kosara iee nggopinesara. Inae lia sara iee nggopinekasara. Siapa yang tahu adat, ia akan dihargai dan dihormati.

Sebaliknya, siapa yang melanggar adat Kalosara ia akan dikasari atau mendapat hukuman. Begitulah wanti-wanti orang Tolaki. (Y. Ahdiat; foto dari Remahnasi)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment