September 29, 2016

Siklus Bolu Delapan Jam

Bolu Delapan Jam identik dengan Palembang juga Sumatera Selatan. Hubungan kue ini dengan siklus hidup manusia.....?

gambar bolu delapan jam
SEJAUH ini belum ada yang bisa memastikan sejak kapan kue bolu jenis ini mulai dikenal? Pun belum diketahui juga siapa gerangan yang memberikan nama itu.

Hanya saja, mengutip laman Kebudayaan kue ini bersama dengan lapis puan, ager, dadar jiwo, engkak ketan dan lainnya rupanya terbilang istimewa. Makanan ini sering disuguhkan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I kepada para bangsawan dan tamu-tamu kesultanan.


Merujuk pada keterangan tersebut, bisa diduga Bolu Delapan Jam boleh jadi sangat populer sewaktu Sultan Palembang IV itu berkuasa. Kemungkinan besar juga, dahulu kuliner ini tak bakal bisa ditemukan di sembarang tempat. Makanan ini memang punya kasta terpandang, makanya tidak dikonsumsi oleh orang kebanyakan. Oleh karenanya riwayat persis kue delapan jam ini masih harus ditelisik lebih jauh lagi.

Yang sudah sama-sama dimaklumi oleh masyarakat umum, dalam proses pembuatannya penganan khas Palembang ini harus dikukus selama delapan jam. Tidak boleh kurang, juga tidak boleh lebih. Mengapa bisa begitu? “Bila kurang, bolunya tidak kenyal, kalau kelebihan bolunya akan terlalu padat,” begitu keterangan dalam cerpen Bolu Delapan Jam karangan Guntur Alam yang dimuat Kompas, Agustus 2015 lalu.

Logikanya sebenarnya sederhana saja. Lamanya proses memasak atau mengukus Bolu Delapan Jam memang disesuaikan dengan bahan mentahnya yaitu telur, gula, dan susu. Dalam waktu delapan jam bahan tersebut akan mengental membentuk karamel sementara telurnya menjadi padat. Jadi, keterangan waktu di belakang nama kue ini rupanya berkaitan dengan soal kualitas.


Seperti ditulis dalam blog Cara Buat Resep dan Resep Masakan Kreatif, bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat kue Bolu Delapan Jam adalah: 22 butir telur bebek, 2 butir telur ayam, 1 kaleng susu kental manis, 50 gram margarin, 420 gram gula pasir, 2 sendok makan tepung terigu, dan 1,5 sendok teh vanili. Tapi dalam blog Lezat, Aneka Rasa, atau Femina, bolu ini rupanya bisa juga hanya menggunakan telur ayam. Tergantung selera.

Telur-telur itu mesti dikocok dan dicampur dengan gula pasir, tetapi jangan sampai mengembang. Setelah disaring, satu per satu tuangkan susu kental manis, tepung terigu dan vanili. Jangan lupa sambil diaduk sampai rata. Terakhir masukkan margarin cair juga sambil diaduk. Adonan yang sudah siap, selanjutnya dituangkan ke dalam loyang persegi ukuran 20×20 cm, selanjutnya kukus selama delapan jam. Tunggu sampai matang dan siap disantap.

Sesederhana itulah sebenarnya cara membuatnya. Tetapi soal rasa dan mutunya, bagaimana? Masing-masing pasti punya ukuran. Cerpen Bolu Delapan Jam misalnya menyebutkan, selain bahan pokok lainnya, jumlah telur yang diperlukan untuk membuat Bolu Delapan Jam adalah 2 butir telur ayam dan 22 butir telur bebek. Cuma dalam praktiknya, tokoh “Ibu” hanya menggunakan 20 telur bebek.

Hasilnya adalah, "…..bolu delapan jam yang rapuh, putih, cantik tapi mudah hancur," katanya, menjelaskan. "Dua puluh butir memang pas. Kombinasi yang matang. Sedang. Mengkal. Begitu enak dikunyah. Terasa legit….Bila dua puluh dua butir telur bebek, bolunya terlalu padat," ia menambahkan.

Karena proses pembuatannya yang relatif lama, bolu ini tidak dijadikan makanan sehari-hari. Biasanya bolu lapan jam baru ditemukan pada waktu perayaan-perayaan tertentu seperti pesta pernikahan, sunatan, atau pada hari-hari besar keagamaan seperti Idul Fitri dan lainnya. Untungnya, belakangan mulai banyak para penjual kue ini. Jadi kapan saja kita bisa merasakan kelezatannya.

Sekalian merenungkan pula pesan tersirat di balik nama Bolu Delapan Jam ini. Bahwa delapan jam ternyata bukan sekadar perkara teknis pengukusan. Delapan jam adalah semacam simbol, sejenis tamsil, seperti amsal dari aktivitas rutin setiap kita sehari semalam. Secara rata-rata, tiap manusia menghabiskan waktu 8 jam untuk tidur, 8 jam untuk beribadah, dan 8 jam untuk mencari nafkah.

Begitulah siklus hidup harian yang ideal. Selain cita rasa yang tiada duanya, Bolu Delapan Jam yang dulu hanya dikenal di dalam tembok istana, memang mengingatkan setiap kita untuk memiliki pola hidup yang teratur dan seimbang. Dengan begitu kesehatan fisik, mental, dan spiritual kita akan tetap terjaga. (Y. Ahdiat; foto dari Kue Khas Palembang)

Previous
« Prev Post

No comments:

Post a Comment